bie with you
  • Home
  • About
  • Prosa
  • Puisi
  • Beropini
  • Kisah
  • Letters

Ada semacam senyap yang tidak bisa dijelaskan oleh suara. Ia hadir tidak tiba-tiba, tapi juga tak pernah benar-benar dinanti. Seperti kabut yang turun perlahan, membungkus pohon-pohon tua, membuat kita kehilangan arah meski tetap di jalan yang sama. 

Aku masih berjalan. Langkahku mungkin tak sekuat dulu, tapi tetap melaju—tanpa perlu tahu ke mana tujuan akhir, asalkan tidak lagi berputar di tempat yang sama. Di suatu tempat di masa lalu, ada bangku kosong di bawah pohon rindang. Pernah ada dua cangkir di sana, satu dengan uap yang hilang terlalu cepat. Sejak hari itu, aku terbiasa memesan satu saja.

Kadang aku merasa ada mata yang tetap memperhatikan dari kejauhan, dan aku tak menoleh, bukan karena tak tahu… tapi karena tahu terlalu banyak. Ada rasa yang tak bisa lagi diberi nama, tapi masih sering duduk diam di ujung malam—menyebut doa tanpa suara, menyelip harap yang tak perlu pulang.

Kau tak akan sadar, tapi aku tetap berdiri di tepi jalurmu, bukan untuk menghentikan, bukan juga untuk menjemput. Aku hanya ingin tahu, apakah angin masih menyentuhmu dengan cara yang sama saat aku tak lagi di sana.

Aku pun berjalan—bukan karena tak ingin tinggal, tapi karena tanah di bawahku mulai retak tiap kali aku memaksa diam. Dan mungkin, itu bukan pertanda kehilangan… melainkan panggilan untuk pulang pada diriku sendiri.

Sekarang, aku tak lagi membawa nama siapa-siapa. Hanya sepotong bayang yang aku simpan rapi di dalam langkah, dan sesekali, saat dunia terlalu sunyi, aku masih tersenyum sendiri karena pernah dikenali—meski akhirnya tak dipahami. 

Bila suatu waktu kau merasa ada sesuatu yang mengawasimu lembut dari kejauhan, jangan takut. Itu bukan bayang-bayang, itu hanya aku—wujud doaku yang diam-diam menemani tiap langkahmu. 





/fay

Masih terasa betul waktu dimana aku benar-benar hanya ingin diam tapi kau justru ramai, merengek ingin didengarkan. Masih nyata sekali rasanya diingatanku, raut wajahmu yang sudah tidak memiliki semangat dan tanganmu yang terus mengacak-acak rambut yang sudah mulai gondrong itu. Malam yang seharusnya sepi, mendadak gaduh karena isi kepala ini tidak ingin tenang ditambah dirimu yang juga tidak bisa menemukan tenangmu sendiri. Padahal sebenarnya diriku ini juga sedang pusing sekali, tapi memang sudah biasa diam dan tidak terlalu berekspresi saja.

Kalau dipikir-pikir, betapa konyolnya kita. Dua insan yang sedang mencari cara untuk mengeluarkan isi kepala, berharap satu sama lain dapat saling bantu menenangkan. Aku kira hanya aku di sini yang sukar untuk dimengerti, ternyata kau juga sama sulitnya. Aku lupa isi kepalamu yang berisi terkaan-terkaan, teori, dan naskah yang kau ciptakan sendiri di dalamnya itu termasuk bagian dari dirimu yang juga sama-sama ingin didengar serta dimengerti. 

Ternyata tidak hanya ragamu yang ingin ditemani, tapi riuh isi kepalamu juga butuh disayang.

Tidak ku sangka, kenyataannya kau juga butuh dimanja. Kalau sudah begini tingkahmu ada-ada saja. Banyak sekali maunya. Padahal sebetulnya, semua ini hanya sementara. Fase seperti ini sepertinya sangat pas ya untuk menciptakan pekara, kala sesuatu tidak cocok sedikit keluarlah lava dari kepalamu yang sudah panas karna memasak naskah itu. Konsepnya, tidak ribut tidak lengkap rasanya. Muda-mudi jaman sekarang memang sedang lucu-lucunya. Mudah sekali tertekan mentalnya, kalau kata para tetua. 

Salah satu terkaan yang tercipta di dalam kepalamu itu membuatku jengkel sekali. Kau selalu berpikir bahwa aku akan pergi jauh, lebih jauh dari jarak kita yang terbentang antara kota-kota di Pulau Jawa. Ya, jarak antar rasa. Padahal aku tidak akan kemana-mana, cukup kita terbentang jauh dipisahkan oleh kota dan tanggung jawab di tempat kita berada saja. Aku tidak akan kemana-mana kecuali kau yang memintaku untuk berhenti dan pergi. 

