bie with you
  • Home
  • About
  • Prosa
  • Puisi
  • Beropini
  • Kisah
  • Letters
Hmm, I'm a little lost for words.

Okay. 


Hi, everyone. Aduh sok sok an pake Bahasa Inggris wkwk. Hai kalian, apa kabar? Semoga baik ya untuk hari terakhir di tahun ini. Jangan tanya kabarku, sudah jelas kalau pasti 'tidak jelas' haha.


Jadi sekarang udah ada di ujung tahun, bener-bener ujung karna udah 366/366. Gimana tentang tahun ini? Speechless ya wkwk. 2020 tuh bener-bener kaya lagi naik rollercoaster, cepet, bikin jantungan, pas lagi diatas gak lama, pas lagi dibawah pun gak lama. Hal-hal yang udah dipersiapkan banyak yang tak terjadi, malahan hal yang paling tidak ingin terjadi, terjadi. Banyak kejutannya. Tahun yang bener-bener beri banyak pelajaran. Mulai dari dipaksa sampai jadi terbiasa, diberi waktu untuk menikmati rebahan dan liburan (alias di rumah aja) sampai muak rasanya. Berlindung dibalik masker mulai dari yang tipis-tipis hingga berlapis-lapis. Sesak. What about mental health? I don't know, for real :) sometimes many reasons make me sad and happy on the same times. Sometimes just me and my thoughts, overthinking my overthink.


2020 merupakan satu tahun spesial yang semesta kasih untuk setiap kita belajar tentang waktu, kebersamaan, menghargai sesuatu, mencintai diri sendiri, dan banyak hal lainnya. 2020, tahun ini mungkin akan memecahkan rekor sebagai tahun yang paling banyak menerima keluhan —mengalahkan 2019. Tahun ini buat kita belajar dan melakukan apapun secara online. Gimana kabar mata yang seringkali lelah hingga memerah? Kabar punggung dan pinggang yang seharian dipaksa duduk manis menghadap layar. Otak gimana juga tuh kabarnya? Makin terlatih lah yaa. Kalo hati gimana? Kalo hati...


Kondisi hati di tahun 2020 hancur lebur jadi bubur, terlempar, nanar, dan terkapar. Udah kaya lagi main carousel, seneng pas diputaran satu sampe tiga doang. Diputaran-putaran selanjutnya dibuat pusing, bosan, dan dipaksa merasakan hal-hal yang sama. Sakit, senang, sedih, stres, diterbangkan, lalu dijatuhkan yaudah gitu-gitu aja. Tapi bersyukur karna dengan dihadirkannya banyak kemudahan yang jelas diiringi dengan berbagai kesulitan itu, membuat kita semua belajar sesuatu yang bahkan awalnya tidak mau susah-susah kita pelajari tapi harus dipaksa belajar untuk mau. Dipaksa dewasa dan menerima. Ternyata aku memisalkan 2020 seperti taman bermain saja ya haha, ada rollercoaster dan carousel. Ya memang nyatanya tahun ini serandom itu. 


 


Tahun 2020, aku ingin berterimakasih. Untuk setiap waktu yang telah aku lewati, beribu tawa, dan berjuta tetes air mata. Untuk tambahan satu tahun diumurku, untuk berbagai cara yang berusaha dihadirkan agar aku belajar dewasa dan 'meng-gapapa-kan' diri. Untuk ujian nasional yang dibatalkan juga tentunya hahaha. Tak lupa karena diterima di universitas yang aku cita-citakan. Terimakasih Tuhan sudah bekerjasama dengan sangat baik dengan tahun 2020 menunjukkan siapa saja orang-orang yang masih bertahan denganku hingga saat ini, serta menunjukkan siapa saja orang yang tak pantas atau sekedar dihadirkan untuk memberi pelajaran terbaik dalam hidupku. Berat memang rasanya kehilangan dan dihilangkan. Sakit memang rasanya ditinggalkan. Tapi, Tuhan selalu ganti sosok yang hilang dan pergi itu dengan sosok yang lebih baik :). Kalau belum dapat, sabar. God's timing is perfect. Percaya saja kau dan aku akan dapatkan. Kita ingin, tapi belum tentu itu yang Tuhan inginkan. Kalau kata orang-orang, banyak hal baik selalu datang belakangan. Tapi karna ini udah sangat belakangan dan kamu belum dapatkan, ya jangan sedih. Itu kan kata 'orang' bukan kata Tuhan :). Mau di awal, pertengahan, atau belakangan kalau Tuhan yang kasih pasti itu adalah hal baik. Bahkan untuk setiap kesulitan dan masalah yang udah kalian dan aku lalui dibelakang atau hari ini itu juga dihadirkan Tuhan bukan tanpa alasan. Gak melulu setiap masalah dan kesulitan harus dipandang dari sisi sebelah kanan aja. Sisi sebelah kiri nanti iri loh wkwk. Gak gak gitu, maksudnya tuh gini.. Setiap hal mau itu kejadian baik dan buruk selalu bisa dilihat dari banyak sisi. Kita mungkin dengan mudahnya bisa lihat suatu masalah adalah hal buruk yang menimpa. Tapi udah pernah belum coba lihat suatu masalah dari sisi positifnya? Dapet masalah bisa buat kamu belajar gimana menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah itu. Dapet masalah bisa buat kamu lebih sabar, hati-hati, dan belajar melihat segala kemungkinan. Masih banyak lagi sih, tapi itu contoh kecilnya. Gimana? Suka nggak sadar emang. Karna ya gitu manusia, suka fokus sama satu sisi aja. 


Tahun 2020 ini, Tuhan banyak bantu aku khususnya dalam hal memerangi rasa khawatir, melawan rasa insecure, berbesar hati kepada orang lain, stay humble, meluaskan rasa sabar, memupuk dan memberi kasih bagi orang lain dan banyaaaaaak lagi. Bahkan mungkin aku masih gak sadar banyak hal lainnya yang Tuhan beri ke aku, ke kita semua. Sebesar itu kasih-Nya, dan se gampang itu kita nggak peka. Mungkin Tuhan udah banyak kecewa ya sama kita, tapi kasih-Nya lebih besar daripada rasa kecewa itu hingga bisa mengalahkannya. Masih gak bersyukur anda jadi umat-Nya? Sana kalian ke laut aja. Wkwkwk, canda ih.


Sebenernya untuk harapan di 2021 gak ada. Hmm atau mungkin sama seperti harapan sebelumnya. Esok, yang terjadi maka terjadilah. Udah lulus jadi trainee di 2020 kan. Harusnya nanti udah lebih terlatih sih di 2021. 2021 harus lebih banyak bahagianya ya, karna 2020 udah banyak susah dan airmatanya. Setidaknya, kurangilah sedihnya. Jangan banyak-banyak ya, kasian hatimu.


Banyak sekali hal yang sulit diungkapkan dan diceritakan. Padahal 'banyak'. Mungkin kalau dirangkum, what I've learned in 2020 it's this : It's okay to not be okay. Then, for 2021 I want to be okay. I don't even wish so much for fantastic or marvelous or outstanding. I will happily settle for okay, because most of the time, okay is enough.  :)


Seperti yang udah tertuliskan pada paragraf-paragraf sebelumnya bahwa 2020, memberi banyak pelajaran dari rasa sakit. Tak hanya dari bahagia yang datang. Mengajarkan bahwa justru banyak pelajaran baik datang dari permasalahan yang sukar dan menyakitkan. Karna kita masih terus dibentuk dan diproses, tidak akan ada yang berani menjamin bahwa tahun depan tidak ada yang namanya rasa sakit. Kalian pikir gula yang manis itu juga melalui proses yang manis sejak awal? Tidak. Beribu tebu masuk proses pemilahan, kemudian  tebu-tebu terbaik yang telah terpilih, digiling, dan dimurnikan. Setelah itu masih ada banyak tahap untuk menjadikan tebu yang keras itu menjadi butiran gula yang manis. Selalu ada proses sulit yang juga menyakitkan untuk membentuk sesuatu menjadi indah. Begitu juga kita manusia, Tuhan selalu memiliki skenario terbaik-Nya. Kalau proses hanya tentang bahagia dan tawa, kau akan menjadi manusia yang mudah hancur ketika dihadapkan dengan masalah. Bahkan semua kalimat motivasi akan hilang maknanya kalau dari dirimu sendiri tak ada kemauan untuk berani menghadapi proses.


Semua yang pergi, lepaskan, relakan. Teruntuk yang datang, kalau kau mau bukakan, bukakan. Terkadang banyak orang termasuk saya, tak mudah mempersilahkan banyak orang masuk. Saya takut, semakin banyak orang yang masuk akan semakin banyak pula orang yang pergi dan hilang. Semakin banyak orang yang saya dekap, semakin membuat yang lain merasa sesak dan memutuskan untuk pergi. Tidak pernah ada orang yang siap ditinggalkan. Walaupun sudah mengambil ancang-ancang, nyatanya ditinggalkan rasa sakitnya luar biasa. Selalu berhasil membuat roboh dan tak berdaya. Bagi sebagian orang, ditinggalkan membuat mereka menutup hatinya dengan rapat. Bagi sebagian orang lagi, itu adalah fase menyakitkan yang juga memuakkan. Karena ketika ditinggalkan, akan selalu ada orang baru yang masuk. Harus memulai lagi dari awal, menyesuaikan diri lagi dan itu melelahkan. 


