Terungkai
Tapi siapa sangka setelah sesuatu berakhir, akan ada rasa enggan untuk memulai sesuatu itu lagi. Enggan seribu daya, mau sepatah kata. Iya enggan, karna sudah lelah berkecimpung dengan fase bertemu, bilang cinta, lalu hilang, kemudian saling pergi.
Iya memang umur kita masih panjang. Tapi apa memang seharusnya kita menikmati waktu kita yang panjang itu dengan memilih, menikmati, lalu membuang. Rasanya seperti melakukan sesuatu yang sia-sia dan fasenya juga itu-itu saja. Bosan. Mungkin benar sendiri itu tidak masalah, yang tidak baik itu jika merasa sendirian.
Sepertinya orang sepertimu ini sudah sangat terbiasa melakukan kebiasaan-kebiasaan seperti itu. melatih dirimu sendiri untuk menerima, atau itu berarti kau terbiasa mencari lagi saat dirimu merasa hampa. Iya, merasa hampa. Hampa karena apa yang kau cari di dalam dirinya sudah kau temukan, dan sudah tidak ada lagi riuh berisik dalam hatimu yang menginginkannya. Kau bosan, lalu kau ingin pergi. Kemudian kau benar-benar pergi namun kau tidak mengakhiri. Yang kali ini kau lebih jahat. Menjerat, menikam habis, lalu kau ikat, kau seret, dan tidak kau lepas. Sudah beringas, tapi tidak habis juga kejamnya. Terus mencari mangsa.
Aku sudah terbiasa dengan orang sepertimu. Eiitss, walaupun sudah terbiasa kamu tidak punya hak untuk berlaku seperti itu padaku. Karena ‘terbiasa’ itulah, aku bisa membaca orang-orang sepertimu dengan mudah. Aku tidak ingin mengguruimu, tak ingin pula mendikte orang semacammu. Belajarlah sendiri sebelum terlambat, atau dunia yang akan mengajarimu. Orang-orang sepertimu ada untuk memberi pelajaran yang menyakitkan tapi berguna bagi orang-orang seperti saya. Jadi orang sepertimu masih ada baiknya tak hanya sekedar bernapas tapi juga menguatkan orang-orang sepertiku. Kamu serupa pelajaran yang sangat dibenci namun berguna.
Caraku menggambarkanmu itu bisa dengan banyak perumpamaan. Seperti tahun ini contohnya. Masalah yang tidak pernah diduga tiba-tiba datang silih berganti dan belum menemui akhirnya. Banyak siswa/siswi sudah membayar mahal lembaga bimbingan belajar mereka untuk ujian nasional, serta membeli buku-buku latihan soal untuk persiapan ujian nasional tapi hal tidak diduga ternyata membuat semua hal itu percuma dan sia-sia. Ujian nasional ditiadakan. Seperti hubunganmu denganku. Aku mati-matian mengerahkan segala usaha dan perjuangan eh ternyata kamu pergi begitu saja. Percuma, sia-sia. Aku menyayangkan waktuku, yang sudah terbuang cuma-cuma untuk terluka denganmu.
Dulu kukira aku sudah tahu banyak hal tentangmu, namun ternyata tak sebutirpun aku tahu. Mungkin hanya 0,50% yang aku tahu. Setelah dirimu pergi, aku paham ternyata memang keinginanmu tidak berbagi kisah denganku. Jangankan membuat kisah denganku, kisah hidupmu saja tidak ingin kau ceritakan padaku. Duh, bodohnya aku.
Coba kapan-kapan menulislah. Tulislah sesuatu dengan jujur apa-apa yang sedang terjadi, apa yang sedang mengganggu dan apa yang ingin kau benahi. Yakinlah ada salah satu yang selalu bisa kau benahi. Karena tak semuanya serta-merta bisa dihancurkan begitu saja dan tidak semua hal bisa dengan cuma-cuma kehilangan arti begitu saja.
Aku dan dirimu sudah banyak berjuang untuk kita pada waktu itu. bahkan sebelum pertemuan kita sekalipun. Bukankah kau sudah merasakan sebuah kehilangan dan dihilangkan yang membuatmu tak ingin merasakannya dua kali. Harusnya, dulu sebelum kau mencoba menelaahku, kau harus mengkaji dirimu sendiri. Sesudah itu, mungkin kau baru tahu sebesar apa harapan yang harus kau berikan atau bahkan yang sudah kau berikan padaku. Agar di akhir aku tak merasa dikecewakan seperti itu. sekarang aku sadar, waktu itu aku tak bersalah soal harapan. Karna dirimu yang mengumbar harapan, karena aku hanya menangkap apa yang kau layangkan.
Lagi pula aku kira karena sebelum pertemuan kita kau telah merasakan kehilangan dan dihilangkan kau tidak akan mungkin ingin merasakannya dua kali. Tapi ternyata aku salah, kau ingin merasakannya sekali lagi. Iya kau yang kehilangan, bukan aku. Karena aku dihilangkan olehmu, dan kau yang akan merasakan kehilanganku. Kau akan mencari-cariku diwujud orang lain. Iya aku, yang dulu kau anggap lukisan minyak berpigura cantik yang kau paku di dinding kusammu itu sampai kau bosan dan menggantikanku dengan yang lainnya.
Kita adalah aku dan kamu, kedua tokoh yang tidak se-alur cerita, seharusnya. Namun terpaksa untuk diuji cobakan. Sayangnya, akhirnya tetap sama. Sebuah kata gagal. Hingga naskah kita diarsipkan. Tak layak, karena kita gagal. Kini, kau tokoh utama pada ceritamu dan tanpa aku. Begitu juga aku, aku sebagai tokoh utama dinaskah hidupku dan lengkap tanpamu. Lagi pula, percuma sebuah cerita dirancang dengan banyak teka-teki namun tak memiliki akhir sebagai jawaban. Cerita itu hanya seperti roda yang terus berputar dan tidak memiliki tempat perhentian. Sepeda yang remnya blong. Lalu harus ditabrakkan agar berhenti. Seperti itu aku dan dirimu, dulu.
/Bie/
Tags:
prosa

8 komentar