Caramu dan caraku memang berbeda dalam hal menghadapi gaduhnya isi kepala. Kau langsung mengungkapkannya tanpa ragu padaku, walaupun memang harus ditanya terlebih dulu. Sedang aku tipe manusia yang memilih untuk pergi dulu untuk menenangkan diri, berusaha memahami apa yang diinginkan oleh isi kepala. Tentu saja caraku itu membuat sel-sel yang ada dalam kepalamu semakin gaduh tidak bisa ditenangkan ya? kau semakin berpikir bahwa aku sengaja menghindarimu. Maafkan aku ya, sepertinya aku juga perlu belajar untuk mengungkapkan dan tidak hanya memahami lalu mendiamkan seakan semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Padahal nyatanya seperti menyimpan bom waktu dalam kepalaku, tinggal menunggu waktu untuk tersulut emosi dan meledak. Tidak hanya aku yang akan terluka karena ledakannya, tapi kau juga. Ya, lebih baik aku belajar dari caramu itu walaupun akan merepotkan karena yang rewel nanti tidak hanya kau, tapi aku juga.

Kau sering sekali berkata, "kalau kamu kaya gini, nggak cuman kamu yang sakit, aku, dan kita juga lama-lama nggak akan baik-baik aja.". 

Kenyataannya kalimatmu itu memang benar, pada akhirnya kau selalu mengejar dan aku berlari dari kejaranmu. Lalu kita berseteru, kata, kalimat, dan paragraf-paragraf itu semua beradu. Semua ingin dibaca dan didengarkan. Merasa bahwa diri kita sendirilah pemenangnya. 

Sayang, bertahanlah lebih lama ya? Maafkan aku yang seringkali lupa apa artinya sebuah usaha dan kata lelah. Mari kita kembali mengingat titik dimana kita saling menemukan, saat sama-sama sedang mencari. 

Saat dimana otak dan hati kita sedang bergelut sendiri, rasanya pasti keruh sekali. Tapi mari kita belajar untuk tidak memenangkan dan memberi makan ego kita ya. Karena aku tidak ingin mendengarkan egomu, begitu juga denganmu kan. Riuh kepala dan api amarahku tidak bisa kau peluk dengan bara api. Tenangkan aku dengan hangat dan segala rasa pengertian yang datangnya dari hatimu. Aku juga akan meraih lalu mendekapmu dengan rasa pengertian yang sama.

Tetaplah jadi sosok menjengkelkan yang selalu ingin mengalahkanku dengan ambisimu. Jangan merubah sifat kepala batumu yang kekeh untuk tetap bersamaku dikala banyak sosok lain mengejarmu. Buatlah terus perempuan lain cemburu karena bahagiaku yang disebabkan olehmu. Biarkan mereka berteriak ingin sosok sepertimu, walaupun kau hanya aku yang punya. 


Jangan merubah manismu yang terkadang juga menyebalkan itu. Tetaplah bersamaku dan katakan apa yang membuatmu terganggu hingga gundah hatimu. Beritahu aku apa yang menjadi kesalahanku dan bagian mana yang harus aku benahi. Jangan lari kemana-mana, tetap jadikan aku tujuanmu berlari dikala kau mulai resah dan butuh rumah. Biarlah langkah kakimu selalu mengarah ke pulang yang itu adalah aku. Jangan khawatir, aku tidak akan kemana-mana sama seperti yang sudah kukatakan dari tadi. Aku akan tetap di sini, menunggumu. Aku akan mendengarkan dan membantumu mencerahkan kembali harimu yang sempat disinggahi badai topan. Biarkan hanya aku yang melihat kekacauanmu, orang lain cukup tahu kau baik-baik saja. Biarlah dunia ini tahu kau sekuat itu, begitu juga dengan bagaimana dunia melihatku karenamu. 

Terlepas dari segala abu-abu dan keruhnya otak serta hati kita beberapa waktu, aku tidak lelah juga bersyukur berpuluh-puluh kali karena aku berhasil ditemukan olehmu. Terimakasih ya. Karna dirimu, aku tahu seperti apa rasanya utuh. 



