bie with you
  • Home
  • About
  • Prosa
  • Puisi
  • Beropini
  • Kisah
  • Letters
Teruntuk : Reza (disamarkan)


Hai Reza, bagaimana perjalananmu menuju pulang? Ah aku rasa kau pasti baik baik saja. Tapi za, ada sebagian dari perasaanku yang tak pernah kau ketahui, jadi begini.

Aku kalah za, mengenalmu ternyata berujung kekalahan. Aku menyerah setelah sebelumnya kau buat patah.

Besok-besok kalau hatimu tak pernah ingin menetap, bilang ya, biar aku tidak perlu menyiapkan rumah yang hangat, biar cukup remah-remah biskuit saja.

Kau tau tidak? mengenalmu aku menekan dengan berani egoku.

Memangnya kamu siapa? berani mengatakan cintaku hanya permainan?

Dilembah penuh ilalang, asal kau tau, aku mampu dengan hebat menujumu. Sayang sekali, yang kau pilih malah perempuan lain dengan hati setengah mati. Tapi mungkin memang begitu, laki laki selalu singgah lalu pergi meninggalkan hati remuk dan harapan setengah jadi.

Terima Kasih za, mungkin memang begini adanya, ternyata jinggamu tak pernah mampu menjadi warna untuk senjaku.

Tak kan pernah za aku menyalahkan diriku atas gagalnya kisah ini, sebab kau sendiri yang membiarkan semuanya hancur tak terperi. Jingga memiliki banyak arti za, dan kau adalah makna paling menyakitkan untuk dijelaskan.

Sekali lagi kau membuatku faham bahwa mengatakan memiliki tujuan bersama tidak selamanya memiliki jalan yang sama. Kamu hebat za, baru berapa lama kau singgah, duduk bersamaku, tertawa dan sedikit bercerita namun sudah membuatku jatuh cinta.

Lalu, iya. Aku yang bodoh, aku tau kau akan pergi. Karena dari awal pun tujuanmu memang bukan aku. Selalu ada perempuan lain yang hatinya kau jaga hebat. Selalu ada hati lain yang kau sebut rumah. Gadis lain yang kau jadikan tujuan pulang.

Dan dia sudah pasti bukan aku.

Terima kasih za, andaikata kita akan bersua lagi, kuharap semua lukaku hari ini telah membaik, dan hatiku sudah berhenti mengutuki semesta karena menemukanmu denganku.

Sampai jumpa za, selamat pulang. Ku harap apapun yang sekarang telah kau ketahui, kau simpan rapat rapat, karena kau tau, kau pun akan selalu ada dalam setiap cerita jatuh cinta serta kehilanganku.

Dari yang telah patah,

Daun Lalu


/Bie/
Namaku Lila
Kata orang tuaku dalam bahasa jawa berarti rela
Dapat juga berarti meriam kecil yang terbuat dari gangsa
Atau juga berarti warna ungu muda
Orang-orang memanggilku gadis kecil yang rambutnya selalu terikat dua
Yang dulunya
Terlahir prematur sebesar buah semangka
Namun barangkali juga aku salah
Mungkin sebesar buah pepaya
Ah sudahlah

Kini aku seorang gadis remaja
Aku tidak pernah pergi ke alun-alun kota
Mencicipi ayam mekdi
Berfoto ria dan diunggah pada beranda sosial media
Aku  ini seorang gadis yang lugu mengutarakan apapun dalam pikiranku
Mungkin karena itu banyak yang tak ingin menjadikanku teman bermainnya
Aku gadis pendiam yang hidup dalam imaji
Yang aku ciptakan sendiri
Imaji yang terlalu indah untuk jadi kenyataan
Yang hanya dapat aku singgahi seorang diri

Aku Lila
Yang tidak ingin membuang waktu
Aku tak ingin tahu gosip-gosip tak penting
Cukup aku mengerti dongeng-dongeng jaman dahulu
Yang tak apa tak selalu berakhir bahagia
Kisah Marsinah, perempuan yang mati karena mewujudkan keadilan
Atau Kartini dan cerita feminimismenya

Hidup menurutku terlalu singkat
Jika hanya untuk mendengarkan bualan-bualan media
Hiruk pikuk pemerintahan
Yang hanya dibulat-bulatkan

Aku Lila
Aku rela
Rela waktuku ku habiskan hanya untuk hal-hal sederhana
Yang membuat hatiku bahagia dan lega hanya karena melakukannya

Aku Lila
Aku meriam kecil
Mampu mengubahkan pemikiran seluruh semesta 
jika aku bersedia

Aku Lila
Aku memiliki jiwa yang berwarna
Dapat memberi kesan berwarna padamu yang kelabu
Yang mampu memenangkanmu dari gelapnya masa lalu

Tetapi aku Lila
Gadis berkuncir dua yang sederhana
Berpakaian gaun hitam yang selalu ku suka
Berharap orang lain tak hanya melihatku
dari luaranku 

