LETTER 3 : Masa Lalu Memang Selalu Bisa Jadi Cerita
Halo perkenalkan saya Ali Mustofa. Dipanggil rakyat dengan nama Ali. Dipanggil oleh pacar sayang. Eh ga punya ding hehe. Soalnya udah pisah, nah disini nih saya mau ceritain pengalaman kedua pacaran saya. Kenapa yang kedua? Soalnya yang pertama tidak banyak cerita yang bisa diceritakan. Kata orang cinta pertama sulit dilupakan saya rasa tidak juga. Mumpung bisa numpang blog orang lain hehe jadi gapapa lah yaa berkolaborasi ceritanya hehe. Emang bener kata seseorang “Otak manusia itu sangat mengagumkan, dari sejak dilahirkan otak bekerja non stop 24 jam. Saat tidur, pingsan, bahkan koma sekalipun otak terus-menerus bekerja, sampai kemudian berhenti saat merasakan jatuh cinta”. Ini relate banget sih sama cerita cinta saya. Jadi silahkan simak yaa.
Bermula saat memasuki dunia SMK, yang disebut cinta pandangan pertama tuh emang ada beneran ya. Saya pikir hanya kata alay seperti di ftv-ftv pagi. Waktu berkenalan, ada satu orang yang manggil nama saya paling nyeleneh. Saya dipanggilnya “Alay”. Dia cukup cantik, baik, dan perhatian. Membuat saya merasa ohh wanita ini sepertinya harus jadi pacar saya. Eh cepet banget yaa hehe, yaa gitulah ada satu lain hal yang membuat saya segitunya berhalu waktu itu. Tapi apa daya, saya seorang perokok, dia tidak suka asap rokok. Saya pecandu alkohol, apalagi dia mana mungkin suka. Yahh cuma jadi angan-angan bagi saya untuk bisa berpacaran sama wanita baik ini. Kehidupan SMK masih terus berjalan sampai ketika sudah masuk di bangku kelas 11 ada praktek kerja lapangan nih. Tempatnya semua beda-beda. Kebetulan saya dan wanita ini tempatnya yahh cukup dekat, kurang lebih 5 Km. Dekatlah, kan bucin hehe. Saya berusaha untuk terus dekat sama si wanita ini, sampai suatu hari dia bilang dia ga suka bau rokok. Oke, karena saking inginnya saya berpacaran dengan wanita ini saya memutuskan untuk berhenti rokok. Lama-kelamaan kebiasaan saya minum alkohol juga berhenti. Ketika semua udah dituruti saya berkabar via pesan singkat “Aku udah berhenti rokok, minum juga udah, sekarang gimana?” tanyaku. “Yahh terserah kamu, aku bingung mau nerima kamu apa engga” jawabnya singkat kemudian off. God damn u. Pikiran kembali kacau. Gak ada yang bisa buat tenang selain rokok sama minum. Yauda akhirnya ngulangin lagi. Berpikir pasrah. Ohh yauda dia kayaknya gamau, “mundur aja mas” teriak hati.
Kemudian suatu ketika temennya bilang “dia loh sebenernya suka sama kamu tapi masih belum yakin, takut kayak dulu dia ditinggal”. Sedikit harapan muncul. Tugas saya cukup meyakinkan dia bahwa saya ini layak buat jadi pacarnya. Urusan berubah jadi lebih baik kita atur sama-sama, begitu pikirku yang ternyata seirama dengan pikirnya. Hari berlanjut sampai kelas 12 SMK saya baru berpacaran. Masih ingat tanggalnya dan jamnya. 16 Agustus 2019 pukul 18.55 WIB. Iya malam sebelum hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Wahh masih belum lupa tuh gimana bahagianya, ketawa ketiwi berdua. Yahh sepertinya kalian juga pernah ngerasain lah ya. Nahh waktu pacaran itu bener-bener saya udah berhenti sama rokok sama minum alkohol. Beneran berhenti. Karena dia. Bucin ga sih? Gatau ya, saya rasa tidak sebab kita cinta bukan? Oke. Jam terus berputar, hari silih berganti. Berpacaran membuat jenuh ya? Tapi suka hehe. Berpacaran membuat sedih ya? Hidup emang gitu, hari ini sedih yah suatu saat pasti bahagia bukan. Semua sama aja kalau kita hidup. Kalau mau tenang ya mati aja, itupun ga selalu juga.