Melihat ke belakang, seputar tahun 2020 menimbulkan banyak hal berbeda dipikiran dan hati setiap orang. Kalau saya, saya sedih. Kemarin hari Rabu, 30 Desember 2020 saya membuka buku harian dan galeri foto diponsel saya. Tak banyak menyimpan kenangan memang. Namun ketika saya teringat jika sempat saya membuat keputusan untuk memotret diri saya dikala saya ada di fase senang dan sedih. Saya melihat gambar diri saya menangis difoto itu. Konyol memang, lagi nangis aja difoto dan divideo. Sebenarnya ini adalah masukan dari sahabat saya katanya, "Coba deh kalo lagi nangis foto atau video. Terus liat gimana perasaanmu nanti." dan ya benar, tapi saya sedih melihat diri saya yang begitu "sad girl" di tahun 2020 ini. Tapi bangga juga, dari banyak kesedihan dan masalah itu, buktinya saya sudah ada di hari terakhir 2020 dan baik-baik saja. Masih bernapas dengan baik walaupun hidung saya pesek, hahahahaha.


Banyak perasaan yang telah diudarakan ternyata hanya digantungkan oleh semesta. Banyak cinta yang diberikan, namun dikembalikan setelah dihancurkan. Gapapa. Ikhlas. Tuhan selalu menggantinya. Tapi mungkin, kita semua belum seutuhnya ikhlas dan memaafkan. Karena masih mengingat hal-hal buruk yang dilakukan orang lain kepada kita. Entah itu menyakiti hati kita, atau apapun. Katanya 2021 mau bahagia? Yaudah ayok memaafkan. Kalau sudah memaafkan, jangan diingat-ingat lagi. Kan kudu ikhlas. Percayalah, hati yang sudah mengikhlaskan dan melepaskan segala kesakitan yang sempat didekap itu melegakan nantinya.


Sudah merasa cukup ditinggalkan belum di tahun ini? Bawa semua hal yang kalian rasa itu worth it untuk diajak ke 2021. Don't beg for what doesn't want to stay with you. Isn't worth it. Buy an ice cream, with your favorite flavor. You deserve it. So do I, I will pay for the vanilla sundae. Because I know, I deserve the vanilla.  You know, there is always a cost for everything. So choose wisely, choose wisely every choices you'll take. Ok? (^_-)


"that's the thing about pain. It demands to be felt." —The Fault in Our Stars. Cocok banget gak sih setelah kita melalui 2020 ini, kalau dilihat-lihat emang banyak rasa sakit yang memaksa dan meminta untuk dirasakan. Bersyukur aja masih bisa merasakan rasa sakit. Karna sebenernya, nggak merasakan apa-apa itu lebih gak enak lagi. Kalimat dari film The Fault in Our Stars itu juga sebagai pengingat untuk 2021 nanti ya. Gapapa nanti dirasakan aja sakitnya, kalau udah hadapi ya. Bisa kok bisa. Toh siap gak siap, besok itu udah 2021 heiiii. Waktu enggan menunggumu. Look at you, you're tired but you're not giving up :) good job for you.


Untuk setiap rasa di 2020 yang sudah berusaha dipeluk agar tak pergi tapi gagal. Bukan karena aku payah untuk mempertahankan. Tapi karena memang sudah waktunya pergi, karena inginnya singgah. Maka, pergilah bersama desau angin malam. Jangan lupa ucapkan selamat tinggal jika tak hendak berjumpa lagi. Tapi juga jangan lupa ucapkan sampai nanti lagi, jika nanti masih ada kesempatan bertemu. Aku tidak akan mengharapkan apa-apa untuk rasa yang abu-abu. Cukup berterimakasih untuk semua rasa yang warnanya abu-abu yang pernah hadir. Sudah sangat cukup mengajarkan banyak hal. Untuk setiap luka yang sudah diberi, gapapa. Mungkin belum sembuh, kering saja belum. Waktu terus berjalan dan waktu memang tidak menyembuhkan luka. Waktu hanya akan membuat kita terbiasa dengan rasa sakit itu sampai kita tidak merasa sakit lagi. Pelan-pelan tapi pasti lebih baik yaa. Inilah mengapa aku memberi judul aneh seperti itu karena ya terlalu banyak hal yang ingin disampaikan sebelum 2020 berakhir dan bergulir ke 2021. Aku tidak ingin menyesal karena tidak menyampaikannya. Mungkin memang tidak semuanya, tapi setidaknya hampir. Ini sudah melegakan. 






Selamat tinggal, 2020. Terimakasih sudah memberikan banyak pelajaran baik dan membantu kami membuka mata, pikiran, dan hati kami dengan cara yang luar biasa. I love you, good bye. 


Hai, 2021. Apakah akan ada banyak kejutan? 
Lihat saja nanti :) 









/Bie/


Seperti biasanya, aku juga akan bertanya "Apa kabar?". Tentunya aku berharap semua baik-baik saja, walaupun untuk mencoba merasa baik-baik saja sulit ya. Lama tak bersua :(( AKU KANGEN!!! 

Gila, aku ngetik pembukaan aja nangis sambil makan Richeese Rolls :") bukan sponsor kok, tapi kalo mau disponsor seneng banget diriku haha apaan si. konyol banget aku dipembukaan. Kayanya aku terharu sendiri bisa nulis di blog ini lagi.


Bentar, sambil denger lagu ini pas baca kayanya sih pas Tercapai; Menuju - Phoebe Sidarta, Ivana Tarigan


Aku kangen banget rasanya nulis disini, nulis yang puitis-puitis gitu. Sedang mengusahakan diri untuk bisa menulis dengan baik lagi, karena sebelumnya sempat kesulitan. Jadi mohon maaf. Sebenernya ini bakal jadi postingan yang gak aku tau nanti bakal berakhir seperti apa. Aku cuman pengen menulis tentang apa yang sudah aku simpan, sendirikan, dan tata rapi di benakku beberapa waktu ini. Kalo orang lain termasuk kamu yang lagi baca ini sampai kalimat ini merasa ragu untuk baca karena lagi males baca isi hati orang, mending jangan dilanjutin daripada kecewa sama akhirnya yang aku sendiri belom tau bakal kaya gimana. Aku ngingetin, karna berandai-andai itu memang menyenangkan tapi kalau kenyataan nggak sesuai sama yang dibayangkan aku takut kamu kecewa. hehe :)


Jadi sebenarnya, aku takut aku nggak jadi aku yang bener-bener aku lagi. Bentar, aku bingung mau ngelanjutin dengan kalimat apa. Nah iya, pada fase perubahan yang inginnya menjadi bertumbuh lebih baik nggak selalu mulus kan. Selalu ada pertigaan, perempatan, bahkan ada gang-gang yang ternyata pas udah dimasukin itu jalan buntu. Proses berubah dan bertumbuh gak mudah emang, tapi kalo mau usaha dan disertai doa pasti bisa kok. Pelan-pelan. Prosesnya ini kadang buat bingung sama diri sendiri, seringkali ngerasa "kok aku jadi gini", "kok jadi gitu ya?", dsb. Itulah yang aku rasain sekarang, yang udah jelas banget kalo rasanya ngambang dan gak nyaman. Berusaha membiasakan diri sambil terus sedikit demi sedikit membenahi yang perlu dibenahi. Bertumbuh jadi dewasa nggak cuman fisiknya kan, tapi pikiran, perilaku, dan hatinya juga. Banyak ya, oleh karena itu butuh banyak tenaga dan waktu. Semangat diriku dan teman-teman yang sedang bertumbuh!


Lalu, tentang harapan atau ekspektasi. Ada yang bilang ke aku kalo "ekspektasi itu disesuain, bukan dipaksain", iya bener nggak salah. Tapi menurutku lebih pas lagi kalau harapan itu gak sekedar disesuain aja, gak sekedar jadi keinginan semata yang dilayangkan bersama doa-doa kita saja. Jadikan harapan sebagai tujuan. Tambahkan resep-resep usaha maksimal, keinginan dan tekad yang kuat, rasa optimis, kemudian memohon kepada Tuhan untuk penyertaan dan kebaikan-Nya dalam setiap langkah yang akan diambil untuk mencapai tujuan sekaligus harapan itu tadi. Tuhan minta kita untuk tekun dan tahan uji buat menjalani hidup, supaya kita hidup dengan selalu memiliki pengharapan. Hati-hati jika berharap dengan semua makhluk di dunia terutama manusia. Hati-hati, hati itu rawan.

Asli yaa harapan tuh hal yang bisa banget buat kita jatuh bangun kalau bicara soal perasaan. Iya sih, harus belajar rasional tapi otak sama hati kalo bisa sih imbang ya.


