bie with you
  • Home
  • About
  • Prosa
  • Puisi
  • Beropini
  • Kisah
  • Letters
Mengapa seseorang datang sebagai penyembuh setelah itu ia menimbulkan luka baru yang sama parahnya. Membuat luka lama bernanah lagi.


Baru kali ini saya menjadi seseorang yang berbeda —saya rasa. Dulu saya tidak pernah membaca lagi buku-buku lama. Mungkin sebatas melihat foto. Tapi setelah itu biasa saja. Tapi sekarang, saya bahkan mencari buku-buku lama itu. Buku yang dulu menjadi favorit dan tidak bisa dipungkiri kini ia menjadi racun yang menyakiti begitu dalam.


Bukan, bukan untuk mengingatnya. Aku membacanya bukan untuk mengingat kenangan manis tentang perempuan dan lelaki itu, aku hanya membaca epilog. Iya epilog, sebuah akhir. Akhir cerita, bab terakhir tentang mereka. Mengapa begitu, tidak membaca berurutan mulai prolog. Karena, sudah terlalu muak. Aku hanya ingin membaca akhirnya lagi. Akhir yang terlalu menyakitkan. Bahkan hanya untuk dibayangkan bahwa itu akan benar-benar jadi akhir bagi mereka yang untuk memulai saja belum. Aku membacanya, agar aku bisa membenci kisah mereka. Jahat kedengarannya. Aku tidak peduli, karena mungkin ada benarnya cara yang tidak pernah terpikirkan dan bahkan kedengarannya jahat ternyata adalah cara terbaik untuk membenci dan melupakan. Ah tidak, bukan membenci tapi belajar menerima dan mengikhlaskan. Mereka adalah judul buku yang manis, begitu juga isinya. Tapi entah mengapa, Penulisnya merubah haluan. Bab terakhir serta epilognya, benar-benar banting setir. Aku membenci akhir yang menyedihkan. Tapi apa tahu ku. Siapa tahu dibalik akhir cerita yang sad ending selalu ada hikmahnya? Mungkin kedua tokohnya memang tidak dituliskan untuk bersama. Ada yang lebih baik bagi mereka berdua. 


Mungkin mereka hanya sempat dipertemukan dijalan tol lalu dipisahkan di penghujung jalan keluar tol. Siapa tahu. Tidak perlu perandaian yang puitis untuk mereka yang manis ceritanya tapi akhirnya tetap pahit. Benar-benar plot twist. Kalau saja saya tahu, saya tidak akan membuka dan mendalami ceritanya. Sayangnya, sampul memang selalu menggoda. Benar. Kadang, kalimat "jangan lihat buku dari sampulnya" memang benar-benar terbukti nyata. Ya ya ya, saya paham sekarang. 


Di bab terakhir itu, saya memantapkan hati untuk bolak-balik membaca dua kalimat yang paling saya benci. Ya karena saya ingin segera merampungkan perasaan saya ini. Saya benar-benar ingin lekas pulih. Saya pikir, dengan membaca bolak-balik sesuatu yang saya benci itu akan segera membuat saya melupakannya. Walaupun memang harus mengorbankan hati sendiri. Tapi semoga saja itu berhasil. Saya juga sudah menghapus semua cuplikan dan potret bayangan yang sempat saya lihat di imajinasi saya. Bahkan suara-suara mereka berdua yang sempat muncul di imajinasi saya. Sayangnya ya walaupun sudah tidak tersisa, tapi ternyata hati juga punya ingatan terdalamnya. Itu yang susah saya hapus. Hati memang menyebalkan sekali.


Proses memang gapernah instan. Gak kaya masak indomie yang direbus 3menit, ditiriskan, tabur bumbu, aduk, lalu jadi. Ini lebih kaya menghitung bintang di langit yang ga ada habisnya. Eits, saya punya mata yang minus jadi saya gak bisa lihat bintang. Wah sedikit menyenangkan jadi saya tidak perlu melihat dan menghitung bintang. Tapi sebagai gantinya, seperti menjalani hari-hari dalam setahun. Makin dihitung, makin lama. Nggak cepet kelar. Menyebalkan dan nanti akhirnya ga ada yang tahu hasil dari prosesnya.