/Bie/

Kala dulu masih jadi satu
Mengapa tak kau eratkan saja pegangan tanganmu
Kini saat tak lagi padu
Kau paksakan untuk menggapaiku
Tidakkah kau tahu?
Kau bukan lagi seseorang yang ku tunggu untuk kata temu
Biarlah kau berakting seolah sedang lenguh
Agar kau tau bagaimana dulu
Betapa lengahnya aku
Yang pernah seolah perlahan lumpuh dimakan waktu

Sudah ku abaikan riuh rindu
Sikapmu telah jadi penentu
Bagaimana hubungan kau dan aku waktu itu

Pikiranku melayang-layang
Hatiku mencari bagiannya yang tak utuh
‘halo sayang,
Mengapa seakan hanya aku yang sendu dan merasa pilu?’

Tiap kali aku menulis puisi
Semuanya itu masih tentangmu
mungkin seperti ini rasanya merayakan kesendirian seorang diri
menenun sisa-sisa rasa pada tiap goresan penaku
berharap dilain waktu aku membacakannya untukmu, mimpi

waktu semata-mata memakan habis kita
dulu bersatu
kini terpisah
nanti tak tahu

tak apa kita terentang, benar tak apa
dan akupun tak ingin bertanya-tanya
semata-mata sedang ada yang mencobai kita
dengan kata pisah
aku tak tahu apakah ini sekedar lelucon belaka
atau nyata
lagi pula spasi memang tak salah
bila tak berjarak kalimat tak akan sempurna
bila berjarak luka milikku sempurna
hanya aku, tak mungkin kau juga
tak mungkin kita
hanya aku





/bie/




Kalau kata-kata via sosmed, "ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, dan pahlawan super anak laki-lakinya." 


Aku pun sebenarnya begitu. Sebenarnya. Tapi akhirnya aku ingin merubah itu semua menjadi, "ayah adalah luka terbesar pertama yang diberikan Tuhan kepadaku, ayah adalah cobaan disetiap langkah hidupku. Ayah adalah tantangan menakutkan disetiap pilihan yang akan aku ambil. Ayah.. ayah adalah orang yang membuatku tumbuh kuat dengan banyak luka, orang pertama yang berhasil menyakitiku dengan sangat. Orang pertama yang membentakku sebelum dunia yang sebenarnya menamparku. Laki-laki pertama yang menempati hatiku lalu menanamkan mawar berduri disana. Laki-laki yang memberitahuku bahwa lebih banyak laki-laki yang akan tidak beruntung mendapatkan seorang perempuan sepertiku. Namun ia juga seseorang yang dulu pernah pertama kali melangkahkan kakinya untuk membelaku ketika seseorang menghinaku. Seseorang yang pernah setia menggendongku kemanapun aku ingin. Laki-laki yang pernah merengkuhku dalam hangat pelukannya saat aku tidak bisa tidur sewaktu kecil. Laki-laki pertama yang pernah aku banggakan kepada teman-temanku karena selalu memberikanku barang-barang aneh yang aku minta seperti 'permen barbie'. Juga laki-laki pertama yang membuatku jatuh hati lalu mematahkannya sebegitu sakitnya."

Mengapa ayah selalu mendiamkanku?


Apa ayah sekarang membenciku?


Mengapa ayah tidak menginginkanku lagi, mengapa ayah ingin aku tidak ada di dunia lagi?


Ayah sudah bosan memiliki anak sepertiku?


Ayah, beri aku penjelasan aku mohon. Sudah lewat banyak tahun ayah melewatkan penjelasan itu.


Ayah, aku mohon...
Aku butuh penjelasan, atas semua ini.
Bukankah aku juga berhak mendapatkan penjelasan disini? Atau mungkin, karena aku nakal ayah jadi berubah? Atau karena aku tidak pintar seperti anak-anak teman ayah? Atau karena aku tidak sebaik mereka yah? Ayah beri aku penjelasan, jangan biarkan banyak pertanyaan muncul dengan seenaknya di benak dan pikiranku. Aku lelah menyimpannya selama bertahun-tahun. Aku ingin jawaban secepatnya. 
Maafkan aku egois seperti ini, menuntut ayah bisa menjelaskan semuanya. Tapi, bukankah disini ayah yang terlalu egois? Menjauh, lalu tiba-tiba berubah dan tidak memberiku ruang untuk bisa bertanya secara langsung? Mengertilah ayah, anakmu juga butuh penjelasan.


Ayah, aku rindu semuanya. Aku rindu kenangan masa kecilku, aku rindu candamu yang bisa menghiburku.
Ayah, aku muak dengan semua amarahmu. Aku lelah menerima bentakkan dan gertakan darimu. Ayah, aku sedih melihatmu tidak seperti dulu lagi. Aku lemah, melihatmu bertengkar dengan ibu hanya karena masalah-masalah ringan yang seharusnya tidak dibesar-besarkan namun malah diisi dengan banyak teriakan dan makian.