Semakin dewasa, semakin ngerti makna waktu. seberarti apa waktu buat diri sendiri khususnya. belajar buat nggak cuman berkutat sama orang-orang, tapi juga tentang buat waktu untuk diri sendiri. karena seringkali terlalu capek nggak sih buat nanggepin orang-orang diluar sana, walaupun dengan cara online. toh orang lain nggak mesti ngelakuin hal yang sama ke kita juga. pengen berlaku seperti cermin, seperti apa mereka memperlakukan kita, kita juga perlakukan mereka seperti itu. tapi rasanya mereka nggak bakal suka :) yang ada dipikiranku sekarang tuh gini, "kok bisa ya mereka kaya gitu, kenapa aku gak bisa?". Aku heran aja, gimana bisa orang-orang cuek dan bodoamat kaya gitu. "Gak ada beban hati apa ya?". Pernah nanyain persoalan ini ke seseorang dan justru dia jawab begini, "jadi dirimu sendiri aja, kalo pengen jadi kaya orang lain tapi itu bertentangan sama hatimu kamu gak akan bisa."  terus gimana kalo saat kita udah jadi diri sendiri tapi lagi ada pada fase capek? seringkali malah, walaupun nggak runtut juga sih. Ujung-ujungnya pasti berharap apa yang udah kita lakuin buat orang lain itu juga bakal bisa kita dapetin dari orang lain, daaaaan kalo gak dapet pasti langsung sakit sendiri wkwk. udah, jangan berharap tentang apapun dari apa yang udah kamu lakukan untuk orang lain. ikhlas. 

Kalo lagi capek, hal yang paling bener untuk dilakukan emang istirahat. Tapi kalo cape istirahat juga gimana :') emang complicated banget ya manusia hiks. Kadang kalo udah ketemu sama yang namanya cape, tapi tiba-tiba pesan dari seseorang datang tuh bisa bangun rasa semangat gak sih? Gak pesan dari semua orang juga sih, tapi dari beberapa orang yang udah kita anggap dekat dan menyenangkan. Karna udah tau gimana rasanya kesepian dan nemenin orang yang kesepian serta butuh orang untuk diajak mengobrol. Pas aku jadi di posisi orang yang sedang down dan butuh seseorang diajak mengobrol, seringkali yang aku dapet malah ditinggalin dan ngerasa gak ada orang yang bersedia ngobrol sama aku hahah. Gak tau deh, sepertinya ini udah jadi semacam pemikiran yang selalu timbul gituloh. Karna yang aku lihat seperti itu, jadi aku menilainya seperti itu. Aku merasa terlalu 'meresahkan' untuk orang-orang. Jadi lebih baik aku diem aja, walaupun aku juga bukan orang yang nyaman cuman buat diem. Aku cuman gak mau jadi beban buat orang lain —aku mikirnya begitu. Karna sekalinya aku udah cerita, titik buat berhenti itu susah banget ditemuin. Tapi gak jarang juga, orang-orang yang bilangnya "Aku bisa jadi tempat cerita kamu kok."  tapi pas aku udah cerita, responnya cuman "hmm", stiker atau emoji. Suka gemes gitu kadang :) masalahnya adalah, aku ini orangmya cepet banget jengkel kalo udah cerita tapi responnya seakan "males" gitu. C'mon, kalo emang niat buat jadi tempat tampung cerita aku respon aku dengan baik :') aku merasa gimana gitu kalo baru selese ngetik kalian langsung jawab stiker ato 1 emoji aja. Apalagi kalo dibandingin sama teks ceritaku yang kaya gini nih kalo diilustrasiin.


Seniat itu aku cerita. Tapi kamu balesnya :') ah udahlah, aku positif aja mungkin lagi sibuk. Aku yang ganggu waktunya dan mungkin dia sulit juga buat bilang kalo dia nggak bisa. Karena ngerasa bertanggung jawab pernah bilang bakal mau jadi tempat cerita. Tapi jujur aja, kalo nggak bisa respon mending beri aku motivasi aja. Eh motivasi termasuk respon ya? Ah tapi ada perbedaannya loh, gitulah. Gapapa, lain kali coba lagi. Kalo mau cari aman, nulis aja di note hp atau diary. Iya emang gak ada yang respon atau nanggepin, tapi bukannya lebih puas bisa menuliskan semuanya tanpa perlu membenahi kata yang takut itu gak pas kalau dibaca orang lain? Karena bakal di keep sendiri. Kamu juga bisa cerita ke Tuhan, inget Tuhan selalu dekat Ia selalu menunggu kamu datang kepada-Nya. Tapi seringkali kita yang jadiin Tuhan pilihan terakhir. Ini berlaku untuk aku juga, aku sedang belajar mau jadikan Tuhan tujuan utamaku. Yuk bisa yuk. 


Ada banyak tipe orang di dunia ini yang kalau disebutin nggak bakal ada habisnya. Ada orang yang kalo kita curhatin mereka bakal jadi seakan mereka "motivator" atau "support system". Ada juga orang yang pas banget jadi temen curhat karena respon mereka selalu mantap dan nyambung, perhatian yang mereka kasih bikin kita pas cerita jadi lega. Tapi, ada juga tipe orang yang emang hanya bisa jadi tempat kita menampung cerita dan cukup mendengar. Walaupun hanya sebagai pendengar tapi mereka kasih perhatiannya ke kita dengar menjadi pendengar yang baik. Ada juga tipe orang yang maunya bisa bantu pas kita curhat, orang-orang dengan empati yang besar. Yap aku punya semua tipe orang-orang tadi mulai yang bisa jadi "motivator" sampe yang berempati besar. Bersyukur banget Tuhan kasih aku banyak teman dan sahabat yang baik, juga beda-beda. 


Anyway, aku juga mau cerita kalo aku bangga ke diriku sendiri. Mengapa? Karena ketika orang lain sedang kesulitan disana mengerjakan kesibukan mereka, aku sedang merenung. Hah merenung? Yap merenung, aku merenungi diriku. Kalau ditanya buang-buang waktu atau enggak, aku jawab nggak juga. Karena, waktuku bukan hanya untuk menjalani dengan terpaksa setiap kesibukan dan tugas-tugas ku. Aku perlu waktu untuk sendiri, mengisi ulang energi dan refleksi diri. Kalau sibuk terus-menerus dan tiada hentinya, aku bisa stres hahaha. Jujur aja, aku mudah menyemangati diriku sendiri sebelum orang lain melakukannya untukku. Tapi terkadang aku juga terlalu lemah untuk sekedar memberi energi positif balik ke diriku. Kadang saking semangatnya, memberi banyak orang lain semangat dan motivasi sampai lupa kalo diri sendiri ini juga orang yang butuh asupan  untuk "diperhatikan". Bukan maksudnya untuk lebih mengasihi diri sendiri sih. Tapi belajar untuk self-love sebelum aku spread-love. Coba deh pikirin, gimana kamu bisa spread-love kalo kamu belum self-love duluan? Kasih yang tulus itu berasal dari hati bukan kata-kata kan. Ini reminder garis keras, karena aku seringkali lupa :'D kasian aku, padahal masih muda. Masa iya udah cengeng, pikun lagi hahah. Puk puk palaku.


Sedikit lagi aku akhiri ya. 


Hey kamu udah healing belom? Iya aku tanya ini ke kamu yang baca ini dan diriku sendiri juga sih. Ayo jawab! Aku nih, aku udah :) kalo kamu udah bagus, lanjutkan ke bab baru! Lalu, bagaimana kalau belum? Nih ya aku kasih tau, gak cape apa genggam masalah yang sebenernya udah harus kamu lepasin? Udah selesai dia tuh urusannya sama kamu. Yuk lepasin, hatinya juga dibuka biarkan rasa-rasa yang menjadi racun itu menguap dan pergi. Kamu harus bangkit lagi. Inget, harusnya kamu yang bisa kontrol hati dan pikiran kamu. Jangan justru kebalikannya, kamu tuan dan nyonya nya kan. Semangat. 


Ngobrol tentang hati dan perasaannya, tak melulu tentang cinta ke lawan jenis kan :) jadi tujuan penulisan paragraf yang barusan bukan hanya ditujukan untuk menghapus mantanmu dari hati dan pikiranmu saja. Tapi juga tentang konflik keluarga atau masalah persahabatanmu. Kalau memang orang-orang yang bersangkutan masih kau anggap jadi racun, jangan biarkan. Maka dari itu, kau perlu bersihkan masalahnya. Urusan kembali atau tidak, belakangan. Yang penting adalah selesesaikan. Lari tak membuat masalah itu hilang, justru dia akan mengekor. Yuk, sekali lagi aku ketik "yuk bisa yuk!". Tuh ya, kalo udah selesai sama konflik-konflik yang ada di belakang jangan lupa kamu juga punya tanggung jawab besar. Tanggung jawab besar untuk jadi dirimu sendiri. Dirimu yang baru, yang sudah bertumbuh dewasa. Prosesnya emang nggak cepet kok, mie instan aja masih perlu di rebus biar matang. I hope you learn to fall in love with the process, with the messiness of life and the confusion of it all. I hope your life inspires you :) 


Dengar lagu ini deh enak :') Happiness - Rex Orange County

Me and my selfishness 
Or me and myself wish you
nothing but a happy new 
version of you

Cause I want you to tell me
You find it hard to be yourself
So I can say it's gonna be alright







See ya, 
/bie/



P. s : postingan blog ini ditulis dengan perasaan yang nano-nano. Sebenarnya juga ditujukan pada diri sendiri. Lalu jika kamu hilang kendali atas dirimu, mungkin ini bisa membantu sedikitttttt. Dah, c u <3

"Dia hanya gadis iblis berhati dingin."

