Perempuan dan Jendela Kamar

Setelah gempa sepersekian detik, kini hujan membasahi Tangerang. Satu perempuan menangis di pojokan kamarnya sambil menatap jauh ke luar jendela, melihat tetesan air hujan  yang berlomba jatuh ke bumi. Tidak ada seorangpun bertanya mengapa dan hal itu dirasa lebih baik untuknya yang sulit menjelaskan tentang perasaannya sendiri. Terlalu banyak amarah yang ia peluk dan simpan sendiri. Terlalu banyak sedih yang berusaha ia tahan agar tidak menangis. Namun apa daya, buyar semua yang berusaha ia simpan. Ia tak mampu mengendalikan hati. 

Hujan tak kunjung reda dan semakin deras. Perempuan ini semakin merasakan sesak di dadanya. Kalau diibaratkan sakit tak berdarah, berarti memar. Hatinya memar, dan jangan sampai mengeras jika terlalu lama. Semalam kawannya berkata, 

"sebenarnya kita tidak akan sekalut ini jika hati kita sedang tidak kacau balau." 

kalimatnya tepat sasaran dan sangat mendarat. Semua yang dikerjakannya kacau, seperti hatinya. Ia kira akan mudah jika berlari ke dalam kesibukannya yang ada. Justru kekacauan itu tidak dapat ia tata dan merusak segalanya. Banyak khawatir yang tidak dapat ia selesaikan, bahkan ditenangkan. Kepalanya sakit, hatinya lelah, namun langit mulai terang, hujan mereda dan jatuh hanya rintik-rintik, sayangnya tidak dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya. Awan hitam di langit mulai berjalan pergi, tapi tidak dengan awan dan gemuruh petir di dalam hatinya. Lagu Tulus masih terus berputar menemani rasa kesepiannya. Kesepian bukan tentang ada teman bukan? kesepian tentang pikiran kita yang tidak dapat berhenti berpikir bahwa kita sedang sendiri. 

Banyak hal yang dipikirkan membuatnya sulit berdamai dengan diri sendiri, terkadang ia hanya perlu disandarkan dan dibelai kepalanya kemudian segala emosinya reda. Dia tidak tahu banyak orang mengasihinya tanpa perlu diungkapkan, ia akan baik-baik saja. Rasa khawatir yang ada di dalam kepala dan hatinya itu selalu menang, bisakah dirinya mengatasi pergumulannya ini?

Bagaimana ia tak merasa sendiri jika orang-orang yang ia kira sedekat itu dengannya seringkali meninggalkannya dengan yang lain, berseteru dengannya, memberinya banyak ekspektasi dan tidak mendengarkannya namun justru menyela dan memberikan banyak masukan yang tak perlu ia dengar? yang ia butuhkan hanya ditemani dan didengarkan.

Ia menyukai langit dan langit yang ia sukai selalu berubah-ubah tak pernah sama, namun ia selalu menyukainya. Langit yang ia lihat tak pernah sama dengan yang berusaha ia tangkap dengan kamera ponselnya. Itulah mengapa ia pernah berkata bahwa apa yang dilihat mata kita tidak akan pernah sama dengan apa yang dilihat orang lain dengan mata mereka. Hati tak bisa ditebak seperti langit yang selalu berubah. Mungkin ini juga menjadi alasan mengapa ia memilih untuk dekat dengan jendela, sangat klasik. 




Sepertinya perempuan ini hanya perlu waktunya sendiri, berdiam dan mengeluarkan apa yang memang seharusnya dibuang. Tak lama, hujan sepenuhnya berhenti dan tangisnya sudah tak ada lagi.







/f.

Share:

0 komentar