Terentang
Kala dulu masih jadi satu
Mengapa tak kau eratkan saja
pegangan tanganmu
Kini saat tak lagi padu
Kau paksakan untuk menggapaiku
Tidakkah kau tahu?
Kau bukan lagi seseorang yang ku tunggu untuk
kata temu
Biarlah kau berakting seolah sedang lenguh
Agar kau tau bagaimana dulu
Betapa lengahnya aku
Yang pernah seolah perlahan lumpuh dimakan
waktu
Sudah ku abaikan riuh rindu
Sikapmu telah jadi penentu
Bagaimana hubungan kau dan aku waktu itu
Pikiranku melayang-layang
Hatiku mencari bagiannya yang tak utuh
‘halo
sayang,
Mengapa
seakan hanya aku yang sendu dan merasa pilu?’
Tiap kali aku menulis puisi
Semuanya itu masih tentangmu
mungkin seperti ini rasanya merayakan
kesendirian seorang diri
menenun sisa-sisa rasa pada tiap goresan
penaku
berharap dilain waktu aku membacakannya
untukmu, mimpi
waktu semata-mata memakan habis kita
dulu bersatu
kini terpisah
nanti tak tahu
tak apa kita terentang, benar tak apa
dan akupun tak ingin bertanya-tanya
semata-mata sedang ada yang mencobai kita
dengan kata pisah
aku tak tahu apakah ini sekedar lelucon
belaka
atau nyata
lagi pula spasi memang tak salah
bila tak berjarak kalimat tak akan sempurna
bila berjarak luka milikku sempurna
hanya aku, tak mungkin kau juga
tak mungkin kita
/bie/
Tags:
puisi


1 komentar