Setiap orang akan berbicara seperti itu tentang dia, Gwenny Nabita. Memang ada benarnya, dia adalah gadis berhati dingin dan terlihat menyeramkan seperti iblis karena memiliki mata yang tajam. Orang lain hanya mudah menyimpulkan sesuatu dari apa yang mereka lihat. Orang yang dekat dengannya akan memanggilnya “Bi” atau "Bita" sedangkan orang yang hanya sebatas tahu dan mengenalnya akan memanggilnya "Gwen" atau "Gwenny". Ia dikenal dengan sebutan "Gwenny, gadis iblis berhati dingin". Sungguh sangat disayangkan ketika namanya yang memiliki arti "gadis pintar yang berjiwa seni  dan diberkati" harus kalah dengan sebutan yang orang lain labelkan untuk dirinya.

Sampai ia beranjak dewasa pun orang-orang tetap mengenalnya dengan sebutan itu. hingga tidak ada seorangpun yang berani berteman dengannya. Ia selalu sendiri jika tanpa Rocky. Tak ada seorang pun jadi temannya di sekolah, di lingkungan tempat tinggalnya, ataupun di rumahnya. Namun ia sangat ingin memiliki teman, ia sangat ingin berbagi cerita dengan orang lain, menceritakan tentang dirinya yang tak orang lain ketahui. Bita hanya ingin ditemani, ia tak butuh banyak teman. Hanya butuh satu yang mampu menghadapi dan menerima dirinya selain Rocky anjing peliharaannya. Ia juga ingin memiliki seorang teman manusia.

***

“Bita tidak apa-apa sendirian. Tapi ‘tidak apa-apa’ pun tak akan bisa berlangsung selamanya.” Tulis Bita di dalam buku hariannya. 
Ia terlalu kesepian untuk dunia yang ramai. Ia memang bukan lagi seorang gadis kecil lagi. Namun ia adalah perempuan yang masih jadi gadis kecil bagi dunia yang lebar dan luas ini. Bita butuh seseorang yang mampu menggandeng dan menemaninya menghadapi sekaligus menjalani harinya di dunia ini.

Untuk sebuah kasih yang seharusnya bisa ia dapatkan dari kedua orangtuanya pun ia tak dapat itu. Ayah dan Ibunya berpisah saat Bita masih berumur 5 tahun. Terlalu kecil bagi Bita waktu itu untuk mengerti dan belajar menyembunyikan perasaannya. Sejak saat itu Bita sibuk merawat ibunya yang depresi karena berpisah dengan ayahnya yang meninggalkannya dan ibunya demi hidup dengan wanita lain. Bita sibuk merawat dan menemani ibunya sampai-sampai ia lupa jika ia juga sangat sedih. Ia tak lupa bagaimana caranya menangis, ia hanya lupa bagaimana cara dan rasanya tertawa.

***

“Bita..”

“Iya bu, sebentar.” Bita menutup buku hariannya dan beranjak ke kamar ibunya yang bersandingan dengan kamarnya.

Bita membenarkan rambut ibunya dan bertanya pelan, “Bita di sini bu, ibu butuh apa?”

“Jason”

Bita tercekat saat ibunya menyebut nama ayahnya, setelah bertahun-tahun baru kali ini ia mendengar ibunya menyebut nama ayahnya lagi.

“Ada apa bu, kenapa ibu menyebut nama ayah lagi? Ayah sudah per..”

“Ia pasti akan kembali kan?” tanya ibunya dengan mata berbinar-binar.

“Tidurlah bu, ia akan menemuimu nanti.” Lalu ibunya tersenyum dan memalingkan tubuhnya ke sisi kasur yang lain dan berusaha tidur.

Sementara Bita masih menatapi punggung ibunya, ia perlahan menyeka air mata yang hampir terjun bebas dari ujung matanya.

Dalam sunyinya kamar itu Bita bertanya pada ibunya yang seakan-akan akan menjawabnya dalam tidurnya, “Sedalam apakah sumur persediaan kata maafmu untuk ayah bu, sedalam apakah ibu mencintainya?”  Bita tak mampu lagi menahan perasaannya, ia menangis tak bersuara di kamar ibunya.

***

Setiap harinya Bita bangun pukul 05.00 pagi. Membersihkan dirinya, membersihkan rumah, membuat sarapan, membantu ibunya membersihkan diri, sarapan bersama sembari memastikan ibunya makan dengan baik. Tak lupa memberi makan Rocky juga. Semua tugas di pagi hari selesai, Bita keluar rumah setelah memastikan ibunya baik-baik saja. Bita menuju ke bukit dekat rumahnya, tempat favorit yang selalu ia tuju untuk menulis dan bermain dengan Rocky. Tempat yang sunyi, karena lokasinya yang dekat dengan rumah Bita semua orang tahu bukit itu tempat Bita sering berada jadi tak ada yang berani kesana. Bukan tak berani karena bukitnya, tapi karena ada Bita ada di sana. Karena Bita adalah si ‘Gwenny gadis iblis berhati dingin’. Bita sudah terbiasa. Sangat terbiasa dengan semua itu. Semua orang di desa percaya dengan sebutan itu, menyangka bahwa Bita benar-benar gadis iblis. Bita tak pernah mempermasalahkannya. Hanya saja sosok yang mengumbar sebutan itu adalah orang yang pernah jadi berarti bagi Bita.

Bita hanya tersenyum tipis melihat langit yang dihiasi awan-awan sambil mengingat semua itu. Namun hatinya terasa begitu perih.

“Rocky!”

“guk.. guk..”

Bita melempar mainan Rocky, lalu Rocky berlari menuju ke arah mana mainannya tadi dilempar. Setelah menemukannya, Rocky membawanya kembali ke Bita. Bita bermain-main kecil dengan anjing peliharaannya bermaksud melupakan kenangan yang sedikit menyakitkan baginya itu.

Hanya bermain dengan Rocky saja bisa mengembalikan perasaannya yang sempat biru. “Andai aku memiliki teman selain Rocky,  pasti akan sangat menyenangkan.” Bita bergumam dalam hati.

Awan tiba-tiba menjadi mendung, Bita dan Rocky pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, keadaan rumah sangat tidak bisa diduga. Semua barang berserakan di lantai, bahkan beberapa hancur. Rocky mendadak jadi agresif dan berlari ke arah dapur. Bita khawatir dengan ibunya, iapun menuju kamar ibunya dengan hati yang tidak tenang. Ketika memasuki kamar ibunya, betapa kagetnya Bita melihat ibunya duduk di lantai ujung kamar dan terluka disekujur tubuhnya.

“Bu, kenapa rumah jadi seperti ini dan ibu terluka?” tanya Bita, matanya sudah berbinar-binar.

“Ja.. Jason..” rintih ibunya.

“Ada apa dengan ayah bu, ayah datang ke rumah?”

“Mencari Bita.. di.. dia pikir ibu mengusirmu dari rumah, karena orang disekitar sini bilang kau adalah gadis iblis berhati dingin.”

Bita bingung, darimana ayahnya tahu orang-orang disini menyebutnya begitu. Ia penasaran, “Darimana ayah tahu?”

“A.. Ayahmu memata-mataimu selama ini, ia bilang begitu saat kesini tadi.” Bita terdiam mendengar jawaban ibunya. Ayahnya memata-matainya, setelah meninggalkannya dan ibunya sungguh tidak terduga akan seperti itu, pikir Bita.

Bita membantu ibunya ke kasur dan mengobati luka-lukanya. Tiba-tiba Rocky datang sambil menggigit sepucuk kertas. Bita penasaran dan mengambilnya. Sebuah amplop ternyata, selembar surat.


Bersambung...


Malam itu kembali teringat

muncul dan sangat lekat

semuanya mendadak pekat

Diperlihatkan-Nya padaku tentang sesuatu yang pernah terikat

Diri ini memilih tirakat

dengan kesungguhan niat

hingga merasa nikmat

Inginku meminta taat

tetapi ada hati yang telah menetap tepat

memantapkan diri tanpa syarat

 

Namun tiada kata yang mampu ia ucapkan

sekali berkata dan parau tertekan

Aku seperti sesuatu yang mudah kau lupakan

tanpa sesal dan tak sama sekali memberatkan

Kala itu pula, kau lepaskan

genggaman tanganmu seperti tanpa beban

tak seperti sedia kala yang takut kehilangan

 

Naluri-naluriku seakan berhenti tak berjalan

Malam yang menggiringku pada musim rentan

gersang sudah pelataran

merasakan hati yang temaram  menjadi acuan

Musim kemarau datang memenuhi kekosongan

melumpuhkan tiap ingatan

Kau pergi pada malam menuju gersang 

di musim kemarau yang ‘kan datang

dan itu adalah kesimpulan





Love,

/Bie/


Hai, kalian apa kabar? Masih di rumah aja ya hehe. Pada postingan blog kali ini saya nggak akan bahas yang asmara-asmara dulu. Salah satu pembaca blog saya memberikan ide pada saya untuk menuliskan tentang ‘insecurity & overthinking’ yap, seputar itu dan mungkin saya akan menambah beberapa hal tentang self love. Yuk, kita bahas pelan-pelan.