/fay

Jika dikatakan penyendiri, tidak. Jika dikatakan tidak memiliki teman, tidak juga. Terkadang penilaian dan pemikiran orang lain memang berhasil membuat kita mengecap diri kita sebagaimana yang orang lain pikirkan tentang kita walaupun kenyataannya tidak begitu. Seberpengaruh itu orang lain. Beranjak dewasa bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. dipaksa untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, padahal orang lain cenderung memikirkan diri mereka masing-masing. Dikatakan tidak boleh egois, tapi apa yang dilakukan oleh lingkungan kita justru sebaliknya. Bingung juga ya hidup di dunia, dipaksa untuk melakukan banyak sekali hal baik disaat lingkungan justru melakukan hal-hal buruk kepada diri kita. Dunia membentuk setiap kita menjadi pribadi yang beraneka ragam. Bagi orang-orang yang kuat, mereka akan terus menghadapi setiap lika-liku kehidupan. Sedangkan hidup di dunia bagi mereka yang telah merasa kacau, mereka berhenti di tengah jalan dan melambaikan tangan butuh pertolongan disaat yang lain tidak mau peduli, tidak ada yang mau menengok. 

Dunia itu mudah sekali panas, bukan hanya karena global warming. Namun juga karena manusia-manusia di dunia ini yang serakah dan memikirkan dirinya sendiri. Tidaklah mudah menjalani hari-hari sendirian di tengah padat dan ramainya hingar bingar manusia, jalanan kota, bunyi klakson, suara lampu lalu lintas, dan orang yang berteriak minta dimengerti. Sebagai seorang manusia yang menyaksikan semua hal itu disepanjang waktu dalam hidupnya, pasti merasa berisik dan berpikir bahwa sibuk sekali dunia ini. 

Iya, dunia ini ramai dan sibuk. Selalu berputar dengan milyaran perasaan dan pikiran manusia di dalamnya yang butuh diselamatkan. 

Iya dunia ini berisik sekali, tidak sama seperti hati ini yang lengang.

Mungkin jika dibayangkan sama seperti dunia ini yang sendirian berusaha terus berputar untuk ribuan perasaan yang ada di dalamnya. Manusia sekarang begitukan? senang sekali mengorbankan dirinya sendiri untuk sesuatu yang bahkan mudah untuk menyakitinya. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan bahwa manusia saat ini banyak sendiri. Bukan karena sendiri yang mereka inginkan, tapi dipaksakan untuk bisa sendiri dalam segala hal. Sendiri sudah bukan lagi topik yang jarang dirasakan oleh setiap hati.

Sepi memang ada dimana-mana, bahkan disetiap langkah kaki yang melangkah ada rasa sepi di dalamnya. Jiwa yang sepi ditambah dengan segala rasa berat yang menumpuk dalam hati, kompleks sekali. Hahaha, manusia kesepian yang rapuh dan manusia-manusia egois lainnya. Oh tidak, masih banyak manusia lainnya. 

Beranjak dewasa, pasti diikuti dengan rasa ragu dan rapuh. 

Aku sedikit menyesal tidak memakai waktu bermainku dengan baik saat aku masih kecil dan terburu-buru ingin menjadi orang dewasa agar mengerti banyak hal dengan imin-imin kalimat, "nanti ya, kalau udah besar..". Sekarang, saat menuju dewasa aku merindukan setiap titik kenangan dimana bisa tertawa lepas karena hal lucu dan asyik. Saat kecil, tidak takut menangis karena merasa sedih atau disakiti oleh sesuatu. Sedangkan sekarang, merasa tidak berhak menangis dan bahkan sulit menangis karena berpikir bahwa harus bisa lebih keras lagi berjuangnya, mindset "belum apa-apa ini mah!" padahal nyatanya, we're trying so hard to ourself. 

Padahal kan, it's okay to cry for a little while, we'll just keep trying and find a way out. Komunikasi sama orang lain bagus, tapi komunikasi sama diri sendiri berantakan. Jadi yang perlu diperbaiki sepertinya diri sendiri deh. Memang tidak mudah menghadapi diri sendiri. Tidak akan pernah ketemu juga mudahnya kalau tidak pernah dicoba. Sudah mencoba belum? Kalau belum, coba rileks dan tanya ke diri sendiri sebenernya apasih yang paling dibutuhkan? Temen buat cerita, atau justru waktu untuk nikmati sepi sama diri sendiri? Saking terlalu ramai dan berisiknya dunia ini, suara hati kita pun tidak terdengar. Memang sulit ya memahami diri sendiri :) pelan-pelan ya.