Cinta itu emang rumit, ga selalu berjalan mulus. Iya ga semua bisa dipertahankan terlebih kami yang sama sama emosional. Lebih tepatnya saya. Sedih suka dipendam sendiri, kemudian cuek sama sekitar. Yah memang salah saya. Sampai akhirnya kami benar-benar berpisah. Sepertinya berpisah kurang pas kalau disini, lebih tepatnya tidak lagi bersama. Eaa hehe. Yahh seperti itulah kehidupan. Tiap awal membutuhkan akhir, tiap yang bernyawa pasti mati, tiap yang bertemu suatu saat berpisah. Entah itu baik atau buruk tapi dunia nyatanya seperti itu. Entah itu adil atau zalim tapi tuhan menggariskan seperti itu. Layaknya saya yang menganggap dia awal dari semua perjalanan cinta. Dia bilang waktu itu saya adalah akhir dari penantian cinta. Ternyata tipuannya sebagus itu. Dia mampu merubah hidup saya yang hancur, sekaligus dia juga yang mampu membuat hati saya porak-poranda. Dia hebat, saya yang tidak. Saya yang salah, dia tidak. Dia berhasil membuat perubahan untuk saya, saya yang gagal membuat dia percaya akan perubahan itu. Sekejap dia layaknya dewa, bahkan dewi, sekejap pula saya berharap dia mati. “Aku udah capek” katanya. “Istirahat aja, mau?” saya tanya. “Aku mau semua selesai” katanya. “Kita?” tanya saya sambil menghisap rokok dalam dalam. “Iya, aku capek, kamu bilang ga akan ngerokok, kamu bilang udah berhenti minum, kamu bilang kamu ga suka dibohongi, tapi nyatanya, bajingan kamu.” katanya tegas dengan mata memerah menetes air lalu pergi. Saya diam, teman-teman yang melihat juga. Iya, itu perpisahan. Itu terakhir kalinya kami berhubungan, setelah itu semua yang dia tahu tentang saya dihapus begitu saja tanpa ragu. Saya biasa saja, pada awalnya. Kemudian dia mencari yang baru. Saya sebenernya tahu, hanya saja ini semua salah saya jadi lebih baik memilih untuk tak berbicara. Barusan saya tau ternyata kepunyaannya yang baru tidak sebaik saya. Bahkan lebih menyakitkan kata temannya. Ahh seperti itulah cinta. Berjumpa kemudian cinta. Cinta kemudian bersama. Bersama kemudia berpisah. Berpisah kemudian saling lupa. Sialan kau cinta!! Tidak baik mengutuk cinta sebab ia tak salah. Yang salah kita, iya kita. Yang membuat kita terluka adalah kita yang terlalu berekspektasi pada manusia.
Tapi “Tidak peduli sudah berapa lama kalian tidak bersama, tidak peduli sudah sejauh apa kalian tak lagi saling sapa, ia akan tetap mencintaimu. Selalu ada satu tempat khusus dihatinya untuk namamu. Dia terus berkata kepada teman-temannya jika tanpamu ia baik-baik saja. Tapi sebenarnya, ia tidak.” begitu katanya Brian Khrisna. Jadi tidak usah saling menyalahkan, cukup jadikan pelajaran. Toh kita bisa cari yang baru, sesimple itu ibaratnya berkata. Saya pun juga mencoba mencari yang baru waktu itu, ketemu juga tapi yaah masih belum bisa lupa sama si wanita ini, jadi tidak bisa lagi dilanjutin deh. Gitu sih ceritanya. Cuma nitip pesen aja gapapa ya barangkali dia atau temennya lihat. “I'm sorry to disappoint u but we all grow up and we change from time to time”
Oke sekian dari saya, terimakasih semoga banyak yang lihat eheh.

0 komentar