Insecure dalam psikologi jika diartikan berarti, sebuah upaya dari adanya emosi yang terjadi apabila kita menilai diri kita menjadi seorang inferior dari orang lain. Seorang inferior di sini berarti seseorang yang merasa rendah diri ya. Terkadang emosi-emosi dalam diri kita itu juga bisa hadir karena penilaian diri kita oleh orang lain yang kurang bisa kita terima pula. Juga karena kebiasaan membanding-bandingkan. 


Padahal kita sendiri juga tahu, bahwa memiliki rasa rendah diri itu akan sulit untuk dibuat normal lagi. Bahkan walaupun kita dapat motivasi dan saran dari orang-orang terdekat. Banyak dari orang-orang yang merasa dirinya insecure, mereka membuat sebuah patokan yang akan mereka capai tentunya. Namun, setelah patokkan itu tercapaipun mereka belum bisa merasa puas. Mereka akan jadi seseorang yang selalu ingin lebih. Itu bisa jadi sebuah hal positif untuk berkembang jadi lebih baik lagi, tapi juga bisa jadi hal negatif karena kurangnya rasa bersyukur. Karena mereka masih merasa rendah diri. Masih merasa kurang dibandingkan dengan orang lain. Tanpa sadar, mereka yang sebenarnya sudah cukup namun masih merasa kurang itu bisa dibilang ‘tidak bersyukur’. Bahkan mereka juga seringkali merendahkan diri di depan orang lain yang benar-benar masih kurang, dan bisa membuat mereka ikut menjadi insecure.


Insecure juga bisa kita rasakan saat kita mulai merasa malu atau tidak percaya diri. Contohnya dengan warna kulit, jenis rambut, berat badan, hal yang bersangkutan dengan ekonomi, dan banyak contoh-contoh lainnya yang tidak sesuai dengan diri sendiri. Untuk itulah kita terbiasa memancarkan sesuatu yang berkaitan dengan aura diri kita. Terkadang insecure juga bisa terjadi karena diri sendiri yang sulit atau kurang bisa untuk mengendalikan emosi.


Setiap orang di dunia ini pasti punya rasa insecure-nya masing-masing. Lalu menurut saya pribadi, yang jadi permasalahannya itu adalah diri sendiri. Pastilah ada fase-fase dimana kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang menyangkutpautkan tentang kelebihan dan kekurangan diri. Padahal sedari kecil kita sudah diajarkan untuk bisa menerima berbagai macam perbedaan. Setiap orang yang lahir di dunia ini diberkahi dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Kita hidup untuk menerima setiap kekurangan itu dan saling melengkapinya. Kita juga hidup untuk mengembangkan kelebihan yang telah dianugerahkan itu. tidakkah menurutmu kita terlalu egois untuk mengingini hidup kita ini bisa jadi seperti hidup orang lain? Coba kalian pikirkan dengan perlahan, benarkah apa yang sudah kita lakukan selama ini? Mengingini sesuatu yang menjadi kepunyaan orang lain, ingin hidup seperti orang lain yang menurut kita itu lebih baik, lebih perfect, lebih nyaman, dan lebih aman. Salah, udah pasti itu nggak bener. Tuhan nggak pernah pilih kasih kok. Yuk, jangan terlalu sering melihat sosial media. Karena dari sosial media juga rasa menginginkan apa yang orang lain miliki jadi kian besar. Sosial media memang bisa jadi tempat inspirasi, tapi ketahuilah bahwa selalu ada batasan. 


Coba kamu ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak rasa syukur yang sudah kamu sia-siakan. Sudah berapa banyak waktu yang kamu buang untuk mengobrol dan berterima kasih pada Tuhan atas hidupmu hanya untuk kamu gunakan stalking atau memandangi atau iri kepada hidup orang lain yang bahkan kamu sendiri nggak tahu udah sebanyak apa usaha dia agar bisa terlihat seperti itu. Kita memang nggak akan bisa tahu seperti apa perjuangan orang lain agar bisa dilihat sebagai orang yang pantas dipandang. Atau apa ya kata lainnya, sampai lupa. Ah, bisa diidam-idamkan. Atau jangan-jangan orang itu juga selalu bersyukur atas hidupnya yang bisa saja sebenarnya biasa saja. Namun, karena syukur itu Tuhan selalu memberkati hidupnya. Siapa yang tahu. 


Dari sini sekarang aku tanya kamu insecure atau kamu kurang bersyukur? Hal yang baik yang harus kita bandingkan dengan orang lain adalah, kita harus menganggap diri kita lebih spesial dan lebih beruntung dari orang lain. Anggaplah begitu, walaupun oksigen dan matahari tak hanya tercipta untukmu.


Menoleh ke masa lalu juga bisa jadi salah satu penyebab kamu bisa jadi insecure. Banyak kesalahan dari masa lalu yang mungkin belum bisa sepenuhnya kamu maafkan. Iya, memaafkan dirimu sendiri atas kesalahan-kesalahan itu. Hey, kamu sudah tidak lagi hidup di masa lalu. Kamu yang sekarang sudah melangkah jauh dan pergi dari masa lalumu yang kelam. Itu semua memang pernah terjadi. Tapi sudahlah, jadikan itu sebagai pelajaran dan jangan sampai kelak di masa depan kamu melakukan kesalahan yang sama. Karena masa lalu nggak akan pernah bisa mendefinisikan dirimu yang sekarang. 


Overthinking. Overthinking adalah memikirkan sesuatu secara berlebihan. Nah, dari pengertiannya aja udah kebaca kalo bisa bawa hal yang gak baik. Kan yang berlebihan itu nggak baik. Walaupun mungkin baik karena artinya kamu bisa jadi termasuk orang yang memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi sebelum bertindak. Kalau kamu adalah orang yang terlalu banyak berpikir sebelum bertindak namun pada akhirnya hanya melakukan sedikit tindakan bisa jadi kamu adalah orang yang overthinking. Overthinking juga jadi salah satu penyebab rasa insecure itu timbul. Tidak baik juga buat kesehatan, karena bisa membuat kalian mengalami kecemasan dan kehilangan kedamaian dalam diri. Saya bukannya nyuruh kamu jadi orang yang cuek, tapi jangan jadi pribadi yang terlalu keras ke diri sendiri. Jangan berpikir kalau kamu nggak berharga, kamu nggak menarik, dan kamu nggak pintar. Remember this, everything starts from the mind! Karena overthinking seringkali mengarah ke arah negatif, yuk sama-sama berpikir positif. 


Nih melansir dari laman hellosehat.com, manusia memiliki sekitar 70.000 pikiran setiap hari dan 90% di antaranya adalah pikiran yang sama seperti yang kita pikirkan di hari-hari sebelumnya. Jadi masih mau overthinking? Masih mau buang-buang waktu buat mikirin hal yang sama setiap hari? Apalagi kalo yang dipikirin tuh gebetan, mampus gak lo? Dia aja gak mikirin lo, ngapain lo mikirin dia? Kasian tuh saraf otak lo. Hahaha, ayo dong semangat jangan overthinking. Maybe, saya bukan orang yang mudah memiliki rasa insecure, tapi saya adalah orang yang bisa dibilang mudah untuk overthinking. Mulai dari pikiran yang cuman Tuhan yang tahu jawabannya pun saya pikir seperti, “kenapa aku lahir dan hidup di Indonesia, nggak di Inggris atau Amerika?” gak berguna banget kan:’) yok ayok semangat aku dan kalian pasti bisa pelan-pelan mengurangi dan menghilangkan overthinking ini. 


Kenapa kita bisa overthinking? Nih ada beberapa penyebabnya, simak ya:
• Baper dan terlalu mikirin komentar netijen
Gak bisa lepas dalam bercanda karna terlalu takut mikirin komentar balasan dari lawan bicara 
•  Terlalu mikir perkataan seharian ini dan takut kalau ada yang menyinggung perasaan orang lain 
• Berprasangka buruk dan beranggapan banyak orang tak menyukai kita
Takut jika gagal memuaskan orang lain dan gak
• tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka 
Terlalu jauh berpikir dan memprediksikan hal negatif yang bakal terjadi 
•  Hanya  berporos pada kekurangan dan lupa pada kelebihan yang lain


Jadi itu tadi beberapa penyebab kenapa kita bisa overthinking. Bener ya? Iya saya tahu kok kalau bener. Yok, kita lawan satu-persatu. Gimana caranya biar kita nggak terus-terusan overthinking? Hal yang paling utama harus dilakukan adalah jangan sampai kamu berdiam diri cukup lama. Karena, berdiam diri akan memicu diri kita untuk memikirkan hal yang aneh-aneh bahkan hal yang nggak perlu dipikir.
 

Cara sederhana lainnya yang bisa dilakukan yaitu :
• Mendengarkan musik, ikut menyanyikan lirik-liriknya.
• Membaca buku yang disuka
• Melakukan hobi, asal hobinya bukan stalking mantan atau stalking saingan
• Olahraga
• Memasak
• Mengobrol bersama keluarga
• Menulis hal-hal yang kamu khawatirkan di buku, lalu tulis juga beberapa cara yang kamu pikir bisa menyelesaikan ke khawatiranmu asal nggak sampai overthinking.


