Bita
"Dia
hanya gadis iblis berhati dingin."
Setiap
orang akan berbicara seperti itu tentang dia, Gwenny Nabita. Memang ada
benarnya, dia adalah gadis berhati dingin dan terlihat menyeramkan seperti
iblis karena memiliki mata yang tajam. Orang lain hanya mudah menyimpulkan sesuatu
dari apa yang mereka lihat. Orang yang dekat dengannya akan memanggilnya “Bi” atau "Bita" sedangkan
orang yang hanya sebatas tahu dan mengenalnya akan
memanggilnya "Gwen" atau "Gwenny". Ia
dikenal dengan sebutan "Gwenny, gadis iblis berhati
dingin". Sungguh sangat disayangkan ketika namanya yang memiliki
arti "gadis pintar yang berjiwa seni
dan diberkati" harus kalah dengan sebutan yang orang lain
labelkan untuk dirinya.
Sampai ia beranjak dewasa pun orang-orang
tetap mengenalnya dengan sebutan itu. hingga tidak ada seorangpun yang berani
berteman dengannya. Ia selalu sendiri jika tanpa Rocky. Tak ada seorang pun
jadi temannya di sekolah, di lingkungan tempat tinggalnya, ataupun di rumahnya.
Namun ia sangat ingin memiliki teman, ia sangat ingin berbagi cerita dengan
orang lain, menceritakan tentang dirinya yang tak orang lain ketahui. Bita
hanya ingin ditemani, ia tak butuh banyak teman. Hanya butuh satu yang mampu menghadapi
dan menerima dirinya selain Rocky anjing peliharaannya. Ia juga ingin memiliki
seorang teman manusia.
***
“Bita tidak apa-apa sendirian. Tapi ‘tidak apa-apa’ pun tak akan bisa berlangsung selamanya.” Tulis Bita di dalam buku hariannya.
Ia terlalu kesepian untuk dunia yang
ramai. Ia memang bukan lagi seorang gadis kecil lagi. Namun ia adalah perempuan
yang masih jadi gadis kecil bagi dunia yang lebar dan luas ini. Bita butuh
seseorang yang mampu menggandeng dan menemaninya menghadapi sekaligus menjalani
harinya di dunia ini.
Untuk sebuah kasih yang seharusnya bisa ia
dapatkan dari kedua orangtuanya pun ia tak dapat itu. Ayah dan Ibunya berpisah
saat Bita masih berumur 5 tahun. Terlalu kecil bagi Bita waktu itu untuk
mengerti dan belajar menyembunyikan perasaannya. Sejak saat itu Bita sibuk
merawat ibunya yang depresi karena berpisah dengan ayahnya yang meninggalkannya
dan ibunya demi hidup dengan wanita lain. Bita sibuk merawat dan menemani
ibunya sampai-sampai ia lupa jika ia juga sangat sedih. Ia tak lupa bagaimana
caranya menangis, ia hanya lupa bagaimana cara dan rasanya tertawa.
***
“Bita..”
“Iya bu, sebentar.” Bita menutup buku
hariannya dan beranjak ke kamar ibunya yang bersandingan dengan kamarnya.
Bita membenarkan rambut ibunya dan
bertanya pelan, “Bita di sini bu, ibu butuh apa?”
“Jason”
Bita tercekat saat ibunya menyebut nama
ayahnya, setelah bertahun-tahun baru kali ini ia mendengar ibunya menyebut nama
ayahnya lagi.
“Ada apa bu, kenapa ibu menyebut nama ayah
lagi? Ayah sudah per..”
“Ia pasti akan kembali kan?” tanya ibunya
dengan mata berbinar-binar.
“Tidurlah bu, ia akan menemuimu nanti.”
Lalu ibunya tersenyum dan memalingkan tubuhnya ke sisi kasur yang lain dan
berusaha tidur.
Sementara Bita masih menatapi punggung ibunya,
ia perlahan menyeka air mata yang hampir terjun bebas dari ujung matanya.
