LETTER 1 : “KALAH”

Teruntuk : Reza (disamarkan)


Hai Reza, bagaimana perjalananmu menuju pulang? Ah aku rasa kau pasti baik baik saja. Tapi za, ada sebagian dari perasaanku yang tak pernah kau ketahui, jadi begini.

Aku kalah za, mengenalmu ternyata berujung kekalahan. Aku menyerah setelah sebelumnya kau buat patah.

Besok-besok kalau hatimu tak pernah ingin menetap, bilang ya, biar aku tidak perlu menyiapkan rumah yang hangat, biar cukup remah-remah biskuit saja.

Kau tau tidak? mengenalmu aku menekan dengan berani egoku.

Memangnya kamu siapa? berani mengatakan cintaku hanya permainan?

Dilembah penuh ilalang, asal kau tau, aku mampu dengan hebat menujumu. Sayang sekali, yang kau pilih malah perempuan lain dengan hati setengah mati. Tapi mungkin memang begitu, laki laki selalu singgah lalu pergi meninggalkan hati remuk dan harapan setengah jadi.

Terima Kasih za, mungkin memang begini adanya, ternyata jinggamu tak pernah mampu menjadi warna untuk senjaku.

Tak kan pernah za aku menyalahkan diriku atas gagalnya kisah ini, sebab kau sendiri yang membiarkan semuanya hancur tak terperi. Jingga memiliki banyak arti za, dan kau adalah makna paling menyakitkan untuk dijelaskan.

Sekali lagi kau membuatku faham bahwa mengatakan memiliki tujuan bersama tidak selamanya memiliki jalan yang sama. Kamu hebat za, baru berapa lama kau singgah, duduk bersamaku, tertawa dan sedikit bercerita namun sudah membuatku jatuh cinta.

Lalu, iya. Aku yang bodoh, aku tau kau akan pergi. Karena dari awal pun tujuanmu memang bukan aku. Selalu ada perempuan lain yang hatinya kau jaga hebat. Selalu ada hati lain yang kau sebut rumah. Gadis lain yang kau jadikan tujuan pulang.

Dan dia sudah pasti bukan aku.

Terima kasih za, andaikata kita akan bersua lagi, kuharap semua lukaku hari ini telah membaik, dan hatiku sudah berhenti mengutuki semesta karena menemukanmu denganku.

Sampai jumpa za, selamat pulang. Ku harap apapun yang sekarang telah kau ketahui, kau simpan rapat rapat, karena kau tau, kau pun akan selalu ada dalam setiap cerita jatuh cinta serta kehilanganku.

Dari yang telah patah,

Daun Lalu


/Bie/

Share:

3 komentar