Teruntuk manusia-manusia di luar sana yang sedang bersusah payah berdamai dengan diri sendiri, lebih banyak ajak dirimu sendiri mengobrol ya. Jika sulit sekali rasanya untuk bisa mengobrol, coba tulis. Namun jika dirasa masih terlalu sulit, mungkin yang kau butuhkan hanya sepi dan menumpahkan semuanya. Menangis tidaklah menandakan bahwa dirimu lemah, ada banyak macam yang tidak dapat kita ungkapkan melalui perkataan dan hanya air mata yang dapat membantunya. 

Waktu di depan masih sangat panjang, jangan sampai dirimu lelah berjuang dan tidak kau istirahatkan. Rasakan apa yang perlu dirasakan, jangan mempersulit dirimu dengan tidak mendengarkan dirimu sendiri.

Untukmu yang seringkali berjalan sendirian di tengah ramainya orang berduyun-duyun kesana kemari, kamu keren sekali. Tidak semua orang bisa berjalan sendirian kesana-kemari tanpa teman di sampingnya. Mungkin kamu merasa sepi di tengah keramaian ini, tapi kamu keren karena mampu membuktikan bahwa kemana-mana sendirian itu bukan berarti sedang dijauhi orang lain melainkan karna kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada orang lain. Jangan munculkan perasaan sepi ya, sesaat pasti ada tapi lawanlah. 

Tidak lupa juga, bagi kamu yang merasa bahwa dirimu sudah cukup baik menjadi versi dirimu yang sekarang. Hai, kamu sadar tidak jika kamu adalah orang yang diimpikan banyak orang? Banyak yang ingin sampai pada titik dimana kamu sekarang, merasa bersyukur dengan pencapaianmu saat ini. Kamu terlihat bersinar dengan rasa percaya dirimu dan segala pencapaian luar biasamu. Tapi, jangan berhenti disini ya? ayo melangkah lagi, ayo maju lagi. Dunia tidak semudah itu puas. kamu tetap harus melangkah. karena versimu yang ada saat ini, belum tentu menjadi versi yang cukup nantinya. Jangan pernah lelah bersinar ya, sinarmu menyinari orang lain dan itu adalah secuil motivasi bagi mereka yang sedang membutuhkan. 


Besok masih ada waktu, mungkin akan lebih berisik. Mungkin juga akan lebih tenang. Atur perasaanmu, hatimu juga butuh ruang. Jangan biarkan komentar buruk seseorang mempengaruhi apa yang sedang kau pikirkan dan jalani. Selama apa yang kau lakukan adalah hal baik, tidak perlu berhenti karena sedikit gangguan. Jiwamu itu hebat, tidak perlu ragu ya? 




Tidak apa-apa jika bahkan dunia ini terlalu berisik untuk jiwamu yang tenang itu, selagi isi kepalamu tidak sedang ramai dan mau ditata, semua akan baik-baik saja. 



Semangat ya, dunia memang keras. Tapi kamu, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.







/bie

Aku pernah berandai, bagaimana jika nantinya aku menjadi tokoh yang sangat berharga di kisah hidup seseorang? padahal hal yang aku lakukan selama ini hanya menjalani hari-hariku yang kebanyakan menangis?


kadang hidup terlalu lucu bagi sebagian orang termasuk saya. mengapa semesta menempatkan saya diposisi yang tidak dapat saya pahami? entah darimana asal ide itu berada, tapi menempatkan saya bersama orang-orang yang asing dan berusaha menguak siapa saya yang sebenarnya, memaksa masuk dan menjadi tokoh dari bagian cerita hidup saya itu membuat saya kebingungan.


sakit sekali bukan melihatnya bersama masa lalunya?


diksi-diksi tragis yang pernah aku tuliskan, adalah sebuah isyarat untukmu berhenti melakukan banyak hal bodoh yang membuat dirimu sendiri hancur. jujur aku sangat lelah untuk menolongmu, kau berusaha membangun namun kau juga yang menghancurkannya dalam waktu yang tak lama. entah itu bodoh atau ceroboh, seperti terlihat sama dan tak ada bedanya.


aku tidak pernah berteriak pada diriku sendiri sekalipun kemarahanku sudah memuncak di ujung kepada, aku melihat diriku sebagai seseorang yang sepertinya sudah pantas dikasihani, tapi aku tidak mau. aku mungkin bodoh, mendiamkan dan menerima semua alasan-alasan itu. tapi bukankah hal itu lebih baik daripada terus menjadi tokoh yang kesannya menyalahkan dan tidak mau mendengar apapun? itu menyakitiku, namun selama itu membuat kita baik-baik saja mengapa aku tidak mencoba mengalah?


