bie with you
  • Home
  • About
  • Prosa
  • Puisi
  • Beropini
  • Kisah
  • Letters


Kata selesai memang tidak pernah sederhana. Siapa yang bilang selesai, usai, dan berakhir itu mudah. Bahkan kenyataannya lebih sulit ketimbang memulai. Bahkan sepertinya, semua kata di dunia ini tidak ada yang tidak sulit.



Tapi siapa sangka setelah sesuatu berakhir, akan ada rasa enggan untuk memulai sesuatu itu lagi. Enggan seribu daya, mau sepatah kata. Iya enggan, karna sudah lelah berkecimpung dengan fase bertemu, bilang cinta, lalu hilang, kemudian saling pergi. 


Iya memang umur kita masih panjang. Tapi apa memang seharusnya kita menikmati waktu kita yang panjang itu dengan memilih, menikmati, lalu membuang. Rasanya seperti melakukan sesuatu yang sia-sia dan fasenya juga itu-itu saja. Bosan. Mungkin benar sendiri itu tidak masalah, yang tidak baik itu jika merasa sendirian. 


Sepertinya orang sepertimu ini sudah sangat terbiasa melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti itu. melatih dirimu sendiri untuk menerima, atau itu berarti kau terbiasa mencari lagi saat dirimu merasa hampa. Iya, merasa hampa. Hampa karena apa yang kau cari di dalam dirinya sudah kau temukan, dan sudah tidak ada lagi riuh berisik dalam hatimu yang menginginkannya. Kau bosan, lalu kau ingin pergi. Kemudian kau benar-benar pergi namun kau tidak mengakhiri. Yang kali ini kau lebih jahat. Menjerat, menikam habis, lalu kau ikat, kau seret, dan tidak kau lepas. Sudah beringas, tapi tidak habis juga kejamnya. Terus mencari mangsa.


Aku sudah terbiasa dengan orang sepertimu. Eiitss, walaupun sudah terbiasa kamu tidak punya hak untuk berlaku seperti itu padaku. Karena ‘terbiasa’ itulah, aku bisa membaca orang-orang sepertimu dengan mudah. Aku tidak ingin mengguruimu, tak ingin pula mendikte orang semacammu. Belajarlah sendiri sebelum terlambat, atau dunia yang akan mengajarimu. Orang-orang sepertimu ada untuk memberi pelajaran yang menyakitkan tapi berguna bagi orang-orang seperti saya. Jadi orang sepertimu masih ada baiknya tak hanya sekedar bernapas tapi juga menguatkan orang-orang sepertiku. Kamu serupa pelajaran yang sangat dibenci namun berguna.


Caraku menggambarkanmu itu bisa dengan banyak perumpamaan. Seperti tahun ini contohnya. Masalah yang tidak pernah diduga tiba-tiba datang silih berganti dan belum menemui akhirnya. Banyak siswa/siswi sudah membayar mahal lembaga bimbingan belajar mereka untuk ujian nasional, serta membeli buku-buku latihan soal untuk persiapan ujian nasional tapi hal tidak diduga ternyata membuat semua hal itu percuma dan sia-sia. Ujian nasional ditiadakan. Seperti hubunganmu denganku. Aku mati-matian mengerahkan segala usaha dan perjuangan eh ternyata kamu pergi begitu saja. Percuma, sia-sia. Aku menyayangkan waktuku, yang sudah terbuang cuma-cuma untuk terluka denganmu. 


Dulu kukira aku sudah tahu banyak hal tentangmu, namun ternyata tak sebutirpun aku tahu. Mungkin hanya 0,50%  yang aku tahu. Setelah dirimu pergi, aku paham ternyata memang keinginanmu tidak berbagi kisah denganku. Jangankan membuat kisah denganku, kisah hidupmu saja tidak ingin kau ceritakan padaku. Duh, bodohnya aku. 