Selalu ada banyak hal negatif yang terlalu mudah diambil, dan membuat kita menyampingkan hal-hal positifnya. Insecure juga ada hal positifnya kok. Hal positif yang harus kita pikirkan dari insecure adalah jangan pernah membuat diri kita merasa bahwa kita mendefinisikan siapa diri kita sekarang. Sehingga merasa bahwa diri kita ini tidak layak. Kita yang masih muda, jalan kita masih panjang. Saat ini kita masih berproses, kita masih berjalan untuk mencari jati diri. Dirimu yang sekarang bisa saja adalah dirimu yang akan kau lupakan esok. Jadi, anggaplah semua ini proses dan sebuah fase yang akan selalu bisa kita lewati. 


Menurut saya pribadi cara mencegah insecurity itu mudah, karena saya bukan pribadi yang mudah merasa insecure tapi bukan karena saya adalah orang yang tidak mudah insecure lalu saya berkata bahwa cara mencegahnya itu mudah. Tapi karena cara mencegahnya itu mudah, asal ada kemauan. Kemauan yang kuat pastinya. Lagi pula siapa sih yang mau terus-terusan terpuruk karena insecure? Ya kan yakannn. Jadi caranya itu, kalian harus melawan rasa insecure itu dengan hal-hal yang positif seperti terus mengembangkan talenta dan kelebihan yang kalian punya, mencoba hal baru dan mengembangkannya, melawan orang-orang yang berusaha menjatuhkan dan membandingkan diri kita dengan orang lain dengan cara membalasnya dengan perkataan yang positif dan membangun, kamu juga bisa mendiskusikan tentang rasa insecure mu kepada orang lain. Seperti orang yang profesional dalam bidang itu, yaitu psikiater jika kamu merasa ada sesuatu yang berbeda dan perlu ditangani dalam dirimu seperti contohnya jika kamu merasa rasa insecure mu berlebihan, karna kita sendiripun tahu apapun yang berlebihan itu tidak baik. Atau kamu juga bisa bercerita pada orang yang kamu percaya, orang tuamu, kakak, atau lainnya. 


Kalau kamu ingin tahu, kamu itu spesial. Kamu itu berharga. Kamu nggak bisa dibanding-bandingkan sama orang lain. Kamu berbeda, kamu nggak sama seperti orang lain. Karena kamu adalah kamu. Orang lain mungkin bisa berkomentar tentang kamu, entah itu komentar yang memotivasi atau komentar yang menjatuhkan. Tapi orang lain nggak akan tahu tentang siapa kamu sebenarnya, karena orang yang paling kenal sama kamu adalah diri kamu sendiri. Mulai sekarang, ayo mulai menyaring omongan orang lain tentang kita. Kita nggak bisa terus-terusan hidup seperti apa yang diinginkan orang lain. Karena diri kita adalah hak dan kuasa kita. Kamu boleh dan berhak hidup seperti apa yang kamu inginkan walaupun orang lain tak suka. Ambil baiknya untuk terus memotivasi dirimu agar terus tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ambil beberapa omongan buruknya, sebagai batu panjatan dan sebuah dorongan agar kamu bisa berkembang dan bertumbuh jadi manusia yang berhati luas dan lapang. 


Kamu cantik, hey perempuan. kamu tampan, hey laki-laki. Cantik dan tampan itu relatif. Nggak bisa diukur dari tampang walaupun terkadang first impression itu juga penting bagi beberapa orang. tapi inget, don’t judge the book from it’s cover. Kita nggak boleh rasis. Kalau yang hitam dan sawo matang itu buruk. Lalu yang putih dan kuning langsat itu bagus. Semua udah ada porsinya masing-masing. Ayo, mulai mencintai diri sendiri dengan memulai hal baru. Dunia itu keras, kamu nggak akan kuat nantinya hidup sendirian di luar sana kalau kamu nggak segera mulai untuk belajar. Banyak hal baru yang bisa dipelajari, yang akan berguna juga untukmu ke depannya. Kalian adalah makhluk yang diciptakan dengan talenta, hanya tinggal kalian mau nggak ngembanginnya? Selalu ada talenta tersembunyi yang akan tetap tersembunyi kalau kalian nggak mulai cari. Juga selalu ada talenta baru yang akan berkembang dengan baik jika kalian mau terus mengembangkannya sambil terus berdoa memohon bimbingan dari Sang Kuasa. Tuhan nggak pernah menciptakan manusia dalam keadaan yang buruk. Bahkan Ia sendiri yang menciptakan manusia segambar dan serupa dengan diriNya. Jadi, kita sebagai manusia harusnya bersyukur karena dari banyaknya ciptaanNya, kita adalah yang dianggapNya sempurna. Jangan lupa bersyukur ya kalian. Tuhan selalu ada bersama kita. Tapi kita seringkali hanya mengobrol denganNya untuk mengadu kekurangan dan hanya terus meminta. Seringkali lupa bahwa ada hal yang lebih sederhana yang juga seringkali kita abaikan yaitu bersyukur, berterimakasih masih bisa hidup dengan baik sampai saat ini. Bahkan di tengah-tengah pandemi yang tak kunjung surut seperti sekarang. 


Sampai di sini dulu pembahasan #beropini selalu nantikan postingan-postingan selanjutnya. Jangan lupa self love ya!




Love,
/Bie/
Mengapa seseorang datang sebagai penyembuh setelah itu ia menimbulkan luka baru yang sama parahnya. Membuat luka lama bernanah lagi.


Baru kali ini saya menjadi seseorang yang berbeda —saya rasa. Dulu saya tidak pernah membaca lagi buku-buku lama. Mungkin sebatas melihat foto. Tapi setelah itu biasa saja. Tapi sekarang, saya bahkan mencari buku-buku lama itu. Buku yang dulu menjadi favorit dan tidak bisa dipungkiri kini ia menjadi racun yang menyakiti begitu dalam.


Bukan, bukan untuk mengingatnya. Aku membacanya bukan untuk mengingat kenangan manis tentang perempuan dan lelaki itu, aku hanya membaca epilog. Iya epilog, sebuah akhir. Akhir cerita, bab terakhir tentang mereka. Mengapa begitu, tidak membaca berurutan mulai prolog. Karena, sudah terlalu muak. Aku hanya ingin membaca akhirnya lagi. Akhir yang terlalu menyakitkan. Bahkan hanya untuk dibayangkan bahwa itu akan benar-benar jadi akhir bagi mereka yang untuk memulai saja belum. Aku membacanya, agar aku bisa membenci kisah mereka. Jahat kedengarannya. Aku tidak peduli, karena mungkin ada benarnya cara yang tidak pernah terpikirkan dan bahkan kedengarannya jahat ternyata adalah cara terbaik untuk membenci dan melupakan. Ah tidak, bukan membenci tapi belajar menerima dan mengikhlaskan. Mereka adalah judul buku yang manis, begitu juga isinya. Tapi entah mengapa, Penulisnya merubah haluan. Bab terakhir serta epilognya, benar-benar banting setir. Aku membenci akhir yang menyedihkan. Tapi apa tahu ku. Siapa tahu dibalik akhir cerita yang sad ending selalu ada hikmahnya? Mungkin kedua tokohnya memang tidak dituliskan untuk bersama. Ada yang lebih baik bagi mereka berdua. 


Mungkin mereka hanya sempat dipertemukan dijalan tol lalu dipisahkan di penghujung jalan keluar tol. Siapa tahu. Tidak perlu perandaian yang puitis untuk mereka yang manis ceritanya tapi akhirnya tetap pahit. Benar-benar plot twist. Kalau saja saya tahu, saya tidak akan membuka dan mendalami ceritanya. Sayangnya, sampul memang selalu menggoda. Benar. Kadang, kalimat "jangan lihat buku dari sampulnya" memang benar-benar terbukti nyata. Ya ya ya, saya paham sekarang. 


Di bab terakhir itu, saya memantapkan hati untuk bolak-balik membaca dua kalimat yang paling saya benci. Ya karena saya ingin segera merampungkan perasaan saya ini. Saya benar-benar ingin lekas pulih. Saya pikir, dengan membaca bolak-balik sesuatu yang saya benci itu akan segera membuat saya melupakannya. Walaupun memang harus mengorbankan hati sendiri. Tapi semoga saja itu berhasil. Saya juga sudah menghapus semua cuplikan dan potret bayangan yang sempat saya lihat di imajinasi saya. Bahkan suara-suara mereka berdua yang sempat muncul di imajinasi saya. Sayangnya ya walaupun sudah tidak tersisa, tapi ternyata hati juga punya ingatan terdalamnya. Itu yang susah saya hapus. Hati memang menyebalkan sekali.


Proses memang gapernah instan. Gak kaya masak indomie yang direbus 3menit, ditiriskan, tabur bumbu, aduk, lalu jadi. Ini lebih kaya menghitung bintang di langit yang ga ada habisnya. Eits, saya punya mata yang minus jadi saya gak bisa lihat bintang. Wah sedikit menyenangkan jadi saya tidak perlu melihat dan menghitung bintang. Tapi sebagai gantinya, seperti menjalani hari-hari dalam setahun. Makin dihitung, makin lama. Nggak cepet kelar. Menyebalkan dan nanti akhirnya ga ada yang tahu hasil dari prosesnya.