every how-was-your-day questions, the way you listen to my stories, they say it's the bare minimum, but so why? those little things still matter, at least for me. I just want to appreciate things from the simplest one.


mengapa tangisku adalah hal yang mudah kau sebut-sebut?


mengapa seringkali kau bisa menyelipkan dia diantara waktu, obrolan, dan tawa kita? padahal kau tahu itu akan membuatku sedih, mengapa kau tetap lakukan? mengapa?


tidak sekalian saja kau tautkan jemarimu di tangan cantiknya itu, sayang?


ma, aku ingin pulang. apa artinya ada di tempat yang aku inginkan, jika orang-orang yang aku harapkan mampu menemani justru meninggalkanku tanpa dipikir lagi?


2 tahun awalnya ku kira tak terasa, ternyata sangat terasa dan masih kau orangnya. masih tetap sama juga pisaunya. bahagianya mungkin bertambah, tapi kau masih terikat pada hal yang sama, bermain pisau itu di tempat yang salah. mengapa aku masih tetap sama padamu?


aku berharga, iyakan?


note yang kamu tulis, warna kertasnya mulai pudar. goresan tinta nya ada yang sudah mulai sirna. apa yang mampu aku simpan untuk menyemangatiku selain kertas-kertas ini? karena ucapanmu yang tak pernah sama kuat dan kokohnya. berubah tiap saat, membingungkanku.


beberapa hari ini sering menghembuskan napas berat ya? tidak apa-apa jika itu membuat berat yang ada di dadamu sedikit berkurang. ya, walau hanya sedikit. 


kadang aku bertanya, untuk apa masih saja keras paksa apa yang sudah mati dari lama?


aku tidak akan kemana-mana,  apa kau juga sama atau justru sebaliknya?


dia cantik, tapi aku akan mengatakan aku lebih cantik. dia orang yang membantumu dari masa-masa sulitmu, tapi aku orang yang sering kau hampiri ketika kau butuh telinga dan dukungan. jika kau bilang dia sempurna, maka aku akan mengatakan bahwa aku tidak karna aku masih ingin terus membentuk diriku menjadi lebih baik lagi, kalau kau mau mari belajar bersama, namun jika kau memilih untuk bersama yang sudah baik seutuhnya, silahkan hampiri dia saja. sempurnaku tidak akan pernah ada, sementara cacat yang ada padaku adalah wadah belajarku. 


sungguh, aku tidak akan mempersilahkan diriku melihat dirinya lebih daripadaku untuk waktu yang lama. maafkan aku diriku, aku terlanjur memberimu celah untuk merasa lebih rendah daripadanya padahal kau sudah sangat baik dari versiku. 


dalam benakku, aku ingin sekali memukulimu, menjambak, dan memarahimu. tapi yang aku lakukan hanya diam kemudian menangis di sampingmu. bodoh sekali memang, aku menjadi seorang yang lemah dihadapanmu.


back to desember - taylor swift gak pernah gagal jadi lagu paling galau versi aku haha.


sayang, ayo kita selesaikan ini bersama ya? ini masalah, kalau hanya aku yang merasa dan hanya aku yang ingin selesaikan maka akan selalu berulang nantinya. aku butuh kamu turut ikut ambil langkah dalam hal ini. aku lelah jika hanya aku sendirian. aku kan ada kamu, mengapa aku hanya sendirian? ini kan untuk kita juga :)


jangan membuatku tidak percaya pada diriku sendiri. aku takut aku yang lelah, hingga aku memutuskan pergi. aku sempat menguburmu dan perasaanku tentangmu rapat-rapat dulu. aku tidak ingin itu terulang lagi. aku ingin kau tegas, tegas pada dirimu sendiri dan melihatku sebagai seorang perempuan yang harus kau jaga dan perjuangkan. buat aku kembali mempercayaimu, jangan buat aku semakin meragukanmu. luka yang dulu belum seutuhnya benar-benar sembuh. kau tahu itu. 


tidurku tidak pernah tenang akhir-akhir ini. selalu terbangun di tengah malam atau subuh hari. 


kepalaku ini penuh dengan hal-hal yang berlarian kesana kemari, telingaku berusaha ku tutup agar tidak semakin memperburuk suasana hatiku. aku juga mau percaya kamu.


"kamu harus tegas ke dia fay" semua orang bilang.

"iya aku harus" kataku pada diriku sendiri.


if only I could have so many voices to say how sorry I am.


