Ada semacam senyap yang tidak bisa dijelaskan oleh suara. Ia hadir tidak tiba-tiba, tapi juga tak pernah benar-benar dinanti. Seperti kabut yang turun perlahan, membungkus pohon-pohon tua, membuat kita kehilangan arah meski tetap di jalan yang sama.
Aku masih berjalan. Langkahku mungkin tak sekuat dulu, tapi tetap melaju—tanpa perlu tahu ke mana tujuan akhir, asalkan tidak lagi berputar di tempat yang sama. Di suatu tempat di masa lalu, ada bangku kosong di bawah pohon rindang. Pernah ada dua cangkir di sana, satu dengan uap yang hilang terlalu cepat. Sejak hari itu, aku terbiasa memesan satu saja.
Kadang aku merasa ada mata yang tetap memperhatikan dari kejauhan, dan aku tak menoleh, bukan karena tak tahu… tapi karena tahu terlalu banyak. Ada rasa yang tak bisa lagi diberi nama, tapi masih sering duduk diam di ujung malam—menyebut doa tanpa suara, menyelip harap yang tak perlu pulang.
Kau tak akan sadar, tapi aku tetap berdiri di tepi jalurmu, bukan untuk menghentikan, bukan juga untuk menjemput. Aku hanya ingin tahu, apakah angin masih menyentuhmu dengan cara yang sama saat aku tak lagi di sana.
Aku pun berjalan—bukan karena tak ingin tinggal, tapi karena tanah di bawahku mulai retak tiap kali aku memaksa diam. Dan mungkin, itu bukan pertanda kehilangan… melainkan panggilan untuk pulang pada diriku sendiri.
Sekarang, aku tak lagi membawa nama siapa-siapa. Hanya sepotong bayang yang aku simpan rapi di dalam langkah, dan sesekali, saat dunia terlalu sunyi, aku masih tersenyum sendiri karena pernah dikenali—meski akhirnya tak dipahami.
Bila suatu waktu kau merasa ada sesuatu yang mengawasimu lembut dari kejauhan, jangan takut. Itu bukan bayang-bayang, itu hanya aku—wujud doaku yang diam-diam menemani tiap langkahmu.
/fay

