Aku penasaran dengan senyumnya
Semalam ada yang tidak tenang. Berusaha mencari apa yang sebenarnya ia cari. Membaca sesuatu yang membuatnya tenang, mendengarkan suara musik yang mengalun pelan mengisi malam. Tapi hatinya tak tenang. Berusaha berdamai dengan hatinya, tapi hatinya menolak. Dada kirinya serasa meminta sebuah kebebasan. Sakit, seperti terlalu ditekan. Seharusnya malam itu ia beristirahat, namun malam memaksanya untuk terus membuka mata. Banyak hal lalu lalang di kepalanya yang kecil itu. Sudah seperti jalanan di tengah kota yang selalu macet. Entah bagaimana ia hanya bisa diam dan berusaha melakukan yang lain agar tak terus-menerus menaruh peduli pada keributan di kepalanya. Malamnya sunyi, tidak ada suara lain kecuali musik yang ia putar pelan dan suara kepalanya yang berusaha ia redam. Ia terlalu lelah untuk merasakan apa yang seharusnya tak dirasakan. Pada tempat tidurnya yang besar itu, ia merasa menjadi seorang anak kecil di tengah ladang rumput gersang yang kosong. Ia merasakan kesendirian dengan sendirinya. Memutuskan untuk berada di tengah dan menidurkan dirinya disana. Gadis kecil yang meringkuk memeluk dirinya sendiri, sedang merasa kesulitan untuk mengendalikan isi kepala dan hatinya. Malam itu dingin, ia mulai memejamkan matanya. Tak tidur, hanya menikmati gelap yang ia ciptakan sendiri. Lama sekali, bahkan bulan mengira gadis itu sudah terlelap dengan mimpi indahnya. "mana ada mimpi indah?" batin gadis itu dalam diamnya. "hanya ada sakit yang tak pernah terkatakan." lanjutnya dalam diam, berharap bulan mendengarnya. Payah, siapa yang dapat mendengarnya jika ia terus diam? Tidak ada.
Sesuatu terkadang memang tak perlu dikatakan, hanya perlu dirasakan dan dilawan. Jika kalian tahu bunga puteri malu, yang padanya terdapat bulu dan duri halus yang mampu menyakiti kalian tanpa kalian sadari saat mencoba untuk menyentuhnya ya seperti itulah rasanya. Seperti itulah rasa sakitnya, ketika ia sendiri berusaha untuk menyembuhkannya. Puteri malu, kau sentuh sedikit saja, ia langsung menguncupkan daun-daunnya. Sangat sensitif. Ya seperti itulah. Memotongnya, berarti kau membunuh separuh dari dirinya. Membiarkannya, berarti kau meninggalkannya dalam rasa sakit. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa membantunya. Percuma saja. Gadis itu, memang seperti itulah dirinya.
Terkadang, perasaan yang sudah ia rawat agar tetap baik-baik saja dengan mudahnya dirusak lagi oleh suatu hal. Ia sudah susah-susah membuatnya agar memerah tapi orang lain membuatnya menjadi biru lagi.
Hingga matahari mulai mengintip, gadis itu tak kunjung terlelap. Namun ketika matahari mulai naik ke singgasananya, ia mulai tertidur. Ia adalah gadis yang terlihat sangat tenang, hanya ketika ia sudah tidur. Karena walaupun memang kepribadiannya tak banyak bicara, ia adalah gadis yang terlihat sangat berisik dan selalu ribut dengan dirinya sendiri. Jiwanya sangat tentram ketika ia sudah terlelap. Sayangnya, tidurnya tak pernah bertahan lama. Itulah yang menyiksanya, ketika ia harus membuka matanya dan kepalanya mulai ramai lagi. Selalu ada bayangan awan gelap mengitari dirinya, namun tetap ada sinar yang walaupun redup berusaha untuk terus menyala dalam dadanya. Tangannya yang selalu dingin itu banyak ditepis orang walaupun hatinya yang terluka itu berusaha menyalurkan kehangatan yang masih tersisa. Seharusnya ia menggunakan kehangatan yang tersisa itu untuk merawat hatinya sendiri. Memang bodoh. Berusaha mengulurkan tangan bagi orang lain padahal jelas-jelas dirinya yang butuh ditolong. Sangat tidak tahu diri, orang lain katakan.
Sebenarnya masih ada orang yang ingin membantunya keluar dari rasa sakitnya. Namun ia yang mendadak beku jika orang lain datang bermaksud untuk membantu. Bukan maksud ia ingin bungkam, ia hanya kesulitan untuk membuka dirinya. Oleh karena itu, orang-orang akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mundur. Mereka berpikir, "untuk apa membantu seseorang yang tidak ingin ditolong". Mereka benar, mereka tak harus membuang waktu berharga mereka untuk gadis yang kesulitan menghadapi dirinya sendiri. Gadis yang lemah untuk dirinya, tapi berubah menjadi seorang yang berbeda jika melihat orang lain yang butuh pertolongan. Hal yang belum tepat untuk hidup di dunia, jika belum membenahi diri tapi bermaksud membenahi yang lain. Caranya keliru, tapi dengan itu dia bisa bertahan. Dia ingin didengarkan, tapi ia tak ingin membebani orang lain dengan ceritanya. Ia ingin didengarkan juga, tapi ia tak pernah siap menerima respon yang tidak ia inginkan. Itu sebabnya dia memilih untuk diam dan menyimpannya sendiri, mencari jalan keluarnya sendiri. Walaupun yang terjadi justru ia seringkali berlari kabur dari isi kepalanya sendiri. Lalu bersembunyi. Bodohnya ia lupa jika ia tak bisa benar-benar bersembunyi dari dirinya sendiri. Kebodohannya natural tidak dibuat-buat. Membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Entah bagaimana dia akan bertahan selanjutnya, yang tau arah langkahnya ya dirinya sendiri. Tidak tertebak, caranya bertahan terlalu random dan aneh bagi orang lain.
Aku penasaran dengan senyumnya, penasaran bagaimana cara ia tertawa. Bagaimana ia berusaha mewarnai dirinya sendiri walau kemungkinan warnanya hanya bertahan sebentar. Bagaimana caranya berdiri dengan kakinya yang kecil dan kurus itu sambil menahan banyak masalah di bahu, hati, dan kepalanya. Bagaimana bisa ia bertahan dalam situasinya, hanya dengan meringkuk ditengah kasur sambil memeluk lutut dan menangis dalam diamnya.
Tertinggal : jika kalian tahu suatu kalimat yang mengatakan "suatu tulisan akan mudah dibaca dan dimengerti jika penulisnya menatanya dengan hati yang baik-baik saja.". Akan ada tiga kemungkinan saat kalian membacanya, yang pertama kalian mengerti karena memang mengerti atau karena kalian pernah mengalaminya. Yang kedua, kalian tidak mengerti karna kalian memang tidak mengerti. Yang ketiga, kalian tidak mengerti karena penulisnya menuliskannya dengan cara yang aneh dan tidak mudah dimengerti karena hatinya sedang berantakan.
📌 Cute :
📌 sad song to cry to :
/bie
Tags:
kisah


0 komentar