I'm sorry if I hurt you.


aku terlalu banyak menangis, bahkan kau tidak mengetahui sesakit apa yang sudah aku simpan dan aku diamkan.


sudah sejak dulu aku berusaha menyembunyikan semua perasaanku, apa yang bisa aku simpan, aku tahan, aku rengkuh sendirian. lalu apakah sekarang aku selemah itu untuk hanya melakukan hal yang sama?


aku sering berpapasan dengan dia, masa lalumu yang sekarang aku lihat. mata kita sering bertemu, bahkan saling bertatapan selama beberapa detik. tapi ada kesempatan dimana, aku merasakan ada yang tidak beres. apa ini hanya perasaanku atau memang benar ada sesuatu? mengapa harus buang muka jika memang tidak ada sesuatu? ada apa sih?


I know that it breaks your heart when I cry again. but can we get through this? I hope we'll get past this.


aku menyukaimu, sesuka itu.


tolong jangan hanya mencintai di awal. aku ingin kau sampai akhir.

Setelah gempa sepersekian detik, kini hujan membasahi Tangerang. Satu perempuan menangis di pojokan kamarnya sambil menatap jauh ke luar jendela, melihat tetesan air hujan  yang berlomba jatuh ke bumi. Tidak ada seorangpun bertanya mengapa dan hal itu dirasa lebih baik untuknya yang sulit menjelaskan tentang perasaannya sendiri. Terlalu banyak amarah yang ia peluk dan simpan sendiri. Terlalu banyak sedih yang berusaha ia tahan agar tidak menangis. Namun apa daya, buyar semua yang berusaha ia simpan. Ia tak mampu mengendalikan hati. 

Hujan tak kunjung reda dan semakin deras. Perempuan ini semakin merasakan sesak di dadanya. Kalau diibaratkan sakit tak berdarah, berarti memar. Hatinya memar, dan jangan sampai mengeras jika terlalu lama. Semalam kawannya berkata, 

"sebenarnya kita tidak akan sekalut ini jika hati kita sedang tidak kacau balau." 

kalimatnya tepat sasaran dan sangat mendarat. Semua yang dikerjakannya kacau, seperti hatinya. Ia kira akan mudah jika berlari ke dalam kesibukannya yang ada. Justru kekacauan itu tidak dapat ia tata dan merusak segalanya. Banyak khawatir yang tidak dapat ia selesaikan, bahkan ditenangkan. Kepalanya sakit, hatinya lelah, namun langit mulai terang, hujan mereda dan jatuh hanya rintik-rintik, sayangnya tidak dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya. Awan hitam di langit mulai berjalan pergi, tapi tidak dengan awan dan gemuruh petir di dalam hatinya. Lagu Tulus masih terus berputar menemani rasa kesepiannya. Kesepian bukan tentang ada teman bukan? kesepian tentang pikiran kita yang tidak dapat berhenti berpikir bahwa kita sedang sendiri. 

Banyak hal yang dipikirkan membuatnya sulit berdamai dengan diri sendiri, terkadang ia hanya perlu disandarkan dan dibelai kepalanya kemudian segala emosinya reda. Dia tidak tahu banyak orang mengasihinya tanpa perlu diungkapkan, ia akan baik-baik saja. Rasa khawatir yang ada di dalam kepala dan hatinya itu selalu menang, bisakah dirinya mengatasi pergumulannya ini?

Bagaimana ia tak merasa sendiri jika orang-orang yang ia kira sedekat itu dengannya seringkali meninggalkannya dengan yang lain, berseteru dengannya, memberinya banyak ekspektasi dan tidak mendengarkannya namun justru menyela dan memberikan banyak masukan yang tak perlu ia dengar? yang ia butuhkan hanya ditemani dan didengarkan.

Ia menyukai langit dan langit yang ia sukai selalu berubah-ubah tak pernah sama, namun ia selalu menyukainya. Langit yang ia lihat tak pernah sama dengan yang berusaha ia tangkap dengan kamera ponselnya. Itulah mengapa ia pernah berkata bahwa apa yang dilihat mata kita tidak akan pernah sama dengan apa yang dilihat orang lain dengan mata mereka. Hati tak bisa ditebak seperti langit yang selalu berubah. Mungkin ini juga menjadi alasan mengapa ia memilih untuk dekat dengan jendela, sangat klasik. 




Sepertinya perempuan ini hanya perlu waktunya sendiri, berdiam dan mengeluarkan apa yang memang seharusnya dibuang. Tak lama, hujan sepenuhnya berhenti dan tangisnya sudah tak ada lagi.







/f.

"Kita berdiri di atas banyak sampah yang tidak pernah kita bereskan." 

