Bagaimana Kalau Kamu?

Namanya juga belum mau ku sebutkan dalam teks ini seperti pada postingan sebelumnya, takut kalian mencari tahu tentangnya, lagi pula belum ada nama yang pas untukmu. Bagaimanapun tentangnya selalu ku jaga, walaupun selalu ada kurangnya juga. Sebenarnya sudah dari dulu aku ingin menulis tentangnya. Tapi ada juga yang membuatku berhenti di tengah-tengah. Menulis tentangnya adalah tantangan karna tak banyak ia bercerita tentang dirinya dan apapun yang berkaitan tentang dirinya.

Sejak setahun yang lalu ingin aku menjaganya, jauh dari apa yang akan menyakitinya. Mungkin itu sebabnya aku sering memaksanya bercerita tentang dirinya. Memaksa mungkin kata yang tepat. Karna aku tahu, kamu tempe. Bercanda. Karna aku tahu, kamu bukan orang yang mudah menceritakan semuanya. Kamu lebih suka menyimpannya sendiri.

Kamu pribadi yang aku tahu selalu menjaga perasaan orang-orang terdekatmu. Apapun masalahnya. Kamu suka mendol, makanan yang terbuat dari tempe atau kedelai yang dihaluskan bersama rempah-rempah dan cabe yang di kepal-kepal berbentuk lonjong lalu di goreng. Kamu atlet taekwondo, olahraga yang kamu tekuni dengan niat dan tekad.

Sesulit apapun keadaanku saat ada masalah, memanggilmu atau mengetikkan namamu di ruang obrolan kita sudah membuatku lega hati. Jadi maafkan aku, jika terkadang aku memanggilmu tanpa memberitahu sebabnya. Apalagi kalau aku sudah mengirimimu pesan dengan jumlah yang banyak. Tapi seringkali juga aku bingung bagaimana caranya bercerita padamu, sosial media tempatnya salah paham. Karna apapun yang kita kirimkan dengan maksud kita, bisa saja ditangkap dengan sudut pandang yang berbeda. Aku takut kita salah paham. Hal itu sudah terlalu sering terjadi pada kita. Bisa saja merugikan perasaanku ataupun juga perasaanmu, dan aku tidak mau. Aku tidak mau kita bertengkar dan tak saling bertukar pesan selama beberapa hari.

Tentangmu, selalu ku lakukan dengan hati-hati. Aku hanya menjaga semuanya dengan baik, agar hubungan yang sudah baik tak rusak hanya karna setitik kesalahan.

Kalau rindu, kirim pesan yang banyak. Panggil nama satu sama lain. Pakai emotikon “:’)” . Aku sampai hafal, saking seringnya. Kalau rindu jarang bilang, yang benar katanya langsung “memanggil”. Katamu begini, “kalo kangen ya memanggil dong”. Paham tidak? Kalau tidak ya sudah, biar untuk yang mengerti saja. Tapi, kalau kamu biasanya langsung memanggil secara mendadak. Jadi sering tidak terjawab. Maaf ya.

Pada setiap momen yang tepat pula, aku selalu ingin memotret dirimu yang langka. Seperti tampil di panggung dan membawa gitar misalnya, keren. Kamu itu punya potensi, kamu hanya sedikit malu dan banyak ragunya. Tak hanya fotomu, tapi aku juga menyimpan foto kamu dan aku. Kita berdua. Bagus sekali, aku suka.

Tentangmu sahabatku, aku selalu ingin seperti ini. Karena jika lebih, kita sama-sama takut saling hilang dan pergi. Ini bukan sebuah pengalihankan? Kita memang seperti ini, kamu yang memulainya.

Semoga selamanya, tidak hanya jadi sekedar kata tapi jadi sesuatu yang nyata.

Terkadang merindukan dirimu yang dulu, tapi tiap putaran waktu selalu membawa perubahan pada diri kita yang mau tak mau harus kita terima. Entah dengan diri kita sendiri, atau bagaimana orang lain kepada kita. Untukku, bisa mengenalmu adalah hal baik. Aku mendapatkan seseorang yang baik dan menerimaku. Tak penting bagiku orang lain memandang kita seperti apa, satu hal yang penting adalah kamu percaya dan lebih mengerti kita seperti apa.

Jangan lagi mengadu kamu kecewa karna orang yang kamu sukai ya? Karna aku bisa jadi yang paling dulu maju, untuk mempertanyakan dan memperjelas semuanya.

Intinya, aku percaya kamu adalah kawanku yang baik. Kamu adalah laki-laki yang menjaga sahabatnya. Kamu mungkin terlihat acuh tak acuh, tapi sebenarnya kamu peduli.

Aku sadar yang tampan tidak akan selalu jadi gebetan dan pasangan. Yang menawan juga tidak selalu jadi pria dambaan. Karna menurutku, bisa bersama dan menceritakan semuanya tanpa sungkan padamu yang tidak akan pernah aku anggap hilang adalah sesuatu yang aku anggap menyenangkan dan akan aku jaga.

Bagaimana kalau kamu?

Tags:

Share:

1 komentar