Semoga suatu saat, ayah mengerti. Aku menunggu ayah memberiku penjelasan. Tolong aku yah, karena makin lama rasa sayangku bisa berubah menjadi benci kalau ayah tetap seperti ini. Aku memanglah hanya seorang anak, tapi aku juga akan tumbuh dewasa. Mungkin dulu aku berpikir ayah lelah pulang kerja, jadi ayah emosi. Tapi makin lama, aku bertumbuh dewasa. Ini tidak masuk akal lagi.


Ayah.. kalau aku disini meminta penjelasan sebesar bulan, tak apa kau hanya memberiku jawaban sebuah bintang.


Kala air mataku telah menangisimu seluas danau, aku harap ayah mampu memelukku seperti jagat raya memeluk bumi kecilnya.


Saat aku menunggu penjelasanmu bertahun-tahun, aku harap ayah bisa menemaniku selamanya.


Ayah, aku kangen.


/Bie/

Manusia, ciptaan-Nya yang paling baik diantara lainnya. Diciptakan dari debu tanah, dijadikan serupa dengan-Nya. Harap-Nya mampu menjaga dan merawat ciptaan lainnya.

Namun, yang terjadi saat ini justru kebalikannya.

Manusia menumbuhkan egois dimana-mana, menebarkan kebencian diseluruh tanah yang mereka injak. Menjadikan negeri yang damai menjadi negeri penghasil pengacau. Manusia selalu merasa kurang akan apa yang mereka miliki, lebih banyak meminta daripada berusaha. Sangat sedikit beryukur.

Apakah manusia-manusia seperti itu yang diinginkan oleh dunia ini?

Entahlah, manusia semakin lama semakin merasa mempunyai hak istimewa untuk mengatur kehidupan orang lain. Sebenarnya tidak, bukankah kita sebagai manusia ini diberikan hak istimewa untuk mengatur kehidupan kita masing-masing dan menjaga ciptaan yang lain? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Saya dan kamu juga manusia. Hanya mungkin yang membedakan, bisa jadi cara berfikir kita. Umur tidaklah penting untuk mengukur sebuah kedewasaan.

Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini, membuat saya mengerti. Setiap manusia itu pasti memiliki sifat  rebel atau memberontak. Sebenarnya tak salah juga, karna kita adalah manusia. Hanya saya, belakangan ini banyak manusia-manusia itu memberontak dengan tidak berpikiran. Tak apa memberontak, hanya jika kita disalahkan atas apa yang tidak kita perbuat. Namun disini saya tidak menyuruh kalian menjadi pemberontak ya! Mari berpikir positif.

Jika disisi ini ada pemberontak, maka disisi sebrang pasti ada yang suka menghakimi. Bagi manusia-manusia yang suka menghakimi atau merendahkan atas kehidupan manusia lain, kalian bisa membaca kutipan yang saya ambil.

•Menurut Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

•Menurut Alkitab Injil :

"Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama."
Roma 2:1

Mungkin itu contoh kutipan yang bisa saya ambil, masih banyak kutipan lain. Tapi saya memilih untuk mengambil kedua kutipan itu. Mengapa?

Di negara ini, yang paling banyak konflik adalah sebab adanya 'toleransi'. Saya sendiri selalu bertanya-tanya, mengapa toleransi sering diabaikan disini. Bentrok sana-sini mengatas namakan agama. Padahal sebenarnya, yang salah bukan agama nya tapi orang pelakunya yang mengakibatkan adanya bentrok itu sendiri. Sudah paham belum?

Kita tidak berhak mengatasnamakan agama atas perlakuan buruk yang kita perbuat. Walaupun kita adalah penganut agama tersebut. Sungguh tidak berhak. Karena bisa saja kita salah dan berperilaku buruk sehingga malah menjelekkan agama kita sendiri. Tidak pantas.

Bukankah benar, berani berbuat berani pertanggung jawab?


Berbincang-bincang tentang manusia, memang seru. Kita lanjutkan dikesempatan berikutnya ya!

/Bie/

Kalian semua yakin? Kalau kalian menganggap kita semua ini teman? Tunggu, kenapa aku tidak? Sepertinya kita sendiri yang membuat keadaan semakin runyam.
Jangan saling menyalahkan dulu, coba intropeksi diri terlebih dahulu. Otaknya dijalankan, hatinya beriringan. Jangan salah-satu didahulukan dan yang lain tertinggal di belakang. Semuanya harus dalam porsi yang pas. Jangan merasa paling benar, jangan merasa paling salah juga. Apalagi sampai ada korban. Jangan memenangkan ego diri sendiri dalam sebuah lingkup orang banyak. Karena yang ingin dimengerti bukan hanya dirimu sendiri, tapi orang lain juga ingin dimengerti. Coba pakai pikiranmu, saat kamu menyalahkan orang lain coba pikir latar belakangnya dulu jangan asal ambil kesimpulan tanpa pikir lebih jauh. Bisa saja, maksud orang itu baik. Tapi kamu menerimanya justru sebaliknya.