Merasa tidak adil karena hidup ini berat untuk sebagian orang, dan mudah bagi sebagian orang lainnya. Hidup yang kita jalani tidak semenyenangkan yang kita lihat di kehidupan orang lain. Kalaupun indah, maunya selalu indah. Padahal cacat pada suatu hal tidak selalu berujung buruk jadinya. Berusaha menjadi dewasa yang layak, berbicara tentang kelayakan memangnya semua orang layak hidup menjadi dewasa yang sok sempurna? layak. Semua orang layak untuk berharap dan berusaha menciptakan bagian terindah dalam hidup mereka, sebagaimanapun hancurnya mereka di dalam. Orang yang sok sempurna itu belum tentu bahagia dengan apa yang ia sempat rasakan dalam hidupnya dulu. Begitu juga dengan orang yang telah dipandang sempurna oleh orang lain sekarang, belum tentu ia bahagia. Selalu ada rasa sakit yang kita korbankan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak mudah hidup di dunia yang isinya serba menuntut dan keji ini. Hal yang mampu kita lakukan hanyalah duduk ketika lelah, mulai bangkit lagi setelah tangisnya reda, memasang ancang-ancang untuk kembali lagi berjalan dan terjun ke dalam petualangan hidup yang beberapa orang menganggapnya sebagai suatu kompetisi. 

Beberapa orang menangis di masa mudanya yang akan segera berakhir dan memasuki fase dewasa, tapi lucunya dewasa itu tak cocok jika diukur dengan sekedar angka pada umur kita. Sangat klise jika orang-orang berpikir seperti itu, dewasa yang remeh sekali. Beberapa orang menangis karena kecewa dengan seseorang yang sudah mereka percaya mengkhianati mereka. Beberapa orang tertawa karena hidup mereka yang berantakan dan tak kunjung mendapatkan jalan keluar. Beberapa orang terpukul karena ditinggalkan orang yang mereka cintai karena sakit, diduakan, atau banyak alasan lainnya. Beberapa orang lainnya lagi sedang tersenyum memahami bahwa hidup suka sebercanda itu. Bersyukurnya, di seberang sana ada beberapa orang yang tersenyum hangat sambil menatap dan mendengarkan kawannya bercerita dengan pipinya yang basah karena tetesan air mata. Masih ada orang yang menghembuskan napas beratnya dan berusaha menatap ke depan memberi senyumannya kepada dunia ini yang tak pernah lelah memberi cobaan kepada setiap pundak yang lelah memikul beban yang tiada pernah habisnya. Masih ada orang-orang baik di luar sana, mungkin kita belum melihatnya dengan benar saja.

Beberapa orang hidup dengan jalan yang mereka tentukan sendiri tanpa mau peduli dengan hidup orang lain. Bagus memang, tidak menambah beban yang sudah cukup membuat muka keriput banyak pikiran. Hal yang perlu kita sadari adalah kesalahan memang seharusnya dibenahi, bukan untuk didiamkan dan disimpan rapat. Kau pikir laba-laba mau hinggap pada ruang permasalahanmu dan membuat jaring-jaringnya di sana? tidak sayang. Bereskan ruanganmu itu, hatimu perlu ditata ulang. Selesaikan semua hal yang membuat hatimu terganggu karena duka masa lalu ataupun cinta yang kau pendam sendiri. Orang lain bahagia, kau juga perlu bahagia. Mulai atur lagi ya, pelan-pelan. Kalau pun nanti akan berantakan lagi, sudah belajar bagaimana cara menata ulang kan. Beberapa hal memang perlu dipaksakan agar tidak semakin parah karena didiamkan. Diam tidak selalu emas. Diam juga mencelakakan, kita harus tahu tetapan batas diri kita. Jangan jadi pion yang orang lain harus gerakkan. Memang kau sanggup terus hidup di atas banyak pekara yang kau diamkan sampai berjamur selama ini? jangan hidup di atas banyak sampah yang tidak pernah kau bereskan. Orang lain akan mencium baunya. 

