Masih terasa betul waktu dimana aku benar-benar hanya ingin diam tapi kau justru ramai, merengek ingin didengarkan. Masih nyata sekali rasanya diingatanku, raut wajahmu yang sudah tidak memiliki semangat dan tanganmu yang terus mengacak-acak rambut yang sudah mulai gondrong itu. Malam yang seharusnya sepi, mendadak gaduh karena isi kepala ini tidak ingin tenang ditambah dirimu yang juga tidak bisa menemukan tenangmu sendiri. Padahal sebenarnya diriku ini juga sedang pusing sekali, tapi memang sudah biasa diam dan tidak terlalu berekspresi saja.
Kalau dipikir-pikir, betapa konyolnya kita. Dua insan yang sedang mencari cara untuk mengeluarkan isi kepala, berharap satu sama lain dapat saling bantu menenangkan. Aku kira hanya aku di sini yang sukar untuk dimengerti, ternyata kau juga sama sulitnya. Aku lupa isi kepalamu yang berisi terkaan-terkaan, teori, dan naskah yang kau ciptakan sendiri di dalamnya itu termasuk bagian dari dirimu yang juga sama-sama ingin didengar serta dimengerti.
Ternyata tidak hanya ragamu yang ingin ditemani, tapi riuh isi kepalamu juga butuh disayang.
Tidak ku sangka, kenyataannya kau juga butuh dimanja. Kalau sudah begini tingkahmu ada-ada saja. Banyak sekali maunya. Padahal sebetulnya, semua ini hanya sementara. Fase seperti ini sepertinya sangat pas ya untuk menciptakan pekara, kala sesuatu tidak cocok sedikit keluarlah lava dari kepalamu yang sudah panas karna memasak naskah itu. Konsepnya, tidak ribut tidak lengkap rasanya. Muda-mudi jaman sekarang memang sedang lucu-lucunya. Mudah sekali tertekan mentalnya, kalau kata para tetua.
Salah satu terkaan yang tercipta di dalam kepalamu itu membuatku jengkel sekali. Kau selalu berpikir bahwa aku akan pergi jauh, lebih jauh dari jarak kita yang terbentang antara kota-kota di Pulau Jawa. Ya, jarak antar rasa. Padahal aku tidak akan kemana-mana, cukup kita terbentang jauh dipisahkan oleh kota dan tanggung jawab di tempat kita berada saja. Aku tidak akan kemana-mana kecuali kau yang memintaku untuk berhenti dan pergi.
Caramu dan caraku memang berbeda dalam hal menghadapi gaduhnya isi kepala. Kau langsung mengungkapkannya tanpa ragu padaku, walaupun memang harus ditanya terlebih dulu. Sedang aku tipe manusia yang memilih untuk pergi dulu untuk menenangkan diri, berusaha memahami apa yang diinginkan oleh isi kepala. Tentu saja caraku itu membuat sel-sel yang ada dalam kepalamu semakin gaduh tidak bisa ditenangkan ya? kau semakin berpikir bahwa aku sengaja menghindarimu. Maafkan aku ya, sepertinya aku juga perlu belajar untuk mengungkapkan dan tidak hanya memahami lalu mendiamkan seakan semuanya akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Padahal nyatanya seperti menyimpan bom waktu dalam kepalaku, tinggal menunggu waktu untuk tersulut emosi dan meledak. Tidak hanya aku yang akan terluka karena ledakannya, tapi kau juga. Ya, lebih baik aku belajar dari caramu itu walaupun akan merepotkan karena yang rewel nanti tidak hanya kau, tapi aku juga.
Kau sering sekali berkata, "kalau kamu kaya gini, nggak cuman kamu yang sakit, aku, dan kita juga lama-lama nggak akan baik-baik aja.".
Kenyataannya kalimatmu itu memang benar, pada akhirnya kau selalu mengejar dan aku berlari dari kejaranmu. Lalu kita berseteru, kata, kalimat, dan paragraf-paragraf itu semua beradu. Semua ingin dibaca dan didengarkan. Merasa bahwa diri kita sendirilah pemenangnya.
Sayang, bertahanlah lebih lama ya? Maafkan aku yang seringkali lupa apa artinya sebuah usaha dan kata lelah. Mari kita kembali mengingat titik dimana kita saling menemukan, saat sama-sama sedang mencari.
Saat dimana otak dan hati kita sedang bergelut sendiri, rasanya pasti keruh sekali. Tapi mari kita belajar untuk tidak memenangkan dan memberi makan ego kita ya. Karena aku tidak ingin mendengarkan egomu, begitu juga denganmu kan. Riuh kepala dan api amarahku tidak bisa kau peluk dengan bara api. Tenangkan aku dengan hangat dan segala rasa pengertian yang datangnya dari hatimu. Aku juga akan meraih lalu mendekapmu dengan rasa pengertian yang sama.
Tetaplah jadi sosok menjengkelkan yang selalu ingin mengalahkanku dengan ambisimu. Jangan merubah sifat kepala batumu yang kekeh untuk tetap bersamaku dikala banyak sosok lain mengejarmu. Buatlah terus perempuan lain cemburu karena bahagiaku yang disebabkan olehmu. Biarkan mereka berteriak ingin sosok sepertimu, walaupun kau hanya aku yang punya.
Jangan merubah manismu yang terkadang juga menyebalkan itu. Tetaplah bersamaku dan katakan apa yang membuatmu terganggu hingga gundah hatimu. Beritahu aku apa yang menjadi kesalahanku dan bagian mana yang harus aku benahi. Jangan lari kemana-mana, tetap jadikan aku tujuanmu berlari dikala kau mulai resah dan butuh rumah. Biarlah langkah kakimu selalu mengarah ke pulang yang itu adalah aku. Jangan khawatir, aku tidak akan kemana-mana sama seperti yang sudah kukatakan dari tadi. Aku akan tetap di sini, menunggumu. Aku akan mendengarkan dan membantumu mencerahkan kembali harimu yang sempat disinggahi badai topan. Biarkan hanya aku yang melihat kekacauanmu, orang lain cukup tahu kau baik-baik saja. Biarlah dunia ini tahu kau sekuat itu, begitu juga dengan bagaimana dunia melihatku karenamu.
Terlepas dari segala abu-abu dan keruhnya otak serta hati kita beberapa waktu, aku tidak lelah juga bersyukur berpuluh-puluh kali karena aku berhasil ditemukan olehmu. Terimakasih ya. Karna dirimu, aku tahu seperti apa rasanya utuh.
/fay

