Ayah, Aku Kangen




Kalau kata-kata via sosmed, "ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, dan pahlawan super anak laki-lakinya." 


Aku pun sebenarnya begitu. Sebenarnya. Tapi akhirnya aku ingin merubah itu semua menjadi, "ayah adalah luka terbesar pertama yang diberikan Tuhan kepadaku, ayah adalah cobaan disetiap langkah hidupku. Ayah adalah tantangan menakutkan disetiap pilihan yang akan aku ambil. Ayah.. ayah adalah orang yang membuatku tumbuh kuat dengan banyak luka, orang pertama yang berhasil menyakitiku dengan sangat. Orang pertama yang membentakku sebelum dunia yang sebenarnya menamparku. Laki-laki pertama yang menempati hatiku lalu menanamkan mawar berduri disana. Laki-laki yang memberitahuku bahwa lebih banyak laki-laki yang akan tidak beruntung mendapatkan seorang perempuan sepertiku. Namun ia juga seseorang yang dulu pernah pertama kali melangkahkan kakinya untuk membelaku ketika seseorang menghinaku. Seseorang yang pernah setia menggendongku kemanapun aku ingin. Laki-laki yang pernah merengkuhku dalam hangat pelukannya saat aku tidak bisa tidur sewaktu kecil. Laki-laki pertama yang pernah aku banggakan kepada teman-temanku karena selalu memberikanku barang-barang aneh yang aku minta seperti 'permen barbie'. Juga laki-laki pertama yang membuatku jatuh hati lalu mematahkannya sebegitu sakitnya."

Mengapa ayah selalu mendiamkanku?


Apa ayah sekarang membenciku?


Mengapa ayah tidak menginginkanku lagi, mengapa ayah ingin aku tidak ada di dunia lagi?


Ayah sudah bosan memiliki anak sepertiku?


Ayah, beri aku penjelasan aku mohon. Sudah lewat banyak tahun ayah melewatkan penjelasan itu.


Ayah, aku mohon...
Aku butuh penjelasan, atas semua ini.
Bukankah aku juga berhak mendapatkan penjelasan disini? Atau mungkin, karena aku nakal ayah jadi berubah? Atau karena aku tidak pintar seperti anak-anak teman ayah? Atau karena aku tidak sebaik mereka yah? Ayah beri aku penjelasan, jangan biarkan banyak pertanyaan muncul dengan seenaknya di benak dan pikiranku. Aku lelah menyimpannya selama bertahun-tahun. Aku ingin jawaban secepatnya. 
Maafkan aku egois seperti ini, menuntut ayah bisa menjelaskan semuanya. Tapi, bukankah disini ayah yang terlalu egois? Menjauh, lalu tiba-tiba berubah dan tidak memberiku ruang untuk bisa bertanya secara langsung? Mengertilah ayah, anakmu juga butuh penjelasan.


Ayah, aku rindu semuanya. Aku rindu kenangan masa kecilku, aku rindu candamu yang bisa menghiburku.
Ayah, aku muak dengan semua amarahmu. Aku lelah menerima bentakkan dan gertakan darimu. Ayah, aku sedih melihatmu tidak seperti dulu lagi. Aku lemah, melihatmu bertengkar dengan ibu hanya karena masalah-masalah ringan yang seharusnya tidak dibesar-besarkan namun malah diisi dengan banyak teriakan dan makian.


Semoga suatu saat, ayah mengerti. Aku menunggu ayah memberiku penjelasan. Tolong aku yah, karena makin lama rasa sayangku bisa berubah menjadi benci kalau ayah tetap seperti ini. Aku memanglah hanya seorang anak, tapi aku juga akan tumbuh dewasa. Mungkin dulu aku berpikir ayah lelah pulang kerja, jadi ayah emosi. Tapi makin lama, aku bertumbuh dewasa. Ini tidak masuk akal lagi.


Ayah.. kalau aku disini meminta penjelasan sebesar bulan, tak apa kau hanya memberiku jawaban sebuah bintang.


Kala air mataku telah menangisimu seluas danau, aku harap ayah mampu memelukku seperti jagat raya memeluk bumi kecilnya.


Saat aku menunggu penjelasanmu bertahun-tahun, aku harap ayah bisa menemaniku selamanya.


Ayah, aku kangen.


/Bie/

Tags:

Share:

2 komentar