Tiap malam, ketika saya menangis teringat kisah dibuku itu yang tidak seperti bayangan saya, saya selalu berpikir. Apakah kedua tokohnya juga sedih karena cerita mereka tidak semulus itu. Apakah mereka menerima akhir cerita yang sudah ditentukan itu. Apakah mereka baik-baik saja. Jujur saja, saya terlalu pemikir. 


Saya ingin melihat satu bintang di langit. Bintang yang muncul kala senja tiba. Hanya bintang itu. Bahkan tak apa jika saya tidak bisa melihat ratusan bintang lainnya yang saat saya kecil dulu selalu saya hitung bersama kakek saya dari halaman rumah saat  malam mulai mengambil alih langit. Saya ingin melihat bintang itu. Tapi saya selalu mengurungkan niat. Saya tahu, bintang itu bukan untuk saya. Saya juga tahu, buku itu adalah salah satu buku yang mengajari saya bahwa hidup tidak hanya tentang bahagia dan hal-hal menyenangkan. Karena kalau cuman tentang itu, pasti kurang lengkap. Maka dari itu, sedih dan hal-hal menyakitkan dihadirkan. Hidup ngga selalu berakhir bahagia, ada juga yang berakhiran dengan kesedihan. Tapi, dari kesedihan itu kita bisa belajar bahwa akan ada banyak hal baru lainnya yang akan hadir lebih baik lagi. Karena bahagia nggak cuman tercipta di satu titik. Mungkin bukan di sudut ini kamu bahagia. Tapi di sudut sebelah sana. Selamat mencari.




























Maafkan aku yang sedari tadi bercerita dengan dalih kata "mereka" dan bukan "kita" atau "aku dan kamu". Karena untukku, "kita" sepertinya sudah tidak berlaku lagi saat kau bilang aku hanya teman dekat dan kau perlihatkan tanganmu yang menggandeng tangannya dengan bangga. Aku malu pada hatiku. Aku tahu, kisah yang telah kau ciptakan denganku bukan dibuat-buat. Bahkan saat kau nyatakan kau mencintaiku, aku tahu kau tulus. Hanya saja, waktu memang selalu menciptakan deadline nya sesuka hati. Kau tiba-tiba berubah dan berpaling. Hal menyedihkannya adalah kita benar-benar dipaksa selesai bahkan saat memulai saja kita belum. Kau benar-benar memberi sebuah akhir yang buruk, bahkan sangat buruk. Mungkin itu caramu, agar aku membencimu dan cepat melupakanmu. Kau salah. Ah Sudahlah, biarkan aku pulih sendiri. Pergilah kalian yang jauh, jangan sampai berniat untuk muncul di depan mataku. Aku benar-benar belajar bagaimana cara agar tidak membenci. Aku belajar bagaimana cara untuk mengikhlaskan dan menerima. Aku tahu, hal-hal baik akan datang setelah ini. Aku tidak ingin membuatmu iri. Semoga kau bahagia selalu. Buku yang ku maksud sedari tadi adalah kisah mu dan aku dulu. Sudah jelas. Sekarang, ku tutup buku itu. Selamat datang, kisah yang baru.


/Bie/


Kata selesai memang tidak pernah sederhana. Siapa yang bilang selesai, usai, dan berakhir itu mudah. Bahkan kenyataannya lebih sulit ketimbang memulai. Bahkan sepertinya, semua kata di dunia ini tidak ada yang tidak sulit.



Tapi siapa sangka setelah sesuatu berakhir, akan ada rasa enggan untuk memulai sesuatu itu lagi. Enggan seribu daya, mau sepatah kata. Iya enggan, karna sudah lelah berkecimpung dengan fase bertemu, bilang cinta, lalu hilang, kemudian saling pergi. 


Iya memang umur kita masih panjang. Tapi apa memang seharusnya kita menikmati waktu kita yang panjang itu dengan memilih, menikmati, lalu membuang. Rasanya seperti melakukan sesuatu yang sia-sia dan fasenya juga itu-itu saja. Bosan. Mungkin benar sendiri itu tidak masalah, yang tidak baik itu jika merasa sendirian. 


Sepertinya orang sepertimu ini sudah sangat terbiasa melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti itu. melatih dirimu sendiri untuk menerima, atau itu berarti kau terbiasa mencari lagi saat dirimu merasa hampa. Iya, merasa hampa. Hampa karena apa yang kau cari di dalam dirinya sudah kau temukan, dan sudah tidak ada lagi riuh berisik dalam hatimu yang menginginkannya. Kau bosan, lalu kau ingin pergi. Kemudian kau benar-benar pergi namun kau tidak mengakhiri. Yang kali ini kau lebih jahat. Menjerat, menikam habis, lalu kau ikat, kau seret, dan tidak kau lepas. Sudah beringas, tapi tidak habis juga kejamnya. Terus mencari mangsa.


Aku sudah terbiasa dengan orang sepertimu. Eiitss, walaupun sudah terbiasa kamu tidak punya hak untuk berlaku seperti itu padaku. Karena ‘terbiasa’ itulah, aku bisa membaca orang-orang sepertimu dengan mudah. Aku tidak ingin mengguruimu, tak ingin pula mendikte orang semacammu. Belajarlah sendiri sebelum terlambat, atau dunia yang akan mengajarimu. Orang-orang sepertimu ada untuk memberi pelajaran yang menyakitkan tapi berguna bagi orang-orang seperti saya. Jadi orang sepertimu masih ada baiknya tak hanya sekedar bernapas tapi juga menguatkan orang-orang sepertiku. Kamu serupa pelajaran yang sangat dibenci namun berguna.


Caraku menggambarkanmu itu bisa dengan banyak perumpamaan. Seperti tahun ini contohnya. Masalah yang tidak pernah diduga tiba-tiba datang silih berganti dan belum menemui akhirnya. Banyak siswa/siswi sudah membayar mahal lembaga bimbingan belajar mereka untuk ujian nasional, serta membeli buku-buku latihan soal untuk persiapan ujian nasional tapi hal tidak diduga ternyata membuat semua hal itu percuma dan sia-sia. Ujian nasional ditiadakan. Seperti hubunganmu denganku. Aku mati-matian mengerahkan segala usaha dan perjuangan eh ternyata kamu pergi begitu saja. Percuma, sia-sia. Aku menyayangkan waktuku, yang sudah terbuang cuma-cuma untuk terluka denganmu. 


Dulu kukira aku sudah tahu banyak hal tentangmu, namun ternyata tak sebutirpun aku tahu. Mungkin hanya 0,50%  yang aku tahu. Setelah dirimu pergi, aku paham ternyata memang keinginanmu tidak berbagi kisah denganku. Jangankan membuat kisah denganku, kisah hidupmu saja tidak ingin kau ceritakan padaku. Duh, bodohnya aku. 


Coba kapan-kapan menulislah. Tulislah sesuatu dengan jujur apa-apa yang sedang terjadi, apa yang sedang mengganggu dan apa yang ingin kau benahi. Yakinlah ada salah satu yang selalu bisa kau benahi. Karena tak semuanya serta-merta bisa dihancurkan begitu saja dan tidak semua hal bisa dengan cuma-cuma kehilangan arti begitu saja.


Aku dan dirimu sudah banyak berjuang untuk kita pada waktu itu. bahkan sebelum pertemuan kita sekalipun. Bukankah kau sudah merasakan sebuah kehilangan dan dihilangkan yang membuatmu tak ingin merasakannya dua kali. Harusnya, dulu sebelum kau mencoba menelaahku, kau harus mengkaji dirimu sendiri. Sesudah itu, mungkin kau baru tahu sebesar apa harapan yang harus kau berikan atau bahkan yang sudah kau berikan padaku. Agar di akhir aku tak merasa dikecewakan seperti itu. sekarang aku sadar, waktu itu aku tak bersalah soal harapan. Karna dirimu yang mengumbar harapan, karena aku hanya menangkap apa yang kau layangkan. 


Lagi pula aku kira karena sebelum pertemuan kita kau telah merasakan kehilangan dan dihilangkan kau tidak akan mungkin ingin merasakannya dua kali. Tapi ternyata aku salah, kau ingin merasakannya sekali lagi. Iya kau yang kehilangan, bukan aku. Karena aku dihilangkan olehmu, dan kau yang akan merasakan kehilanganku. Kau akan mencari-cariku diwujud orang lain. Iya aku, yang dulu kau anggap lukisan minyak berpigura cantik yang kau paku di dinding kusammu itu sampai kau bosan dan menggantikanku dengan yang lainnya.


Kita adalah aku dan kamu, kedua tokoh yang tidak se-alur cerita, seharusnya. Namun terpaksa untuk diuji cobakan. Sayangnya, akhirnya tetap sama. Sebuah kata gagal. Hingga naskah kita diarsipkan. Tak layak, karena kita gagal. Kini, kau tokoh utama pada ceritamu dan tanpa aku. Begitu juga aku, aku sebagai tokoh utama dinaskah hidupku dan lengkap tanpamu. Lagi pula, percuma sebuah cerita dirancang dengan banyak teka-teki namun tak memiliki akhir sebagai jawaban. Cerita itu hanya seperti roda yang terus berputar dan tidak memiliki tempat perhentian. Sepeda yang remnya blong. Lalu harus ditabrakkan agar berhenti. Seperti itu aku dan dirimu, dulu. 


