Akhirnya
Dulu aku dan kamu memang sudah bukan
kita tentang apa yang disebut ‘kekasih’. hey, kita tetap teman. Seorang teman ada untuk temannya, walaupun tak berjanji untuk
selalu ada. Jangan sungkan.
Sudahlah, masalah yang dulu jangan
kamu ungkit lagi. Itu sudah lama terjadi, aku sudah memaafkan semuanya. Jangan.
Jangan lagi buka semua luka itu. Aku sudah merasa cukup baik dengan status pertemanan kita.
Cukup bersyukur, dulu kamu yang pernah
mewarnai kelamnya hari-hariku yang abu-abu sebelum sesudahnya kau menghapusnya.
Hariku yang sempat berwarna, kembali abu-abu lagi saat kau bicara ada yang kau cintai lebih
dari aku. Seharusnya, kau katakan saja padaku jika ingin mengakhiri semuanya
dan pergi. Seharusnya, seharusnya. Dalam nama Tuhan aku akan belajar ikhlas,
jika caramu waktu itu tidak dengan memberi bom atom pada lubuk hati ini.
Walaupun sebenarnya itu juga sama lukanya, tapi juga tidak akan sesakit waktu
itu dengan caramu memberiku kejutan tak terduga seperti itu. Caramu lebih
menyakitkan dari yang aku bayangkan. Bahkan aku belum sempat mengambil
ancang-ancang.
Kau
telah berhasil memporak porandakan hati yang sudah ku tata rapi.
Sudah-sudah,
cukup membahas masa lalu denganmu. Semoga hubunganmu dengan perempuan yang
katamu lebih kau cintai daripada aku itu langgeng. Semoga dia juga tidak
merasakan sakitnya diberikan kejutan yang tak terduga olehmu. Semoga cukup aku,
yang sudah kau khianati hatinya. Yang terakhir, semoga selalu berbahagia.
Kita
tetap teman. Bersikap baiklah karna akupun sudah berbaik hati padamu. Ingat,
kita tetap teman.
Tags:
prosa

2 komentar