Coba kapan-kapan menulislah. Tulislah sesuatu dengan jujur apa-apa yang sedang terjadi, apa yang sedang mengganggu dan apa yang ingin kau benahi. Yakinlah ada salah satu yang selalu bisa kau benahi. Karena tak semuanya serta-merta bisa dihancurkan begitu saja dan tidak semua hal bisa dengan cuma-cuma kehilangan arti begitu saja.


Aku dan dirimu sudah banyak berjuang untuk kita pada waktu itu. bahkan sebelum pertemuan kita sekalipun. Bukankah kau sudah merasakan sebuah kehilangan dan dihilangkan yang membuatmu tak ingin merasakannya dua kali. Harusnya, dulu sebelum kau mencoba menelaahku, kau harus mengkaji dirimu sendiri. Sesudah itu, mungkin kau baru tahu sebesar apa harapan yang harus kau berikan atau bahkan yang sudah kau berikan padaku. Agar di akhir aku tak merasa dikecewakan seperti itu. sekarang aku sadar, waktu itu aku tak bersalah soal harapan. Karna dirimu yang mengumbar harapan, karena aku hanya menangkap apa yang kau layangkan. 


Lagi pula aku kira karena sebelum pertemuan kita kau telah merasakan kehilangan dan dihilangkan kau tidak akan mungkin ingin merasakannya dua kali. Tapi ternyata aku salah, kau ingin merasakannya sekali lagi. Iya kau yang kehilangan, bukan aku. Karena aku dihilangkan olehmu, dan kau yang akan merasakan kehilanganku. Kau akan mencari-cariku diwujud orang lain. Iya aku, yang dulu kau anggap lukisan minyak berpigura cantik yang kau paku di dinding kusammu itu sampai kau bosan dan menggantikanku dengan yang lainnya.


Kita adalah aku dan kamu, kedua tokoh yang tidak se-alur cerita, seharusnya. Namun terpaksa untuk diuji cobakan. Sayangnya, akhirnya tetap sama. Sebuah kata gagal. Hingga naskah kita diarsipkan. Tak layak, karena kita gagal. Kini, kau tokoh utama pada ceritamu dan tanpa aku. Begitu juga aku, aku sebagai tokoh utama dinaskah hidupku dan lengkap tanpamu. Lagi pula, percuma sebuah cerita dirancang dengan banyak teka-teki namun tak memiliki akhir sebagai jawaban. Cerita itu hanya seperti roda yang terus berputar dan tidak memiliki tempat perhentian. Sepeda yang remnya blong. Lalu harus ditabrakkan agar berhenti. Seperti itu aku dan dirimu, dulu. 


/Bie/
Halo perkenalkan saya Ali Mustofa. Dipanggil rakyat dengan nama Ali. Dipanggil oleh pacar sayang. Eh ga punya ding hehe. Soalnya udah pisah, nah disini nih saya mau ceritain pengalaman kedua pacaran saya. Kenapa yang kedua? Soalnya yang pertama tidak banyak cerita yang bisa diceritakan. Kata orang cinta pertama sulit dilupakan saya rasa tidak juga. Mumpung bisa numpang blog orang lain hehe jadi gapapa lah yaa berkolaborasi ceritanya hehe. Emang bener kata seseorang “Otak manusia itu sangat mengagumkan, dari sejak dilahirkan otak bekerja non stop 24 jam. Saat tidur, pingsan, bahkan koma sekalipun otak terus-menerus bekerja, sampai kemudian berhenti saat merasakan jatuh cinta”. Ini relate banget sih sama cerita cinta saya. Jadi silahkan simak yaa.