Mesti nya kalian menjernihkan isi pikiran kalian dulu sebelum mulai menyalahkan atau membenarkan orang lain.

Kalian tahu apa akibatnya itu bagi orang lain? Bisa saja mereka akan kehilangan respeknya pada kalian. Bisa saja mereka sakit hati. Bisa saja orang itu akan balas dendam. Nothing impossible, right?

Untuk kalian yang telah menjadi korban, bersabarlah. Calm down. Berusahalah terlihat baik-baik saja walaupun tidak juga. Berusahalah sebisa mungkin untuk tidak terpaku pada kesalahan mereka dan terus nikmati caramu menyelamatkan mereka yang dipandang salah oleh mereka. Mungkin mereka akan sadar atau mungkin juga tidak. Tergantung bagaimana cara mereka berpikir dan mengambil keputusan. Lagi pula bisa saja mereka ikut-ikutan menyalahkanmu didepan orang lain karena sebenarnya mereka tidak punya kekuatan untuk berbicara dengan baik kepadamu. Lagi pula mereka hanyalah sebatas orang-orangan sawah yang berputar-putar mengikuti hembusan angin. Sabarlah, menyakitkan memang. Tapi dengan begini, kamu juga akan tau seberapa batasan kuatnya dirimu.

Sementara untuk kalian yang menjadi pelaku, ayo cepat sadar! Kalian diciptakan untuk berperilakuan baik. Bukan malah menjadi jahat dan tidak berhati memaki-maki orang yang ingin berbuat kebaikan kepada kalian. Peka lah sedikit menjadi manusia. Kalian hanya sok tau kepada si korban. Tentang apa yang ingin dilakukan dan diperbuatnya sebenarnya kalian tidak tahu apa-apa. Cobalah mengerti, dengan bersikap seperti itu orang lain justru memandang kalian rendahan dan tidak terpuji. Atau mungkin memang dunia sudah berbeda? Lebih mengunggulkan yang jahat daripada yang baik? Sudah, intinya kalian harus sadar diri dan intropeksi sebelum mulai menyalahkan orang lain.

Aku ingatkan, teman tidak seperti itu. Mungkin hanya sebatas kenalan. Pada zaman ini kita harus lebih selektif memakai kata "teman" atau akan runyam. Tidak semua bisa dipanggil teman. Tapi usahakan banyak-banyak lah memiliki teman hingga akhir hidupmu. Semoga kamu berhasil.

Penulis sepertiku ini bukanlah apa-apa di negara ini. Mungkin hanya seperti sebuah titik dibanyak kalimat. Tapi setidaknya sebuah titik ini bisa memberhentikan sebuah kalimat. Aku ingin seperti itu, kepada mereka orang-orang yang masih berpikiran tertutup dan terbalik. Ada untungnya juga menjadi baik walaupun lebih sering disakiti. Bisa melihat dari sudut kehidupan orang lain, mencoba mengerti dan cukup memahami.

Siapa yang tahu tentang akhir dunia? Mari berbuat baik, sebelum terlambat. Kalau dunia ini sudah berubah menjadi jahat, maka jangan kamu ikut serta. Jadikan dirimu berbeda dengan kepribadianmu sendiri.

Berbuat baik hari ini, buahnya menunggumu di masa depan. Untukmu, tetaplah sabar dan tersenyum:)

Tulisan ini, spesial untuk kalian korban kejahatan dunia. Selamat membaca. Aku mencintaimu! Be strong!

/Bie/

[15/4 9.14 PM] Lelaki yang baik: Bie, kamu udah aku ceritain kan?
[15/4 9.14 PM] Lelaki yang baik: Kalo aku ternyata bukan satu-satunya.

[15/4 9.15 PM] Fybieee: Cerita apa?
[15/4 9.15 PM] Fybieee: maksudnya gimana, belum tuh?

[15/4 9.17 PM] Lelaki yang baik: Udah kayanya.
[15/4 9.17 PM] Lelaki yang baik: Lupa an kamu
[15/4 9.17 PM] Lelaki yang baik: Dasar Bie _-

[15/4 9.18 PM] Fybieee: Beneran belum
[15/4 9.18 PM] Fybieee: Kamu cuman cerita kalo kamu udah selesai.