Tiap malam, ketika saya menangis teringat kisah dibuku itu yang tidak seperti bayangan saya, saya selalu berpikir. Apakah kedua tokohnya juga sedih karena cerita mereka tidak semulus itu. Apakah mereka menerima akhir cerita yang sudah ditentukan itu. Apakah mereka baik-baik saja. Jujur saja, saya terlalu pemikir. 


Saya ingin melihat satu bintang di langit. Bintang yang muncul kala senja tiba. Hanya bintang itu. Bahkan tak apa jika saya tidak bisa melihat ratusan bintang lainnya yang saat saya kecil dulu selalu saya hitung bersama kakek saya dari halaman rumah saat  malam mulai mengambil alih langit. Saya ingin melihat bintang itu. Tapi saya selalu mengurungkan niat. Saya tahu, bintang itu bukan untuk saya. Saya juga tahu, buku itu adalah salah satu buku yang mengajari saya bahwa hidup tidak hanya tentang bahagia dan hal-hal menyenangkan. Karena kalau cuman tentang itu, pasti kurang lengkap. Maka dari itu, sedih dan hal-hal menyakitkan dihadirkan. Hidup ngga selalu berakhir bahagia, ada juga yang berakhiran dengan kesedihan. Tapi, dari kesedihan itu kita bisa belajar bahwa akan ada banyak hal baru lainnya yang akan hadir lebih baik lagi. Karena bahagia nggak cuman tercipta di satu titik. Mungkin bukan di sudut ini kamu bahagia. Tapi di sudut sebelah sana. Selamat mencari.




























Maafkan aku yang sedari tadi bercerita dengan dalih kata "mereka" dan bukan "kita" atau "aku dan kamu". Karena untukku, "kita" sepertinya sudah tidak berlaku lagi saat kau bilang aku hanya teman dekat dan kau perlihatkan tanganmu yang menggandeng tangannya dengan bangga. Aku malu pada hatiku. Aku tahu, kisah yang telah kau ciptakan denganku bukan dibuat-buat. Bahkan saat kau nyatakan kau mencintaiku, aku tahu kau tulus. Hanya saja, waktu memang selalu menciptakan deadline nya sesuka hati. Kau tiba-tiba berubah dan berpaling. Hal menyedihkannya adalah kita benar-benar dipaksa selesai bahkan saat memulai saja kita belum. Kau benar-benar memberi sebuah akhir yang buruk, bahkan sangat buruk. Mungkin itu caramu, agar aku membencimu dan cepat melupakanmu. Kau salah. Ah Sudahlah, biarkan aku pulih sendiri. Pergilah kalian yang jauh, jangan sampai berniat untuk muncul di depan mataku. Aku benar-benar belajar bagaimana cara agar tidak membenci. Aku belajar bagaimana cara untuk mengikhlaskan dan menerima. Aku tahu, hal-hal baik akan datang setelah ini. Aku tidak ingin membuatmu iri. Semoga kau bahagia selalu. Buku yang ku maksud sedari tadi adalah kisah mu dan aku dulu. Sudah jelas. Sekarang, ku tutup buku itu. Selamat datang, kisah yang baru.


/Bie/
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Halo, Sayangku ke

POPULAR POSTS

  • Insecure atau Kurang Bersyukur?
    Hai, kalian apa kabar? Masih di rumah aja ya hehe. Pada postingan blog kali ini saya nggak akan bahas yang asmara-asmara dulu. Salah satu pe...
  • Mereka Bahkan Tidak Tahu Siapa Kita
    Mengapa seseorang datang sebagai penyembuh setelah itu ia menimbulkan luka baru yang sama parahnya. Membuat luka lama bernanah lagi. Baru...
  • Lekat
    Malam itu kembali teringat muncul dan sangat lekat semuanya mendadak pekat Diperlihatkan-Nya padaku tentang sesuatu yang pernah terika...

Categories

  • Beropini
  • Bita
  • kisah
  • Letters
  • prosa
  • puisi

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2023 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ▼  2020 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ▼  Mei (1)
      • Mereka Bahkan Tidak Tahu Siapa Kita
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (9)

Stay Connected

  • Search

    About Me

    Foto saya
    Fybie Maharani Putri
    hello, it's me Fybie. I'm just ordinary girl. catch me at @fybieee on Instagram. love, Bie.
    Lihat profil lengkapku

    Pesan

    Kalau ada waktu lagi, sesekali mampirlah ke sini. Tengoklah aku.

    Copyright © 2016 bie with you. Created by OddThemes