Bermula saat memasuki dunia SMK, yang disebut cinta pandangan pertama tuh emang ada beneran ya. Saya pikir hanya kata alay seperti di ftv-ftv pagi. Waktu berkenalan, ada satu orang yang manggil nama saya paling nyeleneh. Saya dipanggilnya “Alay”. Dia cukup cantik, baik, dan perhatian. Membuat saya merasa ohh wanita ini sepertinya harus jadi pacar saya. Eh cepet banget yaa hehe, yaa gitulah ada satu lain hal yang membuat saya segitunya berhalu waktu itu. Tapi apa daya, saya seorang perokok, dia tidak suka asap rokok. Saya pecandu alkohol, apalagi dia mana mungkin suka. Yahh cuma jadi angan-angan bagi saya untuk bisa berpacaran sama wanita baik ini. Kehidupan SMK masih terus berjalan sampai ketika sudah masuk di bangku kelas 11 ada praktek kerja lapangan nih. Tempatnya semua beda-beda. Kebetulan saya dan wanita ini tempatnya yahh cukup dekat, kurang lebih 5 Km. Dekatlah, kan bucin hehe. Saya berusaha untuk terus dekat sama si wanita ini, sampai suatu hari dia bilang dia ga suka bau rokok. Oke, karena saking inginnya saya berpacaran dengan wanita ini saya memutuskan untuk berhenti rokok. Lama-kelamaan kebiasaan saya minum alkohol juga berhenti. Ketika semua udah dituruti saya berkabar via pesan singkat “Aku udah berhenti rokok, minum juga udah, sekarang gimana?” tanyaku. “Yahh terserah kamu, aku bingung mau nerima kamu apa engga” jawabnya singkat kemudian off. God damn u. Pikiran kembali kacau. Gak ada yang bisa buat tenang selain rokok sama minum. Yauda akhirnya ngulangin lagi. Berpikir pasrah. Ohh yauda dia kayaknya gamau, “mundur aja mas” teriak hati.

Kemudian suatu ketika temennya bilang “dia loh sebenernya suka sama kamu tapi masih belum yakin, takut kayak dulu dia ditinggal”. Sedikit harapan muncul. Tugas saya cukup meyakinkan dia bahwa saya ini layak buat jadi pacarnya. Urusan berubah jadi lebih baik kita atur sama-sama, begitu pikirku yang ternyata seirama dengan pikirnya. Hari berlanjut sampai kelas 12 SMK saya baru berpacaran. Masih ingat tanggalnya dan jamnya. 16 Agustus 2019 pukul 18.55 WIB. Iya malam sebelum hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Wahh masih belum lupa tuh gimana bahagianya, ketawa ketiwi berdua. Yahh sepertinya kalian juga pernah ngerasain lah ya. Nahh waktu pacaran itu bener-bener saya udah berhenti sama rokok sama minum alkohol. Beneran berhenti. Karena dia. Bucin ga sih? Gatau ya, saya rasa tidak sebab kita cinta bukan? Oke. Jam terus berputar, hari silih berganti. Berpacaran membuat jenuh ya? Tapi suka hehe. Berpacaran membuat sedih ya? Hidup emang gitu, hari ini sedih yah suatu saat pasti bahagia bukan. Semua sama aja kalau kita hidup. Kalau mau tenang ya mati aja, itupun ga selalu juga.