[15/4 9.18 PM] Lelaki yang baik: Iya kah?
[15/4 9.22 PM] Lelaki yang baik: Iya ternyata dia udah punya yang selain aku, tapi ngakunya engga punya.
Pas aku ajak jalan gak pernah mau, pas mau ketemu selalu ada alasan.
Ternyata eehh ternyata,
Angin tiba-tiba menggoyahkan telinga ku dan berbicara "kamu orang bodoh". Awalnya aku ngga ngerti apa maksud kalimat itu, waktu melangkah setapak demi setapak dimulai dari tanda-tanda ringan kronologi di Instagram sampai klimaksnya, aku baru sadar Ternyata oh ternyata angin itu mempunyai makna yang dalam tentang aku di tempo hari
Dan otakku mulai bergerak mencari informasi dari selokan sampai almari,
Oh tidak aku cuma simpanan gelap yang di asuh oleh anjing hitam berbulu manusia
[15/4 9.23 PM] Lelaki yang baik: Gak tau, kalimat ku terlalu bertele-tele

[15/4 9.23 PM] Fybieee: Aku paham alurnya kok
[15/4 9.24 PM] Fybieee: Itu kamu taunya pas kalian udahan?

[15/4 9.24 PM] Lelaki yang baik: Iya selang beberapa hari

[15/4 9.25 PM] Fybieee: Yaampun kok tega?
[15/4 9.25 PM] Fybieee: apalagi dia perempuan



*Lalu dia mengalihkan pembicaraan*


[15/4 9.25 PM] Lelaki yang baik: Bie
[15/4 9.25 PM] Lelaki yang baik: Bagus ngga kata kata ku ?
[15/4 9.25 PM] Lelaki yang baik: Pujilah aku

[15/4 9.26 PM] Fybieee: Bagussss. Apalagi itu secara spontan keluar sendiri

[15/4 9.27 PM] Lelaki yang baik: Kaga senyum kamu?
[15/4 9.27 PM] Lelaki yang baik: Aku jadi kecewa

[15/4 9.29 PM] Fybieee: Loh ini lagi senyummm

[15/4 9.30 PM] Lelaki yang baik: Gatau males pengen makan usus

*Aku berusaha mencari cela untuk mengembalikan topik*

[15/4 9.31 PM] Fybieee: Aku mau nanya

[15/4 9.31 PM] Lelaki yang baik: Tanya gih

[15/4 9.32 PM] Fybieee: Sedih, kecewa, pengen marah nggak pas baru tau dia perlakuin kamu kaya gitu?

[15/4 9.33 PM] Lelaki yang baik: iya, apalagi aku terlanjur sayang, cinta
[15/4 9.33 PM] Lelaki yang baik: Tapi kamu tau sendiri kan, aku juga lumayan jago untuk melupakan seseorang

[15/4 9.34 PM] Fybieee: :( sakit mesti.
[15/4 9.34 PM] Fybieee: Iyaa tau kok, sahabatku satu ini kan strong.

[15/4 9.36 PM] Lelaki yang baik: Aku pamit undur diri ya, kasurku menyapa dengan hangat, kakiku terasa seperti ditarik oleh kehangatan kasur.

[15/4 9.37 PM] Fybieee: iyaaaaa selamat malammm

[15/4 9.38 PM] Lelaki yang baik: Malam yang bersemangat:)

***

Entahlah, laki-laki yang satu ini memang tidak mau menyakiti dirinya hanya karena perempuan yang ia sayang meninggalkannya.

Kalau katanya dulu begini,
"Aku ingin datang dan bersenang, bukan berenang lalu tenggelam." -Gaa

Dia ini sahabat yang kuat, baik dan tulus.
Laki-laki yang sama, yang telah saya tuliskan pada postingan beberapa waktu lalu.
→Bagaimana Kalau Kamu?←

/bie/

Lara, jangan datang dulu ya. Suka tidak pernah seceria ini sebelumnya. Aku takut, kalau Lara datang menghampiri Suka nanti Sedih akan datang juga. Padahalkan Suka sudah berusaha menjauhi Sedih dengan berkawan dengan Bahagia. Biarkan Suka dan Bahagia bersama dulu, ada masanya Sedih dan Lara datang. Tapi nanti saja ya?

Suka dan Bahagia menjadi Cinta. Sedangkan Sedih dan Lara bisa saja menjadi Cemburu.  Sekarang Cinta dan Cemburu adalah musuh, mereka tidak boleh bersama. Cemburu hanya ada dibalik bayangan Cinta dan bukan untuk sebaliknya. Karna bila bersama mereka akan menjadi Duka.

/bie/

Yang dapat kita lakukan hanyalah bersama melipat jarak.

Berusaha agar tak ada yang dapat membentang luas diantara kita selain jarak dan waktu. Semoga saja dapat kita lalui semuanya yang bermaksud memisahkan. Karna yang dapat menghadapi hanya kita, bukan hanya saya atau kamu.

Dapatkah kamu mengerti bahwa disini saya seringkali kau tinggalkan tanpa pesan. Dengan tulusnya juga saya menunggu, walau terkadang sampai larut dan rasa kantuk menghampiri.

Kamu bukan orang yang terbiasa mengundang tangisku datang. Tapi kamu adalah tipe orang yang selalu menghadirkan kalimat penenang.

Waktu terus berlalu, semoga kitapun tak lekas ada di masa lalu.
Pada lara yang pernah menghampiri sukma, aku harap jangan dulu mampir, bertamu atau bahkan sekedar menyapa.

