bie with you
  • Home
  • About
  • Prosa
  • Puisi
  • Beropini
  • Kisah
  • Letters
Teruntuk : Reza (disamarkan)


Hai Reza, bagaimana perjalananmu menuju pulang? Ah aku rasa kau pasti baik baik saja. Tapi za, ada sebagian dari perasaanku yang tak pernah kau ketahui, jadi begini.

Aku kalah za, mengenalmu ternyata berujung kekalahan. Aku menyerah setelah sebelumnya kau buat patah.

Besok-besok kalau hatimu tak pernah ingin menetap, bilang ya, biar aku tidak perlu menyiapkan rumah yang hangat, biar cukup remah-remah biskuit saja.

Kau tau tidak? mengenalmu aku menekan dengan berani egoku.

Memangnya kamu siapa? berani mengatakan cintaku hanya permainan?

Dilembah penuh ilalang, asal kau tau, aku mampu dengan hebat menujumu. Sayang sekali, yang kau pilih malah perempuan lain dengan hati setengah mati. Tapi mungkin memang begitu, laki laki selalu singgah lalu pergi meninggalkan hati remuk dan harapan setengah jadi.

Terima Kasih za, mungkin memang begini adanya, ternyata jinggamu tak pernah mampu menjadi warna untuk senjaku.

Tak kan pernah za aku menyalahkan diriku atas gagalnya kisah ini, sebab kau sendiri yang membiarkan semuanya hancur tak terperi. Jingga memiliki banyak arti za, dan kau adalah makna paling menyakitkan untuk dijelaskan.

Sekali lagi kau membuatku faham bahwa mengatakan memiliki tujuan bersama tidak selamanya memiliki jalan yang sama. Kamu hebat za, baru berapa lama kau singgah, duduk bersamaku, tertawa dan sedikit bercerita namun sudah membuatku jatuh cinta.

Lalu, iya. Aku yang bodoh, aku tau kau akan pergi. Karena dari awal pun tujuanmu memang bukan aku. Selalu ada perempuan lain yang hatinya kau jaga hebat. Selalu ada hati lain yang kau sebut rumah. Gadis lain yang kau jadikan tujuan pulang.

Dan dia sudah pasti bukan aku.

Terima kasih za, andaikata kita akan bersua lagi, kuharap semua lukaku hari ini telah membaik, dan hatiku sudah berhenti mengutuki semesta karena menemukanmu denganku.

Sampai jumpa za, selamat pulang. Ku harap apapun yang sekarang telah kau ketahui, kau simpan rapat rapat, karena kau tau, kau pun akan selalu ada dalam setiap cerita jatuh cinta serta kehilanganku.

Dari yang telah patah,

Daun Lalu


/Bie/
Namaku Lila
Kata orang tuaku dalam bahasa jawa berarti rela
Dapat juga berarti meriam kecil yang terbuat dari gangsa
Atau juga berarti warna ungu muda
Orang-orang memanggilku gadis kecil yang rambutnya selalu terikat dua
Yang dulunya
Terlahir prematur sebesar buah semangka
Namun barangkali juga aku salah
Mungkin sebesar buah pepaya
Ah sudahlah

Kini aku seorang gadis remaja
Aku tidak pernah pergi ke alun-alun kota
Mencicipi ayam mekdi
Berfoto ria dan diunggah pada beranda sosial media
Aku  ini seorang gadis yang lugu mengutarakan apapun dalam pikiranku
Mungkin karena itu banyak yang tak ingin menjadikanku teman bermainnya
Aku gadis pendiam yang hidup dalam imaji
Yang aku ciptakan sendiri
Imaji yang terlalu indah untuk jadi kenyataan
Yang hanya dapat aku singgahi seorang diri

Aku Lila
Yang tidak ingin membuang waktu
Aku tak ingin tahu gosip-gosip tak penting
Cukup aku mengerti dongeng-dongeng jaman dahulu
Yang tak apa tak selalu berakhir bahagia
Kisah Marsinah, perempuan yang mati karena mewujudkan keadilan
Atau Kartini dan cerita feminimismenya