/Bie/
Halo perkenalkan saya Ali Mustofa. Dipanggil rakyat dengan nama Ali. Dipanggil oleh pacar sayang. Eh ga punya ding hehe. Soalnya udah pisah, nah disini nih saya mau ceritain pengalaman kedua pacaran saya. Kenapa yang kedua? Soalnya yang pertama tidak banyak cerita yang bisa diceritakan. Kata orang cinta pertama sulit dilupakan saya rasa tidak juga. Mumpung bisa numpang blog orang lain hehe jadi gapapa lah yaa berkolaborasi ceritanya hehe. Emang bener kata seseorang “Otak manusia itu sangat mengagumkan, dari sejak dilahirkan otak bekerja non stop 24 jam. Saat tidur, pingsan, bahkan koma sekalipun otak terus-menerus bekerja, sampai kemudian berhenti saat merasakan jatuh cinta”. Ini relate banget sih sama cerita cinta saya. Jadi silahkan simak yaa.

Bermula saat memasuki dunia SMK, yang disebut cinta pandangan pertama tuh emang ada beneran ya. Saya pikir hanya kata alay seperti di ftv-ftv pagi. Waktu berkenalan, ada satu orang yang manggil nama saya paling nyeleneh. Saya dipanggilnya “Alay”. Dia cukup cantik, baik, dan perhatian. Membuat saya merasa ohh wanita ini sepertinya harus jadi pacar saya. Eh cepet banget yaa hehe, yaa gitulah ada satu lain hal yang membuat saya segitunya berhalu waktu itu. Tapi apa daya, saya seorang perokok, dia tidak suka asap rokok. Saya pecandu alkohol, apalagi dia mana mungkin suka. Yahh cuma jadi angan-angan bagi saya untuk bisa berpacaran sama wanita baik ini. Kehidupan SMK masih terus berjalan sampai ketika sudah masuk di bangku kelas 11 ada praktek kerja lapangan nih. Tempatnya semua beda-beda. Kebetulan saya dan wanita ini tempatnya yahh cukup dekat, kurang lebih 5 Km. Dekatlah, kan bucin hehe. Saya berusaha untuk terus dekat sama si wanita ini, sampai suatu hari dia bilang dia ga suka bau rokok. Oke, karena saking inginnya saya berpacaran dengan wanita ini saya memutuskan untuk berhenti rokok. Lama-kelamaan kebiasaan saya minum alkohol juga berhenti. Ketika semua udah dituruti saya berkabar via pesan singkat “Aku udah berhenti rokok, minum juga udah, sekarang gimana?” tanyaku. “Yahh terserah kamu, aku bingung mau nerima kamu apa engga” jawabnya singkat kemudian off. God damn u. Pikiran kembali kacau. Gak ada yang bisa buat tenang selain rokok sama minum. Yauda akhirnya ngulangin lagi. Berpikir pasrah. Ohh yauda dia kayaknya gamau, “mundur aja mas” teriak hati.

Kemudian suatu ketika temennya bilang “dia loh sebenernya suka sama kamu tapi masih belum yakin, takut kayak dulu dia ditinggal”. Sedikit harapan muncul. Tugas saya cukup meyakinkan dia bahwa saya ini layak buat jadi pacarnya. Urusan berubah jadi lebih baik kita atur sama-sama, begitu pikirku yang ternyata seirama dengan pikirnya. Hari berlanjut sampai kelas 12 SMK saya baru berpacaran. Masih ingat tanggalnya dan jamnya. 16 Agustus 2019 pukul 18.55 WIB. Iya malam sebelum hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Wahh masih belum lupa tuh gimana bahagianya, ketawa ketiwi berdua. Yahh sepertinya kalian juga pernah ngerasain lah ya. Nahh waktu pacaran itu bener-bener saya udah berhenti sama rokok sama minum alkohol. Beneran berhenti. Karena dia. Bucin ga sih? Gatau ya, saya rasa tidak sebab kita cinta bukan? Oke. Jam terus berputar, hari silih berganti. Berpacaran membuat jenuh ya? Tapi suka hehe. Berpacaran membuat sedih ya? Hidup emang gitu, hari ini sedih yah suatu saat pasti bahagia bukan. Semua sama aja kalau kita hidup. Kalau mau tenang ya mati aja, itupun ga selalu juga.

Cinta itu emang rumit, ga selalu berjalan mulus. Iya ga semua bisa dipertahankan terlebih kami yang sama sama emosional. Lebih tepatnya saya. Sedih suka dipendam sendiri, kemudian cuek sama sekitar. Yah memang salah saya. Sampai akhirnya kami benar-benar berpisah. Sepertinya berpisah kurang pas kalau disini, lebih tepatnya tidak lagi bersama. Eaa hehe. Yahh seperti itulah kehidupan. Tiap awal membutuhkan akhir, tiap yang bernyawa pasti mati, tiap yang bertemu suatu saat berpisah. Entah itu baik atau buruk tapi dunia nyatanya seperti itu. Entah itu adil atau zalim tapi tuhan menggariskan seperti itu. Layaknya saya yang menganggap dia awal dari semua perjalanan cinta. Dia bilang waktu itu saya adalah akhir dari penantian cinta. Ternyata tipuannya sebagus itu. Dia mampu merubah hidup saya yang hancur, sekaligus dia juga yang mampu membuat hati saya porak-poranda. Dia hebat, saya yang tidak. Saya yang salah, dia tidak. Dia berhasil membuat perubahan untuk saya, saya yang gagal membuat dia percaya akan perubahan itu. Sekejap dia layaknya dewa, bahkan dewi, sekejap pula saya berharap dia mati. “Aku udah capek” katanya. “Istirahat aja, mau?” saya tanya. “Aku mau semua selesai” katanya. “Kita?” tanya saya sambil menghisap rokok dalam dalam. “Iya, aku capek, kamu bilang ga akan ngerokok, kamu bilang udah berhenti minum, kamu bilang kamu ga suka dibohongi, tapi nyatanya, bajingan kamu.” katanya tegas dengan mata memerah menetes air lalu pergi. Saya diam, teman-teman yang melihat juga. Iya, itu perpisahan. Itu terakhir kalinya kami berhubungan, setelah itu semua yang dia tahu tentang saya dihapus begitu saja tanpa ragu. Saya biasa saja, pada awalnya. Kemudian dia mencari yang baru. Saya sebenernya tahu, hanya saja ini semua salah saya jadi lebih baik memilih untuk tak berbicara. Barusan saya tau ternyata kepunyaannya yang baru tidak sebaik saya. Bahkan lebih menyakitkan kata temannya. Ahh seperti itulah cinta. Berjumpa kemudian cinta. Cinta kemudian bersama. Bersama kemudia berpisah. Berpisah kemudian saling lupa. Sialan kau cinta!! Tidak baik mengutuk cinta sebab ia tak salah. Yang salah kita, iya kita. Yang membuat kita terluka adalah kita yang terlalu berekspektasi pada manusia.

Tapi “Tidak peduli sudah berapa lama kalian tidak bersama, tidak peduli sudah sejauh apa kalian tak lagi saling sapa, ia akan tetap mencintaimu. Selalu ada satu tempat khusus dihatinya untuk namamu. Dia terus berkata kepada teman-temannya jika tanpamu ia baik-baik saja. Tapi sebenarnya, ia tidak.” begitu katanya Brian Khrisna. Jadi tidak usah saling menyalahkan, cukup jadikan pelajaran. Toh kita bisa cari yang baru, sesimple itu ibaratnya berkata. Saya pun juga mencoba mencari yang baru waktu itu, ketemu juga tapi yaah masih belum bisa lupa sama si wanita ini, jadi tidak bisa lagi dilanjutin deh. Gitu sih ceritanya. Cuma nitip pesen aja gapapa ya barangkali dia atau temennya lihat. “I'm sorry to disappoint u but we all grow up and we change from time to time”

Oke sekian dari saya, terimakasih semoga banyak yang lihat eheh.
- Ali Mustofa



/Bie/
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Halo, Sayangku ke

POPULAR POSTS

Categories

  • Beropini
  • Bita
  • kisah
  • Letters
  • prosa
  • puisi

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2023 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ▼  2020 (12)
    • ▼  Desember (1)
      • Sebelum 2020 Benar-benar Berakhir
    • ►  November (1)
      • Hai, aku mau curhat nih
    • ►  Juli (2)
      • Bita
      • Lekat
    • ►  Juni (1)
      • Insecure atau Kurang Bersyukur?
    • ►  Mei (1)
      • Mereka Bahkan Tidak Tahu Siapa Kita
    • ►  April (2)
      • Terungkai
      • LETTER 3 : Masa Lalu Memang Selalu Bisa Jadi Cerita
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (9)

Stay Connected

  • Search

    About Me

    Foto saya
    Fybie Maharani Putri
    hello, it's me Fybie. I'm just ordinary girl. catch me at @fybieee on Instagram. love, Bie.
    Lihat profil lengkapku

    Pesan

    Kalau ada waktu lagi, sesekali mampirlah ke sini. Tengoklah aku.

    Copyright © 2016 bie with you. Created by OddThemes