Namanya juga belum mau ku sebutkan dalam teks ini seperti pada postingan sebelumnya, takut kalian mencari tahu tentangnya, lagi pula belum ada nama yang pas untukmu. Bagaimanapun tentangnya selalu ku jaga, walaupun selalu ada kurangnya juga. Sebenarnya sudah dari dulu aku ingin menulis tentangnya. Tapi ada juga yang membuatku berhenti di tengah-tengah. Menulis tentangnya adalah tantangan karna tak banyak ia bercerita tentang dirinya dan apapun yang berkaitan tentang dirinya.

Sejak setahun yang lalu ingin aku menjaganya, jauh dari apa yang akan menyakitinya. Mungkin itu sebabnya aku sering memaksanya bercerita tentang dirinya. Memaksa mungkin kata yang tepat. Karna aku tahu, kamu tempe. Bercanda. Karna aku tahu, kamu bukan orang yang mudah menceritakan semuanya. Kamu lebih suka menyimpannya sendiri.

Kamu pribadi yang aku tahu selalu menjaga perasaan orang-orang terdekatmu. Apapun masalahnya. Kamu suka mendol, makanan yang terbuat dari tempe atau kedelai yang dihaluskan bersama rempah-rempah dan cabe yang di kepal-kepal berbentuk lonjong lalu di goreng. Kamu atlet taekwondo, olahraga yang kamu tekuni dengan niat dan tekad.

Sesulit apapun keadaanku saat ada masalah, memanggilmu atau mengetikkan namamu di ruang obrolan kita sudah membuatku lega hati. Jadi maafkan aku, jika terkadang aku memanggilmu tanpa memberitahu sebabnya. Apalagi kalau aku sudah mengirimimu pesan dengan jumlah yang banyak. Tapi seringkali juga aku bingung bagaimana caranya bercerita padamu, sosial media tempatnya salah paham. Karna apapun yang kita kirimkan dengan maksud kita, bisa saja ditangkap dengan sudut pandang yang berbeda. Aku takut kita salah paham. Hal itu sudah terlalu sering terjadi pada kita. Bisa saja merugikan perasaanku ataupun juga perasaanmu, dan aku tidak mau. Aku tidak mau kita bertengkar dan tak saling bertukar pesan selama beberapa hari.

Tentangmu, selalu ku lakukan dengan hati-hati. Aku hanya menjaga semuanya dengan baik, agar hubungan yang sudah baik tak rusak hanya karna setitik kesalahan.

Kalau rindu, kirim pesan yang banyak. Panggil nama satu sama lain. Pakai emotikon “:’)” . Aku sampai hafal, saking seringnya. Kalau rindu jarang bilang, yang benar katanya langsung “memanggil”. Katamu begini, “kalo kangen ya memanggil dong”. Paham tidak? Kalau tidak ya sudah, biar untuk yang mengerti saja. Tapi, kalau kamu biasanya langsung memanggil secara mendadak. Jadi sering tidak terjawab. Maaf ya.

Pada setiap momen yang tepat pula, aku selalu ingin memotret dirimu yang langka. Seperti tampil di panggung dan membawa gitar misalnya, keren. Kamu itu punya potensi, kamu hanya sedikit malu dan banyak ragunya. Tak hanya fotomu, tapi aku juga menyimpan foto kamu dan aku. Kita berdua. Bagus sekali, aku suka.

Tentangmu sahabatku, aku selalu ingin seperti ini. Karena jika lebih, kita sama-sama takut saling hilang dan pergi. Ini bukan sebuah pengalihankan? Kita memang seperti ini, kamu yang memulainya.

Semoga selamanya, tidak hanya jadi sekedar kata tapi jadi sesuatu yang nyata.

Terkadang merindukan dirimu yang dulu, tapi tiap putaran waktu selalu membawa perubahan pada diri kita yang mau tak mau harus kita terima. Entah dengan diri kita sendiri, atau bagaimana orang lain kepada kita. Untukku, bisa mengenalmu adalah hal baik. Aku mendapatkan seseorang yang baik dan menerimaku. Tak penting bagiku orang lain memandang kita seperti apa, satu hal yang penting adalah kamu percaya dan lebih mengerti kita seperti apa.

Jangan lagi mengadu kamu kecewa karna orang yang kamu sukai ya? Karna aku bisa jadi yang paling dulu maju, untuk mempertanyakan dan memperjelas semuanya.

Intinya, aku percaya kamu adalah kawanku yang baik. Kamu adalah laki-laki yang menjaga sahabatnya. Kamu mungkin terlihat acuh tak acuh, tapi sebenarnya kamu peduli.

Aku sadar yang tampan tidak akan selalu jadi gebetan dan pasangan. Yang menawan juga tidak selalu jadi pria dambaan. Karna menurutku, bisa bersama dan menceritakan semuanya tanpa sungkan padamu yang tidak akan pernah aku anggap hilang adalah sesuatu yang aku anggap menyenangkan dan akan aku jaga.