Dalam sunyinya kamar itu Bita bertanya
pada ibunya yang seakan-akan akan menjawabnya dalam tidurnya, “Sedalam apakah
sumur persediaan kata maafmu untuk ayah bu, sedalam apakah ibu
mencintainya?” Bita tak mampu lagi
menahan perasaannya, ia menangis tak bersuara di kamar ibunya.
***
Setiap harinya Bita bangun pukul 05.00
pagi. Membersihkan dirinya, membersihkan rumah, membuat sarapan, membantu
ibunya membersihkan diri, sarapan bersama sembari memastikan ibunya makan
dengan baik. Tak lupa memberi makan Rocky juga. Semua tugas di pagi hari
selesai, Bita keluar rumah setelah memastikan ibunya baik-baik saja. Bita
menuju ke bukit dekat rumahnya, tempat favorit yang selalu ia tuju untuk
menulis dan bermain dengan Rocky. Tempat yang sunyi, karena lokasinya yang
dekat dengan rumah Bita semua orang tahu bukit itu tempat Bita sering berada
jadi tak ada yang berani kesana. Bukan tak berani karena bukitnya, tapi karena
ada Bita ada di sana. Karena Bita adalah si ‘Gwenny gadis iblis berhati
dingin’. Bita sudah terbiasa. Sangat terbiasa dengan semua itu. Semua orang di
desa percaya dengan sebutan itu, menyangka bahwa Bita benar-benar gadis iblis.
Bita tak pernah mempermasalahkannya. Hanya saja sosok yang mengumbar sebutan
itu adalah orang yang pernah jadi berarti bagi Bita.
Bita hanya tersenyum tipis melihat langit
yang dihiasi awan-awan sambil mengingat semua itu. Namun hatinya terasa begitu
perih.
“Rocky!”
“guk.. guk..”
Bita melempar mainan Rocky, lalu Rocky
berlari menuju ke arah mana mainannya tadi dilempar. Setelah menemukannya,
Rocky membawanya kembali ke Bita. Bita bermain-main kecil dengan anjing
peliharaannya bermaksud melupakan kenangan yang sedikit menyakitkan baginya
itu.
Hanya bermain dengan Rocky saja bisa
mengembalikan perasaannya yang sempat biru. “Andai aku memiliki teman selain
Rocky, pasti akan sangat menyenangkan.”
Bita bergumam dalam hati.
Awan tiba-tiba menjadi mendung, Bita dan
Rocky pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, keadaan rumah sangat tidak bisa
diduga. Semua barang berserakan di lantai, bahkan beberapa hancur. Rocky
mendadak jadi agresif dan berlari ke arah dapur. Bita khawatir dengan ibunya,
iapun menuju kamar ibunya dengan hati yang tidak tenang. Ketika memasuki kamar
ibunya, betapa kagetnya Bita melihat ibunya duduk di lantai ujung kamar dan
terluka disekujur tubuhnya.
“Bu, kenapa rumah jadi seperti ini dan ibu
terluka?” tanya Bita, matanya sudah berbinar-binar.
“Ja.. Jason..” rintih ibunya.
“Ada apa dengan ayah bu, ayah datang ke
rumah?”
“Mencari Bita.. di.. dia pikir ibu mengusirmu
dari rumah, karena orang disekitar sini bilang kau adalah gadis iblis berhati
dingin.”
Bita bingung, darimana ayahnya tahu
orang-orang disini menyebutnya begitu. Ia penasaran, “Darimana ayah tahu?”
“A.. Ayahmu memata-mataimu selama ini, ia bilang
begitu saat kesini tadi.” Bita terdiam mendengar jawaban ibunya. Ayahnya memata-matainya,
setelah meninggalkannya dan ibunya sungguh tidak terduga akan seperti itu, pikir
Bita.
Bita membantu ibunya ke kasur dan
mengobati luka-lukanya. Tiba-tiba Rocky datang sambil menggigit sepucuk kertas.
Bita penasaran dan mengambilnya. Sebuah amplop ternyata, selembar surat.
Bersambung...
Tags:
Bita



1 komentar