Cinta itu emang rumit, ga selalu berjalan mulus. Iya ga semua bisa dipertahankan terlebih kami yang sama sama emosional. Lebih tepatnya saya. Sedih suka dipendam sendiri, kemudian cuek sama sekitar. Yah memang salah saya. Sampai akhirnya kami benar-benar berpisah. Sepertinya berpisah kurang pas kalau disini, lebih tepatnya tidak lagi bersama. Eaa hehe. Yahh seperti itulah kehidupan. Tiap awal membutuhkan akhir, tiap yang bernyawa pasti mati, tiap yang bertemu suatu saat berpisah. Entah itu baik atau buruk tapi dunia nyatanya seperti itu. Entah itu adil atau zalim tapi tuhan menggariskan seperti itu. Layaknya saya yang menganggap dia awal dari semua perjalanan cinta. Dia bilang waktu itu saya adalah akhir dari penantian cinta. Ternyata tipuannya sebagus itu. Dia mampu merubah hidup saya yang hancur, sekaligus dia juga yang mampu membuat hati saya porak-poranda. Dia hebat, saya yang tidak. Saya yang salah, dia tidak. Dia berhasil membuat perubahan untuk saya, saya yang gagal membuat dia percaya akan perubahan itu. Sekejap dia layaknya dewa, bahkan dewi, sekejap pula saya berharap dia mati. “Aku udah capek” katanya. “Istirahat aja, mau?” saya tanya. “Aku mau semua selesai” katanya. “Kita?” tanya saya sambil menghisap rokok dalam dalam. “Iya, aku capek, kamu bilang ga akan ngerokok, kamu bilang udah berhenti minum, kamu bilang kamu ga suka dibohongi, tapi nyatanya, bajingan kamu.” katanya tegas dengan mata memerah menetes air lalu pergi. Saya diam, teman-teman yang melihat juga. Iya, itu perpisahan. Itu terakhir kalinya kami berhubungan, setelah itu semua yang dia tahu tentang saya dihapus begitu saja tanpa ragu. Saya biasa saja, pada awalnya. Kemudian dia mencari yang baru. Saya sebenernya tahu, hanya saja ini semua salah saya jadi lebih baik memilih untuk tak berbicara. Barusan saya tau ternyata kepunyaannya yang baru tidak sebaik saya. Bahkan lebih menyakitkan kata temannya. Ahh seperti itulah cinta. Berjumpa kemudian cinta. Cinta kemudian bersama. Bersama kemudia berpisah. Berpisah kemudian saling lupa. Sialan kau cinta!! Tidak baik mengutuk cinta sebab ia tak salah. Yang salah kita, iya kita. Yang membuat kita terluka adalah kita yang terlalu berekspektasi pada manusia.

Tapi “Tidak peduli sudah berapa lama kalian tidak bersama, tidak peduli sudah sejauh apa kalian tak lagi saling sapa, ia akan tetap mencintaimu. Selalu ada satu tempat khusus dihatinya untuk namamu. Dia terus berkata kepada teman-temannya jika tanpamu ia baik-baik saja. Tapi sebenarnya, ia tidak.” begitu katanya Brian Khrisna. Jadi tidak usah saling menyalahkan, cukup jadikan pelajaran. Toh kita bisa cari yang baru, sesimple itu ibaratnya berkata. Saya pun juga mencoba mencari yang baru waktu itu, ketemu juga tapi yaah masih belum bisa lupa sama si wanita ini, jadi tidak bisa lagi dilanjutin deh. Gitu sih ceritanya. Cuma nitip pesen aja gapapa ya barangkali dia atau temennya lihat. “I'm sorry to disappoint u but we all grow up and we change from time to time”

Oke sekian dari saya, terimakasih semoga banyak yang lihat eheh.
- Ali Mustofa



/Bie/
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Halo, Sayangku ke

POPULAR POSTS

  • Insecure atau Kurang Bersyukur?
    Hai, kalian apa kabar? Masih di rumah aja ya hehe. Pada postingan blog kali ini saya nggak akan bahas yang asmara-asmara dulu. Salah satu pe...
  • Mereka Bahkan Tidak Tahu Siapa Kita
    Mengapa seseorang datang sebagai penyembuh setelah itu ia menimbulkan luka baru yang sama parahnya. Membuat luka lama bernanah lagi. Baru...
  • Lekat
    Malam itu kembali teringat muncul dan sangat lekat semuanya mendadak pekat Diperlihatkan-Nya padaku tentang sesuatu yang pernah terika...

Categories

  • Beropini
  • Bita
  • kisah
  • Letters
  • prosa
  • puisi

Blog Archive

  • ►  2025 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2023 (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Mei (1)
  • ▼  2020 (12)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ▼  April (2)
      • Terungkai
      • LETTER 3 : Masa Lalu Memang Selalu Bisa Jadi Cerita
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (3)
  • ►  2019 (14)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (9)

Stay Connected

  • Search

    About Me

    Foto saya
    Fybie Maharani Putri
    hello, it's me Fybie. I'm just ordinary girl. catch me at @fybieee on Instagram. love, Bie.
    Lihat profil lengkapku

    Pesan

    Kalau ada waktu lagi, sesekali mampirlah ke sini. Tengoklah aku.

    Copyright © 2016 bie with you. Created by OddThemes