Bagaimana kalau kamu?

Saat kamu sibuk begini yang aku tabahkan adalah hati dan kemauanku. Saat hati minta dituruti, tapi akal menahan. Semangat untuk menghadapi semua beban-bebanmu. Semangat untuk apa yang ingin kamu capai. Aku hanya bisa menyemangati semoga semuanya tercapai.

Untuk kita yang sudah cukup jauh, maka jangan dijauhkan lebih jauh lagi.

Terkadang aku ingin tahu, bagaimana rasanya jadi dirimu. Bisa benar-benar fokus pada apa yang ingin kamu kerjakan dan apa yang ingin kamu capai. Aku ingin tahu. Aku ingin tahu jadi dirimu yang bisa acuh tak acuh dan lebih berfokus pada dirimu sendiri.

Mengapa?

Agarku tidak melulu jadi diriku yang seperti ini, selalu peduli pada orang lain sampai terkadang lupa untuk mengurus diri sendiri. Menyebalkan, apalagi saat orang lain tidak memberiku perlakuan yang sama seperti yang aku berikan pada mereka. Lagipula, manusia memang sepertu itu kan? Kalau yang ia inginkan sudah didapat mereka akan lupa pada hal lainnya. Ah, aku ingin diriku ini tidak lemah seperti ini. Sulit sekali rasanya untuk mengatakan 'tidak'.

Tapi kamu memohon agar aku tetap menjadi diriku sendiri. Katamu, sifatku adalah yang menjadikan diriku yang sekarang, diriku yang kamu percayai. Aku menyukainya, caramu dengan semua tuturmu. Akhirnya, ada yang bisa menerima dan memahamiku apa adanya. Ini semua semakin membuatku jatuh padamu. Memang tidak aku katakan, cukup aku rasakan. Aku takut itu akan merubah semuanya. Bagiku, sudah cukup untuk seperti ini saja dulu. Biarlah bagaimana nantinya, aku jalani saja dulu. Menunggu waktu dan Tuhan beri restu.

Aku menyukai segala yang pernah kita bicarakan dalam ruang obrolan itu. entah itu adalah cerita mengenai keseharian, rahasia atau curhat, serta hal-hal tidak penting lainnya yang biasa kita utarakan disana. Bagaimana caramu menanggapi, membalas dan menasehatiku, aku menyukainya.

Apapun tentangmu yang sudah aku mengerti, adalah apa yang aku jaga dengan hati. Cukup aku dulu yang tahu. Tentang bagaimana kamu padaku, biarlah jadi rahasia Tuhan terlebih dahulu.

Coba dengarkan lagu ini mungkin pas dengan postingan di atas:)



Kenangan dan pengalaman kalian tumpahkan bersamaan pada diri saya. Banyak sekali kenangan di dalam lingkaran ini. Begitu pula dengan pengalaman yang diberikan tiada hingga. Menjadikan saya sekarang bisa, yang sebelumnya bukanlah apa-apa.

Bermain peran bukan semata-mata hanya ‘memainkan peran’, tapi juga berusaha benar-benar menjadi diri tokoh yang diperankan. Mempelajari tentang apa itu beda naskah, yang sebelumnya saya tidak mengerti sebelum tergabung dalam lingkaran ini. Mempelajari biografi penulis naskah, mengenal tokoh-tokoh teater, juga penyair.

Sejak awal, mereka mengajarkan saya tentang apa itu arti ‘Rayen’ dan apa arti ‘Lingkaran’ yang sesungguhnya. Bahwa saling menjaga, mengayomi dan mempererat tali persaudaraan satu sama lain. Berharap tidak akan ada salah satu yang akan lepas, karna itu akan menghancurkan sebuah lingkaran yang sudah sempurna dijaga dan diberi pondasi.



“Disini, kita masih menerapkan sikap kekeluargaan. Itu mbakmu.. itu masmu.. itu adek-adekmu.”

Kalau diluar mungkin masih sebagai kakak kelas dan adik kelas, maka jika sudah berkumpul dalam lingkaran akan menjadi serupa keluarga. Seperti sudah tidak ada batasan, karna kami keluarga. Kami cinta apa yang kami lakukan.

Teriakan, bentakan, makian sudah biasa terdengar keras ditelinga. Terkadang, semua itu memang perlu untuk membuatmu berani dan mengulangi apa yang sudah salah. Bukan bentuk penghinaan untuk diri, namun sebuah kalimat untuk proses intropeksi diri. Kami menyebutnya “kata-kata mutiara”.
Kalah ataupun menang, kita tetap lanjut untuk berproses. Jangan sampai ada yang lengah, atau proses terhenti di tengah-tengah. Karna semuai itu adalah jalan menuju sukses bersama.

semangat untuk selalu memberikan yang terbaik ya!