Membereskan masalah hidup tidak ada yang berani berkata itu hal mudah, tapi bukankah itu hal yang baik untuk dipaksakan? haha, salah satu hal baik yang dilakukan selain memaksa diri untuk minum obat ketika sakit. Membereskan masalah hidup bentuk dari rasa mengasihi diri sendiri. Mendengarkan orang lain, menulis untuk mengeluarkan isi hati, membeli makanan untuk diri sendiri, menyiapkan diri sebaik mungkin untuk suatu hal, dan banyak hal lainnya merupakan wujud mengasihi diri sendiri. Orang-orang berkata bahwa mengasihi orang lain tak perlu bersusah payah, namun mengasihi diri sendiri rasanya harus diusahakan setengah mati. Bedanya seperti langit dan bumi. Sepertinya kita perlu membalik pernyataan itu dan dimulai dari diri sendiri. Tidak berharap orang lain mengasihi kita kalau kita saja tidak mengasihi diri kita dengan benar. Masih seringkali membandingkan diri dengan sosok orang lain contohnya. Banyak bentuk rasa tidak bersyukur lainnya yang sering kita lakukan tanpa kita sadari. Kita yang menyakiti diri kita sendiri dan membuat diri kita seakan menjadi korban ulah orang lain. Kita suka sebercanda itu memang. 

Mari kita perbaiki ya? mari mengasihi dengan benar. Mengasihi dan memperbaiki diri kita terlebih dahulu, tak perlu membingungkan tentang siapa yang akan tetap ada bersama kita dan siapa yang akan datang. Perlu seringkali kita menaruh diri kita sebagai prioritas disamping mempedulikan orang lain. Orang lain akan otomatis datang, orang lain akan ada selagi kita juga membenahi dan mempersiapkan diri menjadi versi terbaik dari apa yang sempat diri kita ramu dulu, waktunya kita melanjutkan dan menyelesaikan. Jangan ditinggalin lagi ya segala persiapannya? proses gak pernah cepat, gak pernah mudah. Tapi jangan karena kau malas, kau betah berdiri dan bernapas di atas tumpukan sampah itu. Hidup sudah cukup gersang dengan tidak ada senyumanmu di sana, jangan ditambah dengan rasa tidak pedulimu terhadap diri sendiri. Kalau orang lain belum memiliki keinginan untuk memulai, jangan ikut untuk berhenti  dan menunggu, kau yang harus memulai. 



Tidak perlu sedih karena tahun ini masih sendiri di hari kasih sayang, kasih tidak terbatas pada suatu sosok maupun bayang. Kau ada bersama jutaan orang lain di luar sana yang sedang melalui satu hari penuh dengan muka kesal di wajahnya karena hari kasih sayang ini seakan-akan spesial ada untuk mereka yang memiliki gandengan. Tidak. Hari kasih sayang bisa kapan saja. Khusus untuk hari ini, perbedaannya ada dicatat pada kalender saja. Jadi, jangan menunggu orang lain untuk mengasihimu, mulailah dari mengasihi dirimu sendiri terlebih dahulu, dan kasih yang sesungguhnya akan terpancar dari sana. Selamat hari kasih sayang, untuk kalian yang mungkin sedang sendiri di kota orang. Selamat hari kasih sayang, untuk kalian yang mungkin sedang sendiri saat ini. Selamat hari kasih sayang untuk kalian yang merasa tak layak dikasihi. Selamat hari kasih sayang <3


diberikan bunga, boneka, coklat, dan surat cinta adalah bonus. Tapi orang yang dikasihi dengan hati yang tulus dan doa untuk bahagia menjadi juaranya!


Untukmu juga, selamat hari kasih sayang!

aku mengasihimu, selalu.



/f

Postingan Lama Beranda

Halo, Sayangku ke

POPULAR POSTS

  • Insecure atau Kurang Bersyukur?
    Hai, kalian apa kabar? Masih di rumah aja ya hehe. Pada postingan blog kali ini saya nggak akan bahas yang asmara-asmara dulu. Salah satu pe...
  • Mereka Bahkan Tidak Tahu Siapa Kita
    Mengapa seseorang datang sebagai penyembuh setelah itu ia menimbulkan luka baru yang sama parahnya. Membuat luka lama bernanah lagi. Baru...
  • Lekat
    Malam itu kembali teringat muncul dan sangat lekat semuanya mendadak pekat Diperlihatkan-Nya padaku tentang sesuatu yang pernah terika...

Categories

  • Beropini
  • Bita
  • kisah
  • Letters
  • prosa
  • puisi

Blog Archive

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Juli (1)
      • Apakah angin masih menyentuhmu dengan cara yang sama?
  • ►  2023 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2020 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (9)

Stay Connected

  • Search

    About Me

    Foto saya
    Fybie Maharani Putri
    hello, it's me Fybie. I'm just ordinary girl. catch me at @fybieee on Instagram. love, Bie.
    Lihat profil lengkapku

    Pesan

    Kalau ada waktu lagi, sesekali mampirlah ke sini. Tengoklah aku.

    Copyright © 2016 bie with you. Created by OddThemes