Hidup menurutku terlalu singkat
Jika hanya untuk mendengarkan bualan-bualan media
Hiruk pikuk pemerintahan
Yang hanya dibulat-bulatkan

Aku Lila
Aku rela
Rela waktuku ku habiskan hanya untuk hal-hal sederhana
Yang membuat hatiku bahagia dan lega hanya karena melakukannya

Aku Lila
Aku meriam kecil
Mampu mengubahkan pemikiran seluruh semesta 
jika aku bersedia

Aku Lila
Aku memiliki jiwa yang berwarna
Dapat memberi kesan berwarna padamu yang kelabu
Yang mampu memenangkanmu dari gelapnya masa lalu

Tetapi aku Lila
Gadis berkuncir dua yang sederhana
Berpakaian gaun hitam yang selalu ku suka
Berharap orang lain tak hanya melihatku
dari luaranku 

/Bie/

Kala dulu masih jadi satu
Mengapa tak kau eratkan saja pegangan tanganmu
Kini saat tak lagi padu
Kau paksakan untuk menggapaiku
Tidakkah kau tahu?
Kau bukan lagi seseorang yang ku tunggu untuk kata temu
Biarlah kau berakting seolah sedang lenguh
Agar kau tau bagaimana dulu
Betapa lengahnya aku
Yang pernah seolah perlahan lumpuh dimakan waktu

Sudah ku abaikan riuh rindu
Sikapmu telah jadi penentu
Bagaimana hubungan kau dan aku waktu itu

Pikiranku melayang-layang
Hatiku mencari bagiannya yang tak utuh
‘halo sayang,
Mengapa seakan hanya aku yang sendu dan merasa pilu?’

Tiap kali aku menulis puisi
Semuanya itu masih tentangmu
mungkin seperti ini rasanya merayakan kesendirian seorang diri
menenun sisa-sisa rasa pada tiap goresan penaku
berharap dilain waktu aku membacakannya untukmu, mimpi

waktu semata-mata memakan habis kita
dulu bersatu
kini terpisah
nanti tak tahu

tak apa kita terentang, benar tak apa
dan akupun tak ingin bertanya-tanya
semata-mata sedang ada yang mencobai kita
dengan kata pisah
aku tak tahu apakah ini sekedar lelucon belaka
atau nyata
lagi pula spasi memang tak salah
bila tak berjarak kalimat tak akan sempurna
bila berjarak luka milikku sempurna
hanya aku, tak mungkin kau juga
tak mungkin kita
hanya aku





/bie/

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Halo, Sayangku ke

POPULAR POSTS

  • Insecure atau Kurang Bersyukur?
    Hai, kalian apa kabar? Masih di rumah aja ya hehe. Pada postingan blog kali ini saya nggak akan bahas yang asmara-asmara dulu. Salah satu pe...
  • Mereka Bahkan Tidak Tahu Siapa Kita
    Mengapa seseorang datang sebagai penyembuh setelah itu ia menimbulkan luka baru yang sama parahnya. Membuat luka lama bernanah lagi. Baru...
  • Lekat
    Malam itu kembali teringat muncul dan sangat lekat semuanya mendadak pekat Diperlihatkan-Nya padaku tentang sesuatu yang pernah terika...

Categories

  • Beropini
  • Bita
  • kisah
  • Letters
  • prosa
  • puisi

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2023 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ►  2020 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ▼  2019 (14)
    • ▼  Desember (3)
      • LETTER 1 : “KALAH”
      • Namaku Lila
      • Terentang
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (9)

Stay Connected

  • Search

    About Me

    Foto saya
    Fybie Maharani Putri
    hello, it's me Fybie. I'm just ordinary girl. catch me at @fybieee on Instagram. love, Bie.
    Lihat profil lengkapku

    Pesan

    Kalau ada waktu lagi, sesekali mampirlah ke sini. Tengoklah aku.

    Copyright © 2016 bie with you. Created by OddThemes