Terimakasih sudah memberi kenangan pada masa SMA. Memberiku banyak waktu tertawa dan menangis  bersama kalian adalah waktu-waktu yang berharga.

Terus berkarya!




Dulu aku dan kamu memang sudah bukan kita tentang apa yang disebut ‘kekasih’. hey, kita tetap teman. Seorang teman ada untuk temannya, walaupun tak berjanji untuk selalu ada. Jangan sungkan.

Sudahlah, masalah yang dulu jangan kamu ungkit lagi. Itu sudah lama terjadi, aku sudah memaafkan semuanya. Jangan. Jangan lagi buka semua luka itu. Aku sudah merasa cukup baik  dengan status pertemanan kita.

Cukup bersyukur, dulu kamu yang pernah mewarnai kelamnya hari-hariku yang abu-abu sebelum sesudahnya kau menghapusnya. Hariku yang sempat berwarna, kembali abu-abu lagi  saat kau bicara ada yang kau cintai lebih dari aku. Seharusnya, kau katakan saja padaku jika ingin mengakhiri semuanya dan pergi. Seharusnya, seharusnya. Dalam nama Tuhan aku akan belajar ikhlas, jika caramu waktu itu tidak dengan memberi bom atom pada lubuk hati ini. Walaupun sebenarnya itu juga sama lukanya, tapi juga tidak akan sesakit waktu itu dengan caramu memberiku kejutan tak terduga seperti itu. Caramu lebih menyakitkan dari yang aku bayangkan. Bahkan aku belum sempat mengambil ancang-ancang.

Kau telah berhasil memporak porandakan hati yang sudah ku tata rapi.  

Sudah-sudah, cukup membahas masa lalu denganmu. Semoga hubunganmu dengan perempuan yang katamu lebih kau cintai daripada aku itu langgeng. Semoga dia juga tidak merasakan sakitnya diberikan kejutan yang tak terduga olehmu. Semoga cukup aku, yang sudah kau khianati hatinya. Yang terakhir, semoga selalu berbahagia. 

Kita tetap teman. Bersikap baiklah karna akupun sudah berbaik hati padamu. Ingat, kita tetap teman.


Aku ini seperti benda yang kau gantung menjuntai
Bukan tentang mengapa aku
Namun, kau anggap aku ini apa?
Seperti hal yang tak lagi kau butuhkan
Lalu kau gantungkan
Aku mungkin tidak kau buang
Yang betul itu kau tinggalkan
Padahal mulanya kita imbang
Hingga akhirnya kau pilih jalanmu sendiri
Tanpa persetujuanku,
Tapi benar juga
Untuk apa perlu persetujuanku?

Semesta yang pernah menyatukan kita
Alih-alih dileburkan jadi satu
Justru, kita telah kalah oleh spasi berkoma
Tak pernah ku kira
Bahkan tiada ku rasa
Akan jauhkan kita berdua

Semuanya dibuat  sia-sia
Celahnya terlanjur berjiwa
Yang dibuatnya bukan perpisahan
Tetapi sebuah kesalahan dan proses pengalihan
Hingga pada akhirnya kita terkalahkan
Oleh beberapa sirkulasi untaian
Yang tak pernah kita rencanakan
Walaupun seberapa keras kupaksakan,
Semuanya telah ditetapkan tanpa bisa ada perpanjangan
Sejatinya yang ku inginkan adalah kebersamaan
Namun yang menjemput ialah perpisahan
Tanpa ada kata-kata darimu sebagai pembelaan
Guna untuk mempertahankan
Maafkan saya dan kamu tidak bisa lagi bertahan


-         I know I let you go,
Pretty sure you’re no longer

-Fybie Maharani
Postingan Lebih Baru Beranda

Halo, Sayangku ke

POPULAR POSTS

Categories

  • Beropini
  • Bita
  • kisah
  • Letters
  • prosa
  • puisi

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2023 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2020 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ▼  2019 (14)
    • ▼  Desember (3)
      • LETTER 1 : “KALAH”
      • Namaku Lila
      • Terentang
    • ►  Juni (1)
      • Ayah, Aku Kangen
    • ►  Mei (1)
      • Perbincangan Tentang Manusia
    • ►  April (9)
      • Kalian Semua Yakin?
      • Obrolan Malam Kemarin
      • Jangan Datang Dulu, Ya?
      • Semoga Saja
      • Bagaimana Kalau Kamu?
      • Kamu, Biar Aku Saja Yang Tahu
      • Teater Rayen
      • Akhirnya
      • Sirkulasi

Stay Connected

  • Search

    About Me

    Foto saya
    Fybie Maharani Putri
    hello, it's me Fybie. I'm just ordinary girl. catch me at @fybieee on Instagram. love, Bie.
    Lihat profil lengkapku

    Pesan

    Kalau ada waktu lagi, sesekali mampirlah ke sini. Tengoklah aku.

    Copyright © 2016